Connect with us

HEADLINE

Menembus ‘Tol Baru’ Poros Awang Bangkal, Banjar-Km 52 Mentewe, Batulicin (Bagian-3)

Biaya megaproyek ‘tol baru’ poros Awang Bangkal-Batulicin sepanjang 164,5 Km diperkirakan bakal menyedot angka Rp 10,24 triliun. Estimasi itu meliputi detail engineering design (DED) dan pembangunan konstruksi.

Bagikan berita ini!
  • 8
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares

Diterbitkan

pada

Jalan poros Awang Bangkal-Batulicin. Foto : bie

Abi Zarrin Al Ghifari, Awang Bangkal-Batulicin

Proyek mercusuar Paman Birin cum Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor dalam pelaksanaannya dibagi menjadi tiga segmen, segmen Awang Bangkal (Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar) ke Sumber Baru (Kecamatan Sungai Pinang-Kabupaten Banjar). Segmen dari Sumber Baru ke sungai Tamunih (Tanah Bumbu), dan segmen sungai Tamunih ke Km 52 Mentewe (Tanah Bumbu).

Bappeda Kalsel menyebutkan progres jalan poros Awang Bangkal-Batulicin, pada tahun 2017 sudah diawali studi DED. Pada tahun 2018 kemarin, dilakukan pembebasan lahan dan dimulai pembangunan konstruksi. Sehingga pada tahun 2019 mendatang diharapkan jalan sudah bisa fungsional.

Saat Kanalkalimantan menembus ‘tol baru’ ini, setidaknya mendapati ada tiga aliran sungai besar yang melintang di poros Awang Bangkal-Km 52 Mentewe, Batulicin ini. Titik aliran sungai pertama berada di desa Sumber Baru, Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar. Poros baru di titik ini terputus oleh aliran sungai Riam Kiwa. Untuk bisa kembali menyambung ke jalan poros ‘tol baru’ harus melewati jalan desa Sumber Baru naik ke Desa Kahelaan, baru bertemu kembali dengan jalan poros ini.

Titik aliran sungai lainnya yang masih belum tersambung berada di sungai Tamunih -wilayah Tanah Bumbu-, sekitar 1 jam ditempuh dari desa Sumber Baru. Setelah sungai Tamunih, Kanalkalimantan mendapati ada lagi aliran sungai paling besar di sepanjang perjalanan dari Awang Bangkal ke Km 52 Mentewe, yakni sungai Kusan.

Di titik sungai Kusan ini lah, Kanalkalimantan menjumpai camp pekerja ‘tol baru’ poros jalan ini. Sejumlah pekerja sempat menceritakan, segmen dari Sumber Baru-Tamunih sudah selesai  dibuka dan jalur poros sudah diberi pengerasan batu.

“Jarak terdekat dari camp sini, ya ke arah Sumber Baru,” kata salah satu pekerja di camp Sungai Kusan.

Salah seorang warga sempat dijumpai Kanalkalimantan mengatakan, sebelum camp Sungai Kusan ini ‘didiami’, para pekerja membangun camp di sungai Tamunih. “Sekarang camp Tamunih sudah ditinggalkan, semua pekerja ada di camp sungai Kusan sini,” kata pria yang mengaku berasal dari desa Atiah, Kecamatan Sungai Pinang ini.

“Sungai Tamunih itu anak Sungai Kusan ini, Sungai Kusan ini berhulu di Emil dan Peramasan ini hilirnya bermuara ke Pagatan,” katanya.

Untuk bisa menyeberang Sungai Kusan yang beraliran deras berwarna kecoklatan ini, pekerja proyek ‘tol baru’ membuat jembatan darurat dari tumpukan kayu-kayu besar. Ada sekitar 15 meter jembatan kayu darurat itu dibangun, dengan ditumpuk material tanah kuning dan batu. Hanya saja, jembatan darurat ini, hanya bisa dilintasi satu arah alias hanya bisa muat satu truk.

“Jembatan itu dibangun untuk melanjutkan pekerjaan ke arah camp Inni Joa,” kata salah satu pengawas proyek berbaju loreng yang dijumpai Kanalkalimantan.

“Itu jembatan (camp Sungai Kusan) sudah beberapa kali hancur diterjang air bah, rasanya sudah tiga kali jembatan darurat itu putus,” ucap lelaki yang mengaku sudah 4 bulan mengawas di lapangan ini.

Masih menurut pengawas lapangan ‘tol baru’ poros Awang Bangkal-Batulicin ini, ujung jalan berada di Km 52 -jalan poros Batulicin-Kandangan-. “Nanti keluarnya ketemu aspal di Km 52, tapi masuk dulu ke jalan perusahaan karet Inni Joa, di sana nanti ada portal security yang harus dilewati,” ungkapnya.

Memang diakui pengawas lapangan ini, rute paling tersulit berada di segmen Sumber Baru-Tamunih. “Banyak gunungnya, turun naik menanjak dan curam, tapi kalua segmen Tamunih ke 52 lebih datar tidak banyak gunungnya lagi,” katanya.

Dari Sumber Baru menuju Tamunih, Kanalkalimantan memang menemui sejumlah jalan menanjak dan menurun dengan kemiringan lebih dari 30-40 derajat. Setelah camp Sungai Kusan, jalur poros ‘tol baru’ ini lebih landai.

Di camp sungai Kusan ini, sejumlah dump truk proyek berpapasan dengan Kanalkalimantan mengangkut material batu untuk pengerasan jalan. Sejumlah alat berat seperti excavator, dozer, roller (alat pemadat) terlihat bekerja.

Jalan poros Awang Bangkal-Batulicin ini berakhir di camp PT Inni Joa Batulicin, Km 52 jalan poros Kandangan-Batulicin. Sebelum keluar dari jalan poros ini, jalan kembali terputus, karena ada aliran sungai masih belum tersambung di wilayah perusahaan perkebunan karet tersebut. Untuk bisa keluar dari jalan poros ini, Kanalkalimantan harus terlebih dahulu memasuki jalan perusahaan perkebunan karet PT Inni Joa. Persis yang diceritakan pengawas proyek jalan poros yang sempat ditemui.

Ketika bertemu jalan aspal poros Kandangan-Batulicin, Kanalkalimantan berjumpa dengan pengendara sepeda motor yang ingin menuju camp PT Inni Joa. Dari informasi pekerja di PT Inni Joa tersebut mengatakan, dari Km 52 Mentewe jarak tempuh ke ibukota Tanah Bumbu harus ditempuh kurang lebih 1,5 jam. “Jalannya sudah aspal mulus, ada beberapa kilometer dari sini yang masih rusak, setelah itu aspal mulus semua,” ujarnya.

Sempat memilih hendak melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Paramasan, Kabupaten Banjar melewati Desa Emil Baru, pekerja perkebunan karet ini lebih merekomendasikan agar turun ke Simpang Batulicin saja. “Lebih jauh mas kalau ke arah Emil Baru terus ke Peramasan sana, mungkin 2 jam lebih lagi baru sampai ke Peramasan, mendingan turun ke Simpang Batulicin lebih dekat,” katanya. Apalagi saat itu sudah menunjukkan pukul 6 sore, Kanalkalimantan akhirnya memilih turun ‘bertemu’ dengan kota Batulicin, ibukota Tanah Bumbu. (bie)

Reporter: Bie
Editor: Chella

Bagikan berita ini!
  • 8
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares
-->