Connect with us

HEADLINE

Iran Tutup Selat Hormuz, Kapal Nekat Lewat Akan Dibakar

Diterbitkan

pada

Iran mengancam akan membakar setiap kapal yang nekat melintasi Selat Hormuz sebagai aksi blokade total terhadap jalur pelayaran internasional di kawasan. Foto: AP/AP

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Situasi di Timur Tengah semakin mencekam setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan penutupan total Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia.

Ancaman ini muncul sebagai aksi balasan atas serangan udara besar-besaran oleh Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Dikutip Al Jazeera, Selasa (3/3/2026), Teheran menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan aktivitas pelayaran internasional berlangsung normal di wilayah kekuasaan mereka.Ketegangan ini dipertegas oleh pernyataan keras dari penasihat senior panglima tertinggi IRGC, Ebrahim Jabbari.

Baca juga: Dinsos Kalsel Kebut Program RS-RTLH di 13 Kabupaten/Kota

Dalam pengumumannya melalui media pemerintah, ia memberikan peringatan mematikan bagi siapa pun yang berani melanggar blokade tersebut. “Selat ini tertutup. Jika ada yang mencoba melintas, para pahlawan Garda Revolusi dan angkatan laut reguler akan membakar kapal-kapal tersebut,” tegas Jabbari pada hari Senin (2/3/2026) waktu setempat.

Tidak hanya mengincar jalur pelayaran, Iran juga mulai menargetkan infrastruktur energi yang menjadi tulang punggung pasokan minyak dunia. Strategi ini merupakan bagian dari upaya sabotase ekonomi global sebagai respons atas kehancuran yang mereka alami.

Jabbari menyatakan dalam saluran Telegram resmi IRGC, “Kami juga akan menyerang pipa-pipa minyak dan tidak akan membiarkan setetes minyak pun meninggalkan kawasan ini. Harga minyak akan mencapai US$ 200 dalam beberapa hari ke depan.”Ancaman ini secara khusus diarahkan kepada Amerika Serikat yang dianggap sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah untuk menopang ekonominya.

Jabbari menyindir kondisi finansial Washington yang sedang terbebani utang besar. “Rakyat Amerika, dengan utang ribuan triliun dolar, sangat bergantung pada minyak kawasan ini, tetapi mereka harus tahu bahwa tidak satu tetes minyak pun akan sampai ke tangan mereka,” ungkapnya sebagaimana dikutip oleh kantor berita Tasnim.

Baca juga: BPBD Kapuas Gelar Buka Puasa Bersama 

Dampak dari penutupan ini diprediksi akan sangat katastropik bagi ekonomi global, mengingat sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz setiap harinya. Gangguan apa pun di jalur sempit antara Iran dan Oman ini akan langsung memicu lonjakan harga minyak mentah secara drastis.

Kekhawatiran akan eskalasi perang regional yang lebih luas kini benar-benar menghantui pasar komoditas internasional.Guncangan ekonomi sebenarnya sudah mulai terasa pada Senin pagi, di mana harga gas alam di Eropa melonjak hampir 50 persen dan di Asia naik sekitar 40 persen.

Hal ini terjadi setelah fasilitas milik QatarEnergy berhenti beroperasi akibat serangan yang menargetkan kilang LNG mereka. Selain itu, kilang minyak Ras Tanura milik Arab Saudi yang berkapasitas setengah juta barel per hari juga dilaporkan sempat diserang oleh kawanan drone, meski berhasil dihalau oleh sistem pertahanan udara setempat.

Menanggapi ancaman krisis energi yang mencekik ini, pemerintah Amerika Serikat segera menyusun rencana darurat. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa Washington telah mengantisipasi skenario terburuk ini sejak awal konflik pecah. “Mulai besok, Anda akan melihat kami meluncurkan fase-fase tersebut untuk mencoba memitigasi hal itu. Kami sudah menduga ini bisa menjadi masalah,” ujar Rubio saat menjelaskan langkah-langkah stabilisasi harga energi ke depan. (Kanalkalimantan.com/Beritasatu)

Editor: kk


iklan

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca