Connect with us

Budaya

Kelahiran Akademi Seni Rupa di Kalsel Perlu Ditopang Iklim Pasar dan Budaya

Diterbitkan

pada

Bedah Buku SBT Melawan Lupa di Banjarmasin beberapa waktu lalu Foto : mario

BANJARMASIN, Kehadiran akademi seni rupa di Kalsel semakin dirasa penting oleh pegiat seni. Salah satunya seniman pendiri Sangar Bumi Tarung (SBT), Misbach Tamrin. Hal ini ia rasa sangat penting karena potensi seni rupa di Kalsel sangat baik.

Kalsel sendiri menduduki peringkat empat setelah Jawa, Bali, dan Sumatera yang potensi dan tradisi seni rupanya sudah ada bahkan sejak tahun 50-an. Namun malah kota-kota yang yang masih dianggap kurang berpotensi yang justru sudah berhasil mendirikan kademi seni rupa.

Praktisi seni dari Yayasan Palatar, Novyanda Saputra mengatakan, akademi seni rupa di Kalsel sangat berpeluang. Namun masih ada PR agar hal ini bisa direalisasikan, yaitu harus ada persamaan persepsi.

Menurut Novy, pameran kesenian yang ada saat ini kehilangan konteks. Sehingga mempengauhi kurang berimbangnya untuk akademik.

Ketika seni rupa tidak berada di ruang yang tidak kontekstual, imbasnya orang tidak akan menganggap bahwa pendidikan seni rupa itu penting , tidak menganggap lukisan punya value yang tinggi. Pun tidak akan meanganggap seni rupa itu bagian dari wacana seni serta bidang ilmu maupun isu sosial. “Ketika persepsi tidak sama, akademi akan susah dibangun,” tuturnya.

Seni rupa harus memasyarakat, lanjut Novy. Sebab menurutnya siapa yang akan masuk jika seni rupa itu sendiri tidak menjangkau masyarakat. Beda hal di Yogayakarta, Akademisi Senin Rupa Indonesia (ASRI) dibuat karena masyarakat sudah memahami betul seni. Salah satunya karena ada distribusi informasi.

Masyarakat saat ini melihat seni rupa hanya sekadar gambar. Hal inilah yang harus digeser ke wilayah yang lebih kontekstual dan esensial. Sehingga nanti tentu akan menjadi tradisi dan akademi seni akan lahir dengan mudah.

Mudahnya akademi seni lahir tentu karena permintaan untuk akademi seni itu sendiri tidak hanya datang dari para seniman saja, tapi juga permintaan masyarakat. Pemerintah pun pasti akan melirik seberapa besar masyarakat memerlukan akademi seni ini. Di mana banyak permintaan di situ ada barang.

Novy pun mengakui bahwa pendidikan merupakan industri ekonomi. “Mau prodi apapun, sekolah apapun. Lihat dulu ada lapangan kerja atau tidak. Lapangan kerja muncul ketika seni rupa punya konteks,” beber pria lulusan Institute Seni Indonesia Surakarta ini.

Kompromi dengan pemerintah adalah salah satu kuncinya. Sebab iklim kultural saat ini telah mengubah sistem menjadi industri . Jika seni rupa ini tidak menjadi industri tentu pemerintah tidak akan membuat akademi seni itu sendiri.

Hal ini jugalah yang menyebabkan hadirnya ARTJOG, Jakarta Biennale, dan Salihara untuk para pegiat seni. Wadah ini hadir untuk mengindustrikan karya seniman sehingga orang-orang yang hidup dari seni pun makmur.(mario)

Reporter : Mario
Editor : Chell

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->