Connect with us

FESTIVALAND

Sanggar Matahari Berkesenian Hingga Luar Negeri, Berharap Budaya Banjar Lestari

Diterbitkan

pada

Penampilan Sanggar Matahari di FESTIVALAND 2018 di lapangan Murjani Banjarbaru. Foto : Mario

Sanggar Matahari berisi anak-anak muda milenial kreatif punya keinginan budaya Banjar lestari. Komunitas seni ini dipercaya membahas perkembangan seni musik panting di hari kedua FESTIVALAND di lapangan Murjani Banjarbaru, Sabtu (17/11).
Sanggar Matahari berasal di Martapura, Kabupaten Banjar, terbentuk pada tahun 2003. Bermula dari sekumpulan 10 orang, Sanggar Matahari kini sudah mempunyai sekitar 500 anggota.

Muhammad Nur, salah satu pendiri Sanggar Matahari ia dan kawan-kawannya berinisiatif membuat suatu komunitas yang sekarang dikenal sebagai Sanggar Matahari sebagai wadah berekpresi di kesenian. Sanggar Matahari berdiri tepatnya tanggal 28 Oktober 2003.

Muhammad Nur yang punya latar belakang guru pendidikan Biologi bercerita, sejak SMP ia sudah menyukai kegiatan berkesenian seperti menari dan bermain band. “Sekitar tahun 1998 sudah mulai menari, main alat musik, akustik, dan panggung,” katanya.

Bahkan, Sanggar Matahri sudah pernah pentas hingga Malaka, Malaysia pada tahun 2009 dalam Rampak Gendang Nusantara. Sanggar Matahari waktu itu diundang sebagai pengisi acara dan tampil di depan Raja Malaka. Sanggar ini selain mewakili Indonesia, tentu juga membawa baik nama Kalimantan dan Kabupaten Banjar.

Tidak hanya sampai disitu, tahun 2011 Sanggar Matahari pernah melancong hingga ke Amsterdam, Belanda, bersama Kesultanan Banjar. “Kami waktu itu sebagai duta wisata, menampilkan tari-tarian, musik panting, dan lagu-lagu Banjar,” cerita Muhammad Nur.

Sanggar Matahari punya filosopi tersendiri dari logo mereka yang berbentuk matahari dan di dalam matahari tersebut ada rumah Banjar, intan, dan jukung. “Mataharinya ada 28 pancaran. Itu melambangkan tanggal lahirnya pada 28 Oktober, bertepatan Sumpah Pemuda,” jelasnya.

Untuk lambang intan sendiri, mempunyai arti dari ciri khas kota tempat sanggar mereka berada yakni Martapura dikenal sebagai kota penghasil intan. Pancarannya melambangkan daerah Martapura penghasil intan. Sementara Rumah Banjar melambangkan tempat asal mereka yakni Kalimantan Selatan, serta jukung yang diartikan agar sanggar mereka selalu mengayuh bersama-sama melestarikan kebudayaan.

Muhammad Nur mengaku, jika ada anak muda yang serius belajar alat musik panting, setidaknya perlu waktu sekitar 6 bulan untuk bisa menguasainya. “Yang penting niat dulu. Sekarang mudah loh, kita dibantu media sosial dan teknologi. Cuma yang namanya belajar itu perlu guru dan proses, paling tidak satu tahun atau enam bulan. Ibarat buah itu sudah matang,” jelasnya.

Panting sendiri adalah alat musik petik tradisional Banjar. Muhammad menyebut, alat tradisional dan alat tradisi adalah dua hal yang berbeda. Untuk alat tradisional panting sendiri, filosofi namanya berasal bunyi ‘ting’ setelah alat itu dipetik. Alat musik panting ini dikembangkan di daerah Barabai oleh almarhum Datu Mangku Adat Astaprana Abdul Wahab Sarbaini pada tahun 1965 hingga saat ini. “Tentunya alat musik ini berkembang tidak lepas dari jasa beliau,” Muhammad Nur menambahkan.

Bagi anak-anak muda yang mau belajar alat musik panting tidaklah sulit, karena nada-nadanya hampir tidak jauh berbeda dari nada gitar. Ia berharap agar seni dan budaya Banjar terus berlanjut dan anak-anak muda semakin mencintai budaya Banjar.

“Budaya Banjar tetap lestari dan dicintai, bukan hanya sebagai persembahan penampilan di acara-acara formal,” harapnya. Muhammad Nur agar pemerintah, masyarakat, dan semua komponen ikut serta.

Agar musik tradisional ini bisa berimbang dengan musik modern tentunya diharapkan agar anak muda diberi banyak kesempatan, ruang dan waktu untuk berkembang. “Yang jelas, anak muda itu perlu dukungan orang tua. Itu tugas kita semua untuk selalu melestarikan seni dan budaya,” pungkas Muhammad Nur. (mario)

Reporter : Mario
Editor : Abi Zarrin Al Ghfari

Bagikan berita ini!