Connect with us

HEADLINE

Kisah Kuda Lumping Marsudi Laras Kotabaru, Menyatukan Perbedaan Suku dalam Seni Tradisi

Diterbitkan

pada

Para pemain kuda lumping dari paguyuban seni budaya Marsudi Laras, Desa Sungai Kupang Jaya. Foto : muhammad

KANALKALIMANTAN.COM, KOTABARU – Marsudi Laras, nama komunitas paguyuban kuda lumping yang ada di Desa Sungai Kupang Jaya, Kecamatan Kelumpang Selatan, Kabupaten Kotabaru, yang sempat mengalami kevakuman selama belasan tahun.

Berdiri sejak tahun 1985 silam, dan sempat vakum pada tahun 2005 hingga akhirnya pada pertengahan 2021, paguyuban seni dan budaya ini kembali bangkit. Mereka mewariskan budaya yang sudah turun temurun dilakoni harus kembali diperkenalkan kepada generasi penerus.

Masduki, salah satu anggota komunitas itu kepada Kanalkalimantan.com, berkisah di balik kevakuman tersebut. Sebuah kisah tragis, yang tak pernah mereka lupakan menjadi alasan Marsudi Laras tidak aktif selama 11 tahun.

Hal tersebut dilatarbelakangi meninggalnya sebanyak 24 orang pekerja perkebunan kelapa sawit yang juga adalah pemain kuda lumping, mengalami kecelakaan tragis hingga meregang nyawa.



 

Tokoh sepuh pemain kuda lumping Marsudi Laras, saat melakukan atraksi makan kaca dan silet. Foto : muhammad

Baca juga : Disdag Banjarbaru Minta Tak Ada Penimbunan Bapokting Jelang Natal dan Tahun Baru

“Kebetulan waktu itu saya masih tinggal di Desa Sungai Kupang Jaya, dan saat itu puluhan orang tersebut sedang menaiki truk. Namun entah seperti apa awal kejadiannya, hingga menyebabkan truk terguling dan menewaskan puluhan orang,” tuturnya, Rabu (15/12/21).

Ia bersyukur, dalam kejadian itu, kakaknya yang juga ikut rombongan hanya mengalami luka ringan saja.

“Alhamdulillah kakak saya selamat. Namun, puluhan dari mereka meninggal dunia di tempat. Saat di tahun 2005 itu kondisi kampung sepi dan saya masih ingat situasinya. Seperti kiamat kecil. Dari situ lalu kevakuman terjadi pada komunitas seni kuda lumping itu karena sebagian anggotanya meninggal dunia,” jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Paguyuban Kuda Lumping Marsudi Laras, Ngateno ketika dijumpai usai melaksanakan pertunjukan di depan gedung serbaguna Desa Sungai Kupang Jaya mengatakan, ia sendiri tidak menjelaskan banyak terkait peristiwa itu.

 

Ketua Paguyuban Seni Budaya Kuda Lumping Marsudi Laras, Ngateno, saat di wawancara kanalkalimantan.com, didampingi oleh Kepala Desa dan Bhabinkamtibmas. Foto : muhammad

Baca juga : Sidak Pasar Harga Bapokting, Dinas Perdagangan Balangan: Masih Aman Terkendali!

“Memang pernah ada kejadian yang menyebabkan banyak dari anggota paguyuban meninggal dunia, sehingga kala itu kami kekurangan pemain,” kata Ngateno.

Terlepas dari itu, dengan munculnya kembali seni budaya kuda lumping tentu diharapkan para generasi muda akan lebih mengenal dan mencintai warisan budaya nenek moyang.

“Kami berharap seni budaya ini akan kembali menggeliat dan khususnya kepada generasi muda dapat mengenal kuda lumping yang pastinya jangan sampai tergerus zaman, mengingat kemajuan modern sekarang,” harapnya.

Yanto Saputra selaku Kepala Desa Sungai Kupang Jaya menilai, seni kuda lumping harus terus dikembangkan dan lebih ditingkatkan lagi jangan sampai kalah oleh zaman.

 

Baca juga : Rumah Kemasan Banjarbaru Siap Dukung Produk UKM

Di saat sekarang, ada pemandangan menarik dari paguyuban kuda lumping tersebut. Yang mana, bukan hanya suku Jawa saja yang tergabung dalam komunitas itu. Akan tetapi, ada suku Sunda, Bugis bahkan eks warga Timtim pun ikut ambil bagian.

“Bisa kita lihat dari seni yang di tampilkan, dapat menyatukan berbagai suku yang artinya budaya semacam ini mesti dipertahankan dan harus lebih ditingkatkan lagi. Ini merupakan suatu kebanggaan bagi kami disini karena secara tidak langsung dengan budaya kita semua dapat bersatu,” imbuhnya.

Sementara Bhabinkamtibmas di desa setempat, Bripka Eksan Wahyudi berharap kesenian kuda lumping diwilayah binaannya harus terus hidup, apalagi dengan begitu mampu membuat bersatu dari berbagai kalangan dan usia, yang tentu akan menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif.

“Kalau saya melihatnya, kesenian ini sangat baik sekali dan kita bisa melihat dari situ keakraban dan kekeluargaan tumbuh sehingga melahirkan lingkungan yang nyaman karena masyarakatnya hidup berdamping, tidak peduli dari suku mana, dan itu salah satu dampak positif dari terjaganya seni budaya khususnya di Desa Sungai Kupang Jaya termasuk di dalamnya adalah warganya sangat menghargai perbedaan,” ucapnya. (Kanalkalimantan.com/muhammad)

Reporter : muhammad
Editor : cell


iklan

Disarankan Untuk Anda

<<

Paling Banyak Dibaca

-->