Connect with us

RELIGI

Ratibul Haddad: Sejarah, Penyusun, dan Keutamaannya

Diterbitkan

pada

Ratibul Haddad karya Sayyid Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad. Foto: NU Online
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Dzikir memiliki arti mengingat terhadap Allah. Orang ketika berdzikir maka tujuan utamanya tentu mengingat terhadap Dzat yang Maha Pencipta. Berdzikir merupakan sarana utama dalam menenteramkan hati. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Bacaan dzikir tak terhitung jumlahnya. Sebagian ulama hanya melantunkan dzikir terbatas pada dzikir-dzikir yang bersumber dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam atau yang biasa dikenal dengan dzikir ma’tsur. Namun, sebagian ulama yang lain melantunkan dzikir tidak hanya terbatas pada dzikir ma’tsur saja, tapi juga meliputi dzikir-dzikir yang disusun oleh para ulama terkemuka dengan susunan bacaan yang memiliki sirr (rahasia) dan faedah tersendiri. Dzikir-dzikir ini biasa dikenal dengan nama hizib atau ratib.



Penjelasan tentang hizib atau ratib secara ringkas dijelaskan dalam kitab Dzakhirah al-Ma’ad bi Syarhi Ratib al-Haddad berikut ini:

وأما حقيقة الحزب والورد والراتب فهو المعمول به تعبدا ونحوه وفى الإصطلاح مجموع أذكار وأدعية وتوجهات وضعت للذكر والتذكر والتعوذ من الشر وطلب الخير واستفتاح المعارف وحصول العلم مع جمع القلب والهم على الله تعالى

“Adapun hakikat hizib, wirid, dan ratib adalah sesuatu yang diamalkan dengan tujuan menyembah (kepada Allah) dan semacamnya. Sedangkan hizib, wirid, dan ratib secara istilah adalah kumpulan dzikir, doa dan tawajjuh yang dihimpun untuk dzikir, mengingat, meminta perlindungan dari keburukan, meminta kebaikan, memohon terbukanya kemakrifatan dan hasilnya pengetahuan yang dibarengi dengan fokusnya hati dan pikiran kepada Allah ta’ala” (Syekh ‘Abdullah bin Ahmad Basudan al-Kindi, Dzakhirah al-Ma’ad bi Syarhi Ratib al-Haddad, hal. 45).

Salah satu dzikir yang sering dibaca oleh kalangan masyarakat Muslim secara luas adalah Ratibul Haddad. Ratib ini disusun oleh salah seorang ulama terkemuka dari Hadramaut, yakni Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad. Beliau merupakan seorang mujaddid (pembaharu) di masanya. Karya tulis beliau terbilang cukup banyak dan tersebar di berbagai penjuru dunia, di antaranya adalah an-Nashaih ad-Diniyah, Risalah al-Mu’awanah, an-Nafais al-‘Alawiyah fi al-Masa’il as-Shufiyah.

Ratibul Hadad disusun pada tahun 1071 Hijriah, bermula ketika para pemuka Hadramaut merasa khawatir akan masuknya kelompok Syiah Zaidiyah di wilayah Hadramaut. Mereka khawatir aqidah Syiah Zaidiyah akan mempengaruhi terhadap keyakinan orang awam yang sejak lama berpegang teguh pada aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang telah diajarkan oleh para Salafus Shalih. Berdasarkan hal ini, mereka menghadap kepada al-Qutb Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad agar diberi bacaan supaya hal yang mereka khawatirkan tidak terjadi. Beliau pun menuliskan wirid yang nantinya dikenal dengan nama Ratibul Haddad ini. Semenjak saat itu, bacaan Ratibul haddad banyak dibaca di berbagai tempat di berbagai belahan dunia, sampai saat ini.

Ratibul Haddad ini sangat dianjurkan dibaca secara bersama-sama dalam majelis dzikir. Sedangkan ketentuan waktu membacanya dijelaskan dalam penjelasan berikut:

 

وينبغي أن يرتبه كل مرید صادق سيما إن كان صاحب الراتب واسطة له إلى الله تعالى فإن رتبه بعد صلاة العشاء والصبح فذلك هو الاكمل ويكفي ترتيبه في اليوم والليلة مرة والأفضل بعد صلاة العشاء وفى رمضان يقدم هذا الراتب على صلاة العشاء

 

“Sebaiknya seorang murid yang sungguh-sungguh membaca ratib ini, terlebih ketika penyusun ratib ini merupakan perantara baginya menuju Allah ta’ala. Membaca ratibul haddad ini setelah shalat isya’ dan subuh adalah cara membaca yang paling sempurna, namun membaca ratib ini satu kali dalam sehari semalam dianggap cukup, yang paling utama dilakukan setelah melaksanakan shalat isya’. Sedangkan di bulan Ramadhan, membaca ratib ini didahulukan dari pelaksanaan shalat isya’” (Syekh Abu Bakar bin Ahmad al-Maliabar, al-Imdad bi Syarhi Ratib al-Haddad, Hal. 55)

Faedah dari membaca Ratibul Hadad ini terbilang cukup banyak, berikut di antara berbagai fadilah istiqamah mengamalkan ratibul haddad:

و فوائد راتب الحداد منها ما نقل شراح الراتب عن صاحبه رضي الله عنه أن من واظب على قراءته حرس الله بلده أي من البلايا والنقم . ومنها زيادة الغني والبركة والخير في داره. ومنها أن من واظب عليه كل يوم لا يضره السم، ولا يضره السبع والزواحف وسائر الحيوانات. ومنها أنه يحصل عليه حسن الخاتمة ويعطيه الله له التوفيق للنطق بكلمة الشهادة.

 

“Beberapa faedah Ratibul hadad di antaranya, penjelasan yang dikutip dari para ulama yang mensyarahi Rotib ini dari penyusun Ratib, Syekh Abdullah bin ‘alawi al-Haddad Radliyallahu ‘anhu bahwa orang yang rajin membaca rotib ini maka Allah akan menjaga negaranya dari beberapa cobaan dan siksaan. Faedah lainnya, bertambahnya kekayaan, barokah dan kebaikan di rumahnya. Orang yang rajin membaca Ratibul Haddad setiap hari, maka tidak akan bahaya baginya racun, hewan buas, reptil dan hewan-hewan lainnya. Faedah yang lain dari membaca rotib ini bahwa akan hasil baginya husnul khotimah dan Allah akan memberikan pertolongan baginya untuk mengucapkan kalimat syahadat (di Akhir Hayatnya)” (Syekh Abu Bakar bin Ahmad al-Maliabar, al-Imdad bi Syarhi Ratib al-Haddad, hal. 56)

Patut dipahami bagi para pembaca Ratibul Haddad bahwa faedah-faedah di atas tentunya sekiranya tanpa memalingkan niat utama membaca Ratibul Haddad yakni mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga kita dapat mengamalkan Ratibul Haddad ini dengan istiqamah serta mendapatkan keberkahan dari penyusun Ratibul Haddad, Syekh Abdullah bin ‘alawi al-Haddad. Amin Yaa Rabbal ‘Alamin.  (nuonline)

Reporter : nuonline
Editor : kk

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

RELIGI

Tujuh Sesat Pikir dalam Ilmu Aqidah yang Perlu Diluruskan

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Ilmu aqidah atau yang juga dikenal dengan ilmu kalam memiliki pembahasan yang sangat luas. Paradigma pembahasnya pun beraneka ragam. Ada yang sangat tekstual, ada pula yang kebablasan mengedepankan rasio dalam disiplin ilmu ini. Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) memainkan peran sangat vital dalam menjaga sikap moderat di antara keduanya. Mereka mendasarkan diri pada argumentasi nalar yang seimbang dalam menyikapi teks Al-Qur’an dan hadits. Di antara ulama Aswaja yang sangat berperan dalam menjaga benteng aqidah adalah Syekh Muhammad bin Yusuf as-Sanusi.

Menurut Syekh Muhammad bin Yusuf as-Sanusi dalam kitab Muqaddimah Sanusiyyah, terdapat tujuh sumber kesesatan dalam ilmu aqidah yang harus kita waspadai, yaitu:

Pertama, penciptaan sebagai kewajiban bagi Allah sang pencipta.

Ini adalah kesesatan yang menjalar di kalangan para filsuf Yunani di masa lampau yang meracuni beberapa sekte menyimpang dalam Islam di kemudian hari. Mereka berkeyakinan bahwa eksistensi Tuhan diukur dengan bukti adanya penciptaan berupa alam semesta. Para filsuf Yunani berkeyakinan seandainya Tuhan tidak menciptakan alam semesta maka Tuhan tidak diyakini ada. Selain itu, mereka juga berkeyakinan bahwa alam semesta dan Tuhan adalah dua entitas yang saling terkait dan wujud secara bersamaan. Dengan dalih inilah mereka menyatakan alam adalah qadim (dahulu) sebagaimana Tuhan.



 

Para filsuf menggambarkan hal ini dengan dua jalur analogi yaitu:

1.Pendekatan asal muasal (‘illat). Mereka meyakini bahwa Tuhan adalah entitas asal muasal (‘illat) dari terciptanya alam semesta. Sehingga mereka meyakini Tuhan dan alam semesta adalah satu kesatuan yang wujud di waktu yang sama (zaman ‘azali). Hal ini dianalogikan dengan bergetarnya jari manusia dan cincin yang dipakai secara bersamaan tanpa ada jeda waktu di antara keduanya.

2.Pendekatan tabiat (tab’i). Mereka meyakini bahwa Tuhan adalah entitas yang terpaksa dan manjadi sebuah keharusan untuk menciptakan alam semesta agar dapat diakui sebagai Tuhan. Dalam artian, mereka meyakini bahwa Tuhan tidak memiliki pilihan lain selain menciptakan alam semesta. Hal ini dianalogikan dengan api yang membakar kayu yang seandainya api tak dapat membakar kayu tentu api tersebut tak dapat diakui sebagai api secara tabiatnya.

Tentu di sini, ulama Aswaja menolak pendapat para filsuf tersebut. Karena menurut ulama Aswaja, Allah menciptakan alam semesta sebagai bentuk pilihan yang Allah kehendaki bukan atas dasar keterpaksaan ataupun kewajiban. Sebagaimana dalam Al-Qur’an:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (٦٨)

“Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Maha suci Allah dan Maha tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan” (QS Al-Qashash: 68).

Perlu dicatat bahwa menurut ulama Aswaja sifat menciptakan adalah sifat Jaiz yang bermakna Allah berhak untuk menciptakan ataupun tidak menciptakan tanpa ada paksaan apa pun. Sedangkan, alam semesta adalah ciptaan Allah yang bersifat hadits (baru datang) bukan suatu yang qadim (dahulu).

Kedua, kebaikan secara akal adalah kewajiban bagi Allah.

Awalnya sesat pikir ini diproklamasikan oleh ajaran Brahmana dari kebudayaan India kuno yang meracuni sekte Muktazilah di kemudian hari. Mereka berkeyakinan bahwa Tuhan harus menciptakan hal yang baik secara akal. Sehingga mereka meyakini ajaran yang diajarkan Tuhan harus baik secara akal dan Tuhan tidak boleh berbuat buruk dalam bentuk apa pun. Karena itu, ajaran Brahmana melarang pemeluknya memakan daging hewan karena tidak mungkin ajaran Tuhan mengajak mereka menyembelih hewan. Menurut mereka, menyembelih hewan adalah perbuatan buruk secara akal karena menyakiti makhluk lain.

Kesesatan ini dilanjutkan oleh sekte Muktazilah yang menyatakan bahwa akal adalah timbangan utama mengenai kebaikan dan keburukan. Maka, menurut sekte Muktazilah syariat harus sesuai dengan kebaikan dan keburukan secara akal. Selain itu, Tuhan juga tidak boleh menimpakan musibah ataupun keburukan kepada hambanya karena hal tersebut buruk secara akal.

Ulama Aswaja menolak paham tersebut. Menurut ulama Asy’ariyyah, baik dan buruk adalah berdasarkan syariat Islam. Maka, tidak ada keburukan secara syariat kecuali hal tersebut adalah larangan yang ditetapkan oleh syariat serta tidak ada kebaikan secara syariat kecuali hal tersebut adaalah perintah yang diserukan oleh syariat.

Ketiga, mengikuti ajaran yang sesat berdasarkan fanatisme.

Kesalahan yang sering dilakukan oleh pengikut aliran sesat adalah mereka terlalu fanatik dengan ajaran sesat yang mereka ikuti tanpa menimbang kesalahan aqidah mereka. Padahal, seandainya mereka mau memikirkan kembali hujjah argumentasi ilmiah para ulama Aswaja dalam menolak penyimpangan aqidah niscaya mereka akan bertobat dari kesesatan yang mereka ikuti. Karena pada dasarnya, ulama Aswaja dari zaman ke zaman selalu memakai pemikiran yang logis dan argumentasi yang kokoh dalam mempertahankan benteng aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah.

Keempat, menjadikan adat kebiasaan sebagai landasan sebab akibat.

Hal ini ditunjukkan dengan keyakinan bahwa adanya sifat kenyang adalah imbas dari makan, adanya sifat terbakar adalah imbas dari api, adanya kesehatan adalah imbas dari obat dan sejenisnya. Kesesatan ini adalah imbas dari menafikan peran Allah sebagai dzat yang menciptakan sebab dan akibat. Padahal, ulama Aswaja telah menyatakan bahwa sebuah sebab tidak akan berimbas kepada akibat yang kita kenal secara adat kebiasaan kecuali dengan izin Allah. Misal contoh, api tidak akan berimbas membakar kecuali atas izin dan takdir Allah terbukti dengan kisah nabi Ibrahim yang dilemparkan ke dalam bara api dan beliau tidak terbakar atas izin dan takdir Allah.

Kelima, kesalahan pemikiran yang tidak sesuai dengan kebenaran.

Kita meyakini bahwa kebenaran yang sesuai dengan ajaran Baginda Nabi Muhammad adalah ajaran yang dilestarikan oleh Ahlussunnah wal Jama’ah. Karena hal itu, sekte-sekte yang melakukan penyimpangan aqidah umumnya adalah imbas dari pemahaman yang salah dalam memahami ilmu aqidah yang benar. Misalnya, kesesatan sekte Khawarij dengan pemikiran radikalnya dan sejenisnya yang tentu berbanding terbalik dengan ajaran Aswaja yang moderat.

Keenam, memahami agama sebatas pemahaman tekstual.

Kesesatan pikir ini digaungkan pertama kalinya oleh sekte Khawarij, yakni ketika mereka berambisi untuk membunuh para pemimpin Muslim dengan dasar dalil tekstual “La Hukma Illa Allah (tidak ada hukum selain hukum Allah)”. Kemudian, kesesatan ini dilanjutkan oleh sekte Mujassimah, Wahabi, serta pengikut ajaran Ibnu Taimiyyah yang memahami Al-Qur’an dan hadits sebatas tekstual belaka. Misal contoh, mereka memahami Allah memiliki angggota tubuh sebagaimana makhluk, Allah bertempat di ‘Arsy, serta mereka juga menolak adanya takwil dalam memahami Al-Qur’an dan sejenisnya. Dan ulama Aswaja telah berulang-kali mematahkan argumentasi mereka.

Ketujuh, kelemahan dalam memahami dasar logika akal.

Kesesatan ini banyak terjadi lantaran mendasarkan diri pada tahayyul ataupun ajaran di luar agama Islam. Padahal, dengan nalar logika terendah pun dapat mematahkan argumentasi kesesatan mereka. Misalnya, secara logika Tuhan adalah Dzat yang tidak mungkin tersusun dari bagian-bagian, maka seandainya Tuhan tersusun dari bagian-bagian sebagaimana makhluknya niscaya Dia membutuhkan pencipta lain yang dapat menyusun tubuh-Nya dan ini tidak mungkin secara akal. Karena, pada dasarnya Allah memiliki sifat Mukhalafat lil-Hawadits (berbeda dari makhluknya).

Muhammad Tholhah al Fayyadl, Mahasiswa jurusan Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo. (nuonline)


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

RELIGI

Gus Baha: Anjing Tidak Najis di Semua Periode Islam

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, REMBANG – Ceramah Ustaz Yahya Waloni tetang anjing sempat viral di media sosial. Dalam ceramahnya, Ustaz Yahya Waloni mengaku pernah menabrak anjing secara sengaja. Ini ia lakukan karena menganggap anjing adalah hewan najis.

Ini terjadi saat Ustaz Yahya Waloni berkunjung ke Jambi untuk berdakwah. “Kutabrak juga seekor anjing, enggak tahu punya siapa. Dia lari pincang kakinya. Kalau kambing masih saya rem, tapi kulihat anjing, najis kutembak satu yang paling depan,” ungkap Ustaz Yahya Waloni dikutip dari YouTube Hadist TV.

Lalu apakah benar anjing adalah hewan najis. Gus Baha, kiai kharismatik asal Rembang, memaparkan mengenai hukum hewan anjing.

Menurut Gus Baha, di semua periode Islam anjing dianggap bukan najis. “Sejak dulu itu ga asing, orang memuji anjingnya Ashabul Kahfi. Tidak pernah ada masalah dengan anjing. Sampai periode sahabat tabiin. Rata-rata sahabat ya punya anjing,” ujar Gus Baha dikutip dari YouTube Kajian Cerdas Official berjudul “Ngaji Gus Baha – Disemua Periode, Anjing itu TIDAK NAJIS, Kok Sekarang Jadi Najis Gus???”.



Bahkan, kata Gus Baha, sahabat yang merawat 100 kambing akan memberikan satu kambingnya ke anjing sebagai hadiah karena telah menjaganya dari serigala.

Gus Baha mengatakan, Alquran mengistilahkan anjing di dalam surat Al Maidah ayat 4. “wa m ‘allamtum minal-jawrii mukallibna”.

Arti dari surat itu adalah “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu”

Menurut Gus Baha, hewan pemburu yang dimaksud disitu adalah hewan seperti anjing. “Sahabat dulu kalau ingin mndapatkan kijang atau mendapatkan buruan, anjing diajari untuk mengejar kijang,” ujarnya.

Gus Baha menuturkan, menurut fikih, hewan halal ada dua. Pertama hewan yang disembelih secara syar’i yang kedua yang mati karena diburu atau terkena panah.

“Misalkan ada kijang lari kalian panah itu halal tanpa disembelih. pernah mendengar atau belum hukum seperti itu? Atau diburu. Diburu hewan yang sudah dilatih. Itu yang halal tanpa harus disembelih. Standarnya memang seperti itu,” ucapnya.

“Makanya ketika nabi ditanya hewan yang halal itu apa saja? yaitu yang disembelih dan yang dicengkram oleh pemburu yang sudah dilatih,” lanjutnya.

Menurut Gus Baha, Alquran itu secara sirri mencontohkan dengan anjing. “wa m ‘allamtum minal-jawrii mukallibna. Hewan-hewan yang terlatihnya seperti anjing.” ucapnya.

Gus Baha mengatakan, anjing menjadi najis di periode Syafiiyah bukan di masa Imam Syafii. Karena ketika Imam Syafii hidup, masih banyak orang memelihara anjing.

“Ketika periode Syafi’iyah dan kebetulan mahzab di Indonesia Syafi’i yang paling dominan di Indonesia, lantas orang mengira anjing itu najis. Konsekuensi dari dikira najis maka anjing diburu dijauhi dibenci. Zaman saya kecil membunuh anjing itu seperti ibadah,” jelas Gus Baha.

Ia lalu menjelaskan posisi anjing dalam konteks Indonesia. Menurutnya, masih ada anggapan jika ada desa yang ada anjingnya berarti abangan, kalau tidak ada anjing daerah santri.

“Jadi membunuh anjing ibadah. Tapi di saat yang sama, santri mengakui kalau hewannya ashabul kahfi itu anjing. Juga mengakui kalau hewan paling pintar itu anjing. apalagi intelijen, kepolisian, badan narkoba tetap mengakui bahwa hewan yang paling mudah diajari adalah anjing,” ujarnya.

Menurut Gus Baha itu jelas membuktikan ilmiahnya Alquran. Karena Alquran sendiri mengakui hewan terpelajar contohnya apa wa m ‘allamtum minal-jawrii mukallibna.

“Mahzab Syafi’iyah menganggap anjing itu najis, kita lupa keistimewaan anjing. Padahal itu tidak bertentangan. Kalau anjing memang dianggap pintar, kalau itu dikatakan najis biar tidak kamu sembelih dan dijadikan ternak. Justru barang istimewa itu tidak perlu dibunuh. Karena istimewa. Kalau anjing kamu samakan dengan ayam nanti disate terus cepat habis,” kata Gus Baha.

Salah satu ulama yang menafsiri bahwa hewan pemburu dalam surat Al Maidah ayat 4 itu anjing adalah Imam Suyuthi Imam Suythi bermahzab Syafii tapi dalam hal seperti ini, kata Gus Baha, ia bebas bermahzab. “Makanya beliau menafsiri ail khawasib minal kilab. khilm itu jamaknya kalbun ya anjing itu,” ujarnya.

Gus Baha lalu membacakan teks asli hadis Nabi Muhammad SAW yang ditafsiri sebagai najis. Teks asli hadis nabi SAW itu berbunyi “Kalau anjing itu menjilat diantara wadah kamu maka basuhlah tujuh kali”.

“Jadi nabi mengistilahkan ada wadah, ada yang menjilat. Nah yang membuat itu menjadi ekstrem ada istilah menjilat. Wadah itu bisa wadah minum atau wadah bersuci,” kata Gus Baha.

Menurut Gus Baha, Imam Malik mengatakan nyuruh membasuh itu tidak selalu najis. Barang kotor yang bukan termasuk najis juga disuruh membasuh.

“Jika anda punya baju kotor walaupun tidak najis juga disuruh membasuh. Sudah gitu ditambah wadah. Wadah itu memang barang spesial. Yang namanya jok tidak perlu dicuci, tapi kalau gelas yang tetap harus dicuci. karena kaitannya dengan kesehatan. Makanya Imam Malik tetap ngotot bahwa anjing itu tidak najis sama sekali,” jelasnya.

“Soal dibasuh tujuh kali, memang nabi menyuruh membasuh tujuh kali, tapi tidak ada konsekuensi itu menjadi vonis najis. karena secara logika ijtihad istilahnya nabi itu wadah dan menjilat. apalagi kalau kalian menguasai ilmu medis. Efek yang ditimbulkan hanya sekadar memegang dengan efek menjilat itu bedanya jauh. Makanya Imam Malik memutuskan tidak ada kaitannya dengan najis,” tambahnya lagi.

Ini berbeda dengan Imam Syafii. Imam Syaffi berpandangan bukan hanya menjilat, memegang saja najis. Ditambah lagi adanya hadis nabi SAW mengenai malaikat tidak akan masuk ke rumah kalian yang ada anjing.

Akhirnya orang yang dirumahnya ada anjing dianggap tidak barokah. Kata Gus Baha, ulama menafisiri yang dimaksud malaikat di hadis nabi SAW itu adalah malaikat rahmat. Sementara kalau malaikat azab, malaikat maut bisa masuk lancar.

“Ulama sufi protes. tidak ada orang yang tidak mendapat rahmat ada anjingnya atau tidak ada anjingnya. Apakah jika ada anjingnya lantas tidak ada rahmat Allah? Ya tetap ada kan jawabannya. Nyatanya orang yang punya anjing tetap bisa makan. berarti mendapat rahmat,” tutur Gus Baha.

Akhirnya, kata dia, ulama-ulama sufi menafsiri hadis nabi SAW itu bahasa kinayah. “Jadi nabi SAW bersabda seperti itu kinayah. Malaikat itu tidak masuk hati dimana hati itu ada mental pemabuk dan ingin barangnya orang lain. Ulama sufi menafsiri yang dimaksud anjjing disitu adalah tamak. Orang ISlam hatinya tidak akan ditempati malaikat jika hatinya punya mental tamak,” kata Gus Baha.

Menurutnya, apapun perbedaan ulama, Alquran itu lebih jujur lebih objektif bahwa anjing itu hewan yang mudah dilatih.(suara)

Editor: Suara


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->