Connect with us

Kota Banjarmasin

Tata Kelola Sampah di Banjarmasin Masih Buruk, Ini Salah Satu Solusi yang Ditawarkan

Diterbitkan

pada

Kondisi sampah di salah satu Tempat Penampungan Sementara (TPS) Banjarmasin, Senin (2/3/2026). Foto: fahmi

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN — Salah satu masalah lingkungan di Kota Banjarmasin adalah tata kelola sampah yang dinilai tidak sesuai harapan.

Hal itu diutarakan oleh Koordinator Extinction Rebellion (XR) Meratus, Wira Surya Wibawa.

“Pengelolaan sampah di Banjarmasin itu masih jauh daripada yang kita harapkan,” ujar Bung Wira -biasa disapa-, Rabu (25/2/2026).

Baca juga: AS-Israel Serang Iran, Ini Dampaknya ke RI

Pemerhati lingkungan itu menganggap buruknya pengelolaan sampah di Kota Seribu Sungai terlihat saat Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Basirih ditutup beberapa waktu lalu.

Masalah tersebut seharusnya sudah diantisipasi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), namun Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin luput akan hal ini.

“Banjarmasin sudah hampir berumur 500 tahun, tapi rencana tata ruangnya baik jangka pendek, menengah, dan panjangnya tidak sesuai apalagi urusan privat seperti sampah yang berkaitan dengan sampah rumah tangga dan lain-lain,” bebernya.

Baca juga: Mengenang Kiprah Wapres Ke-6 RI Try Sutrisno, Wafat Usia 90

Fakta bahwa Wali Kota Banjarmasin, H Muhammad Yamin HR belum mencabut status darurat sampah menegaskan Banjarmasin belum selesai dengan persoalan sampah.

Bung Wira menyebut penyebabnya adalah Banjarmasin terlalu bergantung kepada TPA Basirih yang merupakan satu-satunya TPA yang tersedia.

Saat TPA Basirih ditutup, Pemko Banjarmasin menitipkan sampah-sampahnya ke TPA Banjarbakula di Kota Banjarbaru. Kemudian jadi pertanyaan apakah solusi tersebut berkelanjutan sebab biaya pembuangan sampah ke TPA Banjarbakula tidak sedikit.

Baca juga: Mantan Wapres Try Sutrisno Wafat

Sebagai solusi, XR Meratus mendorong pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Kota Banjarmasin yang merubah sampah menjadi energi.

Berkaca pada PLTSa Benowo Surabaya yang berhasil mengelola sampahnya secara mandiri menjadi energi alternatif yang tergolong dalam Energi Baru Terbarukan (EBT).

Banjarmasin dirasa cocok sebagai lokasi PLTSa lantaran kepadatan penduduk lebih tinggi dibandingkan daerah-daerah lain di Kalimantan Selatan.

“Ada potensi karena produksi sampahnya juga banyak,” tandas Bung Wira. (Kanalkalimantan.com/fahmi)

Reporter: fahmi
Editor: bie


iklan

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca