Muhammad Darian Halim, Anak Berkebutuhan Khusus yang Jago Main Biola - Kanal Kalimantan
Connect with us

Kota Banjarmasin

Muhammad Darian Halim, Anak Berkebutuhan Khusus yang Jago Main Biola

Diterbitkan

pada

Rian, remaja berkebutuhan khusus yang mahir main biola Foto: Mario

BANJARMASIN, Muhammad Darian Halim adalah seorang anak berkebutuhan khusus yang tampil memukau dengan biolanya pada Hari Disabilitas Internasional (HDI) yang diadakan di siring depan kantor Walikota Banjarmasin, Minggu (2/12) pagi. Dengan membawa lagu Meraih Bintang-nya Via Vallen, remaja 15 tahun yang bersekolah di SMKN 2 Banjarmasin ini suskes tampil dengan ditemani Walikota Banjarmasin Ibnu Sina disebelahnya saat tampil di depan orang banyak.

Menurut ibunya, Desi, Rian—biasanya dipanggil—masih belum lancar berbicara pada usia tiga tahun. Tidak seperti anak-anak lain seusianya. Hal ini membuat orangtua Rian membawanya ke dokter anak . “Dia cuma sering narik tangan, sering nunjuk, dan mangggil ‘mama-papa’. Dokter anak cuma bilang dia terlambat bicara,” terang Desi.

Sejak itu Desi mulai membawa Rian untuk terapi bicara. Keterangan dokter mengenai speech delay-nya Rian ini tidak memuaskannya. Ia pun melanjutkan dengan membeli sebuah buku milik Dr. Handoyo. “Terus saya baca, cara-cara mendidik anak yang seperti Rian.”

Rian sendiri ketika diajak berkomunikasi enggan untuk melakukan kontak mata, sulit berinteraksi sosisal, dan sering asik dengan dunianya sendiri.

Desi menambahkan bahwa ia memerlukan waktu dari Rian berusia tiga hingga empat tahun dalam mendidik agar anaknya ini bisa duduk tenang dan menyahut ketika dipanggil. Memasuki usinya yang kelima, Rian sudah mulai bisa berbicara untuk meminta makan atau minum susu kepada orangtuanya.

Memasuki usia sekolah dasar, orangtuanya sepakat untuk menyekolahkan Rian di salah satu sekolah berkebutuhan khusus, Harapan Bunda. Lalu saat memasuki jenjang SMP, ketika mereka melihat Rian sudah bisa membaca, menulis, mengikuti pelajaran dengan baik, Rian pun dimasukkan ke sekolah insklusi di Banjarmasin. “Allhamdulilah, selama (Rian) belajar di sana, kata guru-gurunya bagus aja,” ungkapnya.

Jika dilihat sepintas, Rian nampak biasa saja. Namun dibalik itu semua, Desi sebagai orangtua mengakui bahwa perlu kedisiplinan yang lebih dalam hal mendidiknya di rumah. Anak berkebutuhan khsuus seperti Rian, bukan ia fokuskan dalam hal belajar akademis tapi lebih fokus pada kemandiriannya seperti toilet training, bagaimana agar dia bisa melakukan buang air atau mengganti bajunya sendiri. “Sama pendidikan agama yang sata utamakan” ungkapanya.

Meskipun kakak dari seorang adik perempuan yang bernama Kamila Fitriani (9) ini selalu nampak seperti anak yang sering tidak memperhatikan, tapi mengenai kedisiplinan jadwal dan waktu, ia adalah anak yang paling tepat waktu. Ia selalu konsisten dalam setiap jadwal yang ada dan tidak boleh berubah. Jika berubah, Rian pasti gelisah bahkan marah terang ibunya.

Anak berkacamata ini lahir 4 Mei 2013 di Banjarmasin dan bagi Desi masa paling susah melatih anaknya ini adalah ketika di bawah usia tujuh tahun, di mana Rian masih hiperaktif. “Itu perjuangan sekali. Dia dikasih buku, robek. Dikasih pensil, buang. Tidak semudah (mendidik) anak biasa lah,” terangnya.

Sejak memasuki SMP, di sinilah ibunya Rian mencoba melatih anaknya untuk berlatih biola. Namun, tidak mudah bagi ibu Rian untuk meyakinkan orang-orang agar mau melatih ABK seperti Rian. Banyak guru yang “menolak” dan mengatakan kepada orangtua Rian bahwa dalam menggesek biola pun Rian tidak mau.

Namun, ibu Rian tidak pernah menyerah dan tetap berusaha meyakinkan agar Rian tetap dilatih bermain biola. Hasilnya, hampir tiga tahun sudah Rian belajar biola dan kini sudah banyak menghafal banyak lagu dan tampil di berbagai kesempatan.

Selain tampil bermain biola, Rian juga mengikuti lomba fotografi yang masih diadakan dalam rangka HDI ini. Dalam kesempatan yang sama, Roni Hersandi, ayahnya Rian berbagi cerita bahwa ia tentu mengalami banyak suka dan duka dalam hal mendidik Rian. “Tapi lebih banyak sukanya, Allhamdulilah,” ungkapnya.

Sebagai orangtua, Roni mengaku bangga dan sangat memberi apresiasi melihat anaknya bisa dipercayakan untuk tampil di perayaan HDI. Ia juga sangat mendukung anaknya dan mengaku tidak mau mengekang bakat yang dimiliki anaknya.

Roni juga menambahkan bahwa Ibnu Sina sudah bertemu langsung dengan Rian dan menyampaikan kebanggaanya dan berharap agar Rian tetap rajin belajar dan terus mengembangkan minat dan bakatnya.

Melihat Banjarmasin yang sudah mempersiapkan kotanya menjadi kota inklusi, Roni sebagai orangtuan dari seorang ABK mengaku sangat mendukung upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah kota.

Kedua orangtua Rian ini hanya menambahkan agar dalam praktek nyatanya, masyarakat bisa lebih sadar agar tidak memandang sebelah mata ABK seperti Rian dan kaum penyandang disabilitas lainnya.

Orangtuan Rian juga berpesan agar orangtua di luar sana jangan malu punya anak difabel. Selalu berikan pendidikan yang sebaik-baiknya. Karena pendidikan yang terbaik itu hampir 90 persen berasal dari lingkungan keluarga dan rumah. “Kita harus bangga dan mengakui kalau memang dia dilahirkan berbeda, tapi Allah mempercayai kita. Itu tandanya kita diberi kemampuan untuk mendidiknya.” (mario)

Reporter: Mario
Editor: Chell

Bagikan berita ini!