Connect with us

HEADLINE

Menyusuri Peta Buram Habitat Belida Borneo di Sungai Barito (Bagian 3)

Diterbitkan

pada

Menyusuri peta buram habitat Belida Borneo di Sungai Barito. Foto Ilustrasi: Rdy/Rideka

Salasiah, pengepul ikan hasil tangkapan nelayan di Sungai Barito. Foto : rdy

  • Semua jenis belida saat ini berstatus dilindungi berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 1 Tahun 2021 tentang Jenis Ikan yang Dilindungi, yang sebelumnya diperbaharui melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.
  • Di Kalimantan Selatan, ikan belida masih diperdagangkan secara bebas dengan nilai ekonomi tinggi.
  • Belasan pelaku usaha Industri Kecil Menengah (IKM) di Kabupaten Barito Kuala, memanfaatkan daging ikan belida sebagai bahan baku kerupuk yang menjadi buah tangan camilan wisatawan.
  • Bahan baku kerupuk ikan belida tertuang dalam Perbup Barito Kuala Nomor 57 tahun 2019 tentang Produk Lokal Unggulan Daerah.
  • Benturan peraturan menjadi tantangan Kepala Daerah demi kelangsungan pelaku usaha di daerah.

Oleh: Rendy Tisna

KANALKALIMANTAN.COM, MARABAHAN – Penasaran dengan sebaran dan keberadaan ikan belida, saya menyusuri Sungai Barito di kawasan Kelurahan Ulu Benteng, Kecamatan Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Ditemani Anci (47), nelayan tangkap ikan tradisional setempat, kami menggunakan perahu bermesin ukuran panjang 6 meter. Selama perjalanan, tidak jarang perahu yang kami tumpangi berpapasan tongkang batu bara dan speed boat yang lalu lalang.

 



 

Sesekali gelombang air sungai tipis masuk ke dalam perahu, karena jarak tinggi badan perahu dengan permukaan air sungai tidak lebih dari dua jengkal orang dewasa.

Di sela menyusuri Sungai Barito, sesekali Anci singgah untuk mencek perangkap ikan miliknya -yang disebut masyarakat Banjar dengan tamba. Tapi sayang, tidak ada satupun ikan didapat.

“Macam-macam jenis ikannya yang biasa masuk di tempat ini. Harus rutin dicek, bisa-bisa ada berang-berang di dalamnya, binatang itu yang biasa memakan ikan dalam perangkap ini,” terang Anci.

Aktivitas nelayan tangkap ikan tradisional di Sungai Barito, Kelurahan Ulu Benteng, Kecamatan Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, dengan mengunakan jala. Foto : rdy

Sembari mengayuh perahu sebelum menghidupkan mesin, Anci bercerita bila ikan pipih biasanya didapati olehnya dan nelayan lain, dengan cara merawai istilah teknik menangkap ikan dengan cara dipancing menggunakan banyak mata kail.

“Memang pernah kita dapat ikan pipih itu di sekitar sini. Tapi, musiman dan agak jarang, biasanya untuk mendapat ikan itu bisa dengan cara merawai. Cara menangkap ikan seperti itu (marawai) sudah jarang saya lakoni, bisa juga kena dijebakan masuk ke tamba ikan saluang. Ya, kalau ada rezekinya, biasa dapat 2 hingga 3 ekor lebih. Kalau ukuran ikan pipih-nya ya bervariasi ada yang besar ada juga yang kecil, tergantung rezeki,” sahut Anci.

Baca juga: Balada di Balik Gurih Kerupuk Belida (Bagian 1)

Sedikit bergeser dari tamba milik Anci tadi, tiga nelayan tangkap yang lokasinya masih di pesisir Sungai Barito sekitar Kelurahan Ulu Benteng, terlihat mengantre menabur jala. Sembari bercengkrama dan bernaung di bawah pohon sagu yang dahan dan daunnya menjulang ke sungai.

Ibah, satu di antara nelayan lainnya bercerita, terakhir mendapat ikan pipih satu bulan lalu dengan cara merawai menyisiri tepian Sungai Barito.

“Itu pun ukuran sedang saja, sekarang gak ada lagi yang ukuran besar, jarang sekali ditemui,” aku Ibah, yang sudah puluhan tahun sebagai nelayan tradisional.

Sungai Barito pagi hari di Kabupaten Barito Kuala. Foto: rdy

Masih di sepanjang aliran Sungai Barito, bergeser ke Kecamatan Anjir Muara jaraknya melalui  jalur darat dari Kecamatan Marabahan kurang lebih 50 Km.

Rafi’i nelayan tangkap tradisional setempat, sejak pukul 06.00 Wita melabuh perahu bersama reporter Kanalkalimantan.com menemui beberapa nelayan ikan lain untuk berbagi pengalaman menangkap ikan belida di Sungai Barito.

“Biasanya nelayan di sini menangkap ikan pipih itu secara tidak disengaja, ada saja terkadang dapat ikan itu,” terangnya sembari mengemudikan perahu kelotok, Rabu (15/6/2022).

Tidak jauh dari perahu berlabuh, sekitar 5 menit menuju arah selatan, tampak Salasiah, seorang pengepul ikan hasil tangkapan alam bertransaksi di atas perahu berarus air sungai yang tenang. Pengepul membeli berbagai jenis ikan segar yang diantarkan langsung oleh nelayan dari hasil tangkapan sekitar Sungai Barito di Kecamatan Anjir Muara. Di sela kesibukan bertransaksi, Salasiah mengaku baru satu minggu yang lalu disetorkan ikan belida oleh nelayan sekitar.

“Oh, ikan pipih satu minggu yang lalu ada, kemarin saya beli mungkin ada berat 3 Kg, saya beli dengan harga Rp 50 ribu perkilogram, kemudian saya jual lagi ke pasar,” aku Salasiah.

Baca juga : Simpang Jalan Antara Periuk IKM dan Perlindungan Belida (Bagian 2)

Ketika kami bergeser ke arah selatan, sekitar 25 menit menyusuri jalur utama dan aliran Sungai Barito yang tenang dan sekali kali bergelombang, di tengah suasana kabut embun pagi hari yang menutupi jarak pandang, Hadi paman Rafi’i yang juga nelayan tangkap tradisional, menyandarkan perahunya di ranting pohon yang tumbuh di tepian pulau kecil Sungai Barito.

Sambil menyeruput kopi dan tidak henti kepulkan asap rokok untuk menghilangkan rasa dingin di pagi itu, Hadi bersiap memasang perangkap ikan dengan mengunakan batang kayu yang disusun dengan jarak tertentu atau kerap disebut marempa.

Sambil menunggu teman seprofesi, Hadi bercerita terakhir mendapat ikan belida yang mulai langka dua bulan yang lalu.

“Ikan pipih itu biasanya tidak sengaja terbuat di perangkap ini, jarang sekali sekarang didapat. Ikan pipih ya kalau dapat langsung dijual ke pasar biasa dengan ukuran sedang Rp 60 ribu, namun kalau besar Rp 140 per Kg, beda ukuran beda harga,” katanya.

Dengan sedikit terkejut dan hampir tidak percaya, Hadi tidak mengetahui ikan belida atau ikan pipih yang sering masuk perangkapnya itu, sekarang sudah dilindungi karena kelangkaannya.

“Sama sekali tidak tahu saya ikan pipih dilindungi, kalau nanti ikan itu kami dapat, harus kami apakan kalau dilindungi?” kata Hadi balik bertanya.

Seberan ikan belida menurut Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan yang didapati ada di Sungai Martapura, Kabupaten Banjar dan Sungai Barito, Kabupaten Barito Kuala. Foto : rdy

 

Sementara itu, ditemui Kanalkalimantan.com di kantor, Lia Anggia Puspita, Kepala Bidang Perikanan Tangkap, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Barito Kuala mengatakan, sebaran ikan belida di sungai-sungai kawasan Kabupaten Barito Kuala secara umum memang minim ditemui.

Apalagi wilayah khusus yang menjadi habitat ikan belida. Sehingga jika ada didapati oleh nelayan ikan belida di Sungai Barito, itu bisa dipastikan ikan yang dianggap nyasar dari kabupaten tetangga, seperti Sungai Martapura dan perairan Provinsi Kalimantan Tengah.

“Biasanya nelayan ikan di Batola sendiri itu menangkap ikan patin, baung, sanggang, saluang, sedangkan yang khusus untuk menangkap belida itu sendiri tidak ada,”  katanya.

Perempuan yang akrap disapa Anggi ini menduga, ikan belida yang dijual di pasar-pasar di Kabupaten Batola dagingnya kerap dikonsumsi dan dijadikan kerupuk oleh para pelaku usaha itu adalah ikan belida yang berasal dari luar daerah.

“Sebenarnya ikan yang dijual itu saya dengar berasal dari luar daerah, namun tidak menutup kemungkinan ikan pipih di pasar-pasar di Kabupaten Barito Kuala itu tangkapan di sini yang tidak sengaja didapat di Sungai Barito Kabupaten Batola,”  tepisnya.

Foto by : Achmad Rian Dietra

 

STATUS ikan belida yang kian langka ini, menjadi perhatian khusus dari Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. BPBAT Mandiangin menjadi satu-satunya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan yang berhasil membudidayakan ikan Belida Borneo di Indonesia.

Tidak kurang 15 tahun kegiatan pembenihan ikan belida asli Kalimantan dengan nama latin Chitala hypselonotus ini dilakukan oleh BPBAT Mandiangin. Setelah sebelumnya diawali dengan proses domestikasi di tahun 2005 silam, sampai akhirnya berhasil dilakukan pembesaran dan diberi pakan buatan secara penuh berupa pelet tinggi protein di atas 40 persen di tahun 2019 hingga 2020.

“Prosesnya hingga sampai saat ini memang berlangsung lama, mulai dari proses domestikasi sampai akhirnya ikan sudah berhasil makan udang 2007 yang lalu, dan terus dicoba sampai semua ikan sekarang baru saja sudah bisa dikasih pakan buatan berupa pelet yang kami racik khusus,” kata Puji Widodo, selaku Pengelola Penanggungjawab Komoditas Ikan Belida, kepada Kanalkalimantan.com, beberapa waktu lalu.

Pembenihan ikan belida asli Kalimantan dengan nama latin Chitala hypselonotus dilakukan oleh BPBAT Mandiangin. Foto: rdy

 

Dalam proses pembudidayaan ikan yang lebih dikenal warga di Kalimantan dengan sebutan ikan pipih ini, proses pembenihan sebelumnya tidak sengaja ditemukan. Ketika itu ikan secara alami menempelkan telurnya di selembar kayu yang diletakkan di dasar kolam yang kemudian berhasil ketahui.

“Berawal dari ketidak kesengajaan, ikan bertelur menggunakan metode alami, yaitu menggunakan substrat sarang yang terbuat dari selembar kayu, yang kemudian kami buat khusus dengan kayu besi atau kayu ulin,” ujarnya.

Lebih jauh pria yang akrab disapa Widodo ini mengatakan, dalam sekali pemijahan indukan betina ikan Belida dengan panjang 50 Cm hingga 60 Cm dan berat 4 Kg yang sudah siap bereproduksi, biasanya mampu menghasilkan rata-rata 200 hingga 400 butir telur yang menempel di substrat kayu ulin.

Telur yang menempel di substrat kayu tadi kemudian dibersihkan dari kotorannya dan dipindahkan ke tanki khusus penetasan.

“Jadi telur yang didapati dari kolam pemijahan tadi kemudian kita taruh beserta substrat papannya di tank khusus penetasan, di tank ini kemudian kita kasih inkubasi dan Methylene Blue untuk mencegah serangan jamur pada ikan belida. Biasanya telur membutuhkan waktu 4 sampai 6 hari sampai menetas menjadi larva berupa ikan yang masih belum aktif bergerak,” akunya.

Pembenihan ikan belida asli Kalimantan dengan nama latin Chitala hypselonotus dilakukan oleh BPBAT Mandiangin. Foto: rdy

 

Soal kendala yang dihadapi dalam budidaya ikan pipih, Widodo mengatakan, tantangan terbesar adalah waktu yang dibutuhkan tidaklah singkat dalam melakukan pembesaran ikan dari Suku Notopteridae ini. Dalam kurun waktu satu tahun saja ikan Belida hanya tumbuh seberat 500 gram saja.

“Tantangannya adalah waktu yang dibutuhkan saat pembesaran, karena dengan pakan buatan selama 2 tahun pertumbuhan ikan hanya mencapai 1 Kg saja per ekor, tapi bukan berarti ikan dari larva hingga yang sudah siap jadi indukan dengan berat 4 Kg itu perlu 8 tahun karena kita tidak tahu laju pertumbuhan berat dari 1 Kg ke atas seperti apa, bisa lebih cepat, stagnan atau sama saja,” katanya.

Baca juga : Perlu 15 Tahun BPBAT Mandiangin Budidaya Ikan Belida Borneo

Pembenihan ikan Belida Borneo di BPBAT Mandiangin sendiri dimulai dari pemeliharaan induk yang dipelihara di kolam dengan luas 100 hingga 200 meter persegi, dengan dialiri air yang terus menerus masuk ke dalam kolam yang mana kepadatan induk di dalam kolam 3 sampai 5 ekor permeter persegi.

Widodo juga menerangkan belida jenis Chitala lopis sudah dinyatakan punah. Sementara hingga saat ini juga terancam punah sedikitnya ada 3 jenis belida di Indonesia salah satunya jenis yang ada di Mandiangin,

“Yang asli belida Indonesia ada 4 jenis yaitu Chitala Lopis, Chitala Hypselonotus, Chitala Borneensis dan Notopterus Notopterus,” tutupnya.

Pembenihan ikan belida asli Kalimantan dengan nama latin Chitala hypselonotus dilakukan oleh BPBAT Mandiangin. Foto: rdy

Kepala BPBAT Mandiangin Evalawati mengatakan, UPT Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan sengaja mengarahkan BPBAT Mandiangin untuk mengembangkan ikan-ikan lokal yang salah satunya ikan pipih.

“Diketahui budidaya ikan belida di BPBAT Mandiangin ini sudah berhasil teknologinya, namun ikan masih belum kita rillis, tahun ini baru kita bentuk timnya untuk merilis ikan itu, sehingga harapan kita ikan ini dapat dibudidayakan, sasaran kita itu pasti kesana,” akunya.

Evalawati memahami betul ikan predator spesies terbesar di kelasnya yang ada di Kalimantan ini, telah dilindungi penuh mengingat sebarannya di alam memang kian susah ditemukan, sementara kebutuhan akan ikan untuk dijadikan bahan baku olahan masih tinggi.

“Kami berkeyakinan setelah dapat menghasilkan tekhnologi untuk budidaya ikan pipih ini, masyarakat tidak lagi tergantung pada tangkapan alam, kita juga nanti sudah melakukan rillis, sehingga ikan ini tidak lagi menjadi komoditas yang dilindungi tetapi kembali bisa dibudidayakan dan dikonsumsi oleh masyarakat,” harapnya. (Kanalkalimantan.com/Rendy Tisna)

 

CATATAN:

Seri liputan tentang Ikan Belida di Kalsel ini hasil kerjasama antara Kanalkalimantan.com dengan Garda Animalia dan Auriga dalam lokakarya Jurnalisme Investigasi dan Hibah Liputan “Mengungkap Praktik Kejahatan terhadap Satwa Liar di Indonesia.”

Reporter : rendy tisna
Editor : bie


iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->