Connect with us

Kabupaten Balangan

Dibalik Berita: Sehimpun Kisah dari Kambiyain

Diterbitkan

pada

Warga Dayak Pitap berkumpul di Balai Adat Desa Kambiayin, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan. Foto: rendy

KANALKALIMANTAN.COM, PARINGIN – Lewat tengah malam, di penghujung Desember 2023, Anang Suriani, terjaga dari tidurnya yang tidak tenang. Suara langkah kecil dan rendah riuh para tamu yang datang memaksa dia bangkit, meski lelahnya sudah tak tertahankan.

Kami -penulis bersama lima wartawan, dua pembuat video dokumenter, dua orang Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Selatan (Kalsel), rombongan media trip yang akan melaksanakan peliputan kearifan lokal di daerah itu menyelinap masuk, setelah dibukakan pintu oleh Akang, anggota Walhi Kalsel lain yang telah tiba sehari sebelumnya.

Sambil mengumpulkan kesadaran, Anang yang sudah terlelap di ruang keluarga berbaur menghampiri. Dia mengatur posisi duduknya, meluruskan punggung ke dinding, lalu mengizinkan siapa saja menyeduh kopi di dapur. Sikapnya sama sekali tidak menunjukkan keberatan, meskipun itu adalah pertemuan pertama bagi sebagian orang dengannya.

“Lengkap saja, ada kopi di sana, bikin saja,” kata Anang mempersilahkan. Tangan kanannya menunjuk ke arah dapur. Dan, tentu saja sebagian dari kami mengangguk!.

Tadinya, Anang mengaku harus tidur lebih awal karena sudah sepanjang hari lelah berjalan kaki berkilo-kilometer, terlibat mengukur tapal batas desa. Besoknya, bersama tim, dia harus kembali melakukan aktivitas yang sama, menyusuri kawasan perbukitan yang bermedan terjal.

Tidak sampai dua jam kemudian, rombongan kedua dari Kota Banjarbaru tiba. Itu -Cak Kis- panggilan akrab Direktur Walhi Kalsel Kisworo Dwi Cahyono yang datang beserta istri dan anak-anaknya. Kerabat lama yang ditanya-tanya Anang sedari tadi.

“Hah, ada acara apa nih?” seru Cak Kis, gaya khasnya. Kalimat familiar yang hampir selalu terdengar, jika dia muncul.

Berbincang sebentar, sebelum menyudahi pertemuan dan masuk ke kamar utama, Anang berat hati berkata. “Aku kira harus tidur lagi, besok pagi-pagi sekali (berangkat).” Kami mengiyakannya.

Anang Suriani adalah orang suku Dayak Pitap, kebetulan menjabat Kepala Desa Kambiyain, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan. Lelaki berkulit sawo matang, berbobot kurus, dengan tulang pipi yang sedikit menonjol ini menikah, memiliki anak perempuan dan laki-laki, menghuni rumah bergaya rustic minimalis sederhana.

Memandangi langit-langit rumahnya yang luas tanpa plafon, terbentang arsitektur kuda-kuda yang dirangkai dari balok kayu berserat dengan ukuran-ukuran yang besar. Meraba dinding yang tidak dicat, permukaannya halus. Lantai dipasangi papan lurus. Semua pondasinya kokoh.

Sebagian orang berbisik, mensyukuri hunian sederhana milik Anang, merenungkan kekayaan alam yang ada di sekitar desa dan mungkin masih terjaga, menyediakan segala macam kebutuhan, termasuk bahan-bahan untuk membangun rumah bagi orang-orang Dayak Pitap.

Waktu semakin larut, udara dingin mulai mengelus pori-pori, obrolan kecil yang tadinya ramai perlahan berubah menjadi sunyi. Satu per satu dari kami berbaring di ruang tamu seperti susun sarden berkumpul jadi satu, dan, semua orang pun terlelap, nyaman. “Di tempat ini, kami menginap selama dua hari tiga malam.”

***

Pagi-pagi sekali, Anang berangkat dari rumahnya menuju tapal batas antar desa, ketika hampir semua tamu masih tertidur. Sekilas sebelum keberangkatan Anang, dengan kondisi setengah sadar, Akang yang sedari malam tidur di balik pintu mendengar lusinan orang berseru di luar rumah. Mereka para aparat desa sedang berkumpul, berfoto lalu pergi menggunakan sepeda motor.

Saya sendiri bangun pukul delapan lewat, menyeduh kopi di dapur, lalu menyeruputnya di teras rumah.

Saat menoleh ke sebelah kanan, di antara pagar tanaman setinggi badan yang ditanami renggang, di halaman luas dan lapang, Zainuddin, wartawan media online Klikkalimantan, sibuk menangkap sinyal internet, mondar-mandir di bawah tiang listrik PLN pinggir jalan beraspal. Zai memberi kabar kepada istri dan anaknya yang masih berada di provinsi yang sama, Kabupaten Banjar.

Sungguh, jaringan telepon seluler di Desa Kambiyain teramat jelek, apalagi kualitas internetnya. Cak Kis meningkatkan sinyal, menempatkan dua handphonenya di atas ventilasi pintu semalaman, lalu membuka hotspot, sebagian orang mencoba tersambung, upaya tersebut sia-sia. Di bagian bawah ventilasi dekat jendela, istri Anang mencoba menempatkan handphonenya agar bisa terkoneksi jaringan. Sesekali beberapa pesan di whatsappnya masuk.

Donny Muslim, wartawan media online menelpon seseorang, posisinya di pelataran rumah warga seberang aspal, duduk bersama beberapa orang anak yang tengah asik bermain game online. Di lokasi tersebut, internet dengan jenis kartu tertentu bersifat fluktuatif, seolah kehadirannya seperti ombak di laut lepas yang ditunggu-tunggu oleh para pemain surfing. Jika ombak datang, mereka lepas landas.

“Ada sedikit jaringan, tapi tidak full,” ujar Raden -sapaan akrab untuk Rofiq Septian Fadel Wibisono-, anggota Walhi Kalsel, sambil utak-atik laptopnya.

Internet yang jauh lebih baik sebenarnya bisa didapat jika rela melakukan perjalanan selama 15 menit menggunakan kendaraan bermotor menuju Kecamatan Awayan. Kadang, sebagian dari tim pergi sebentar ke sana membeli keperluan dapur dan tentu saja beberapa bungkus rokok di pasar tradisional Bihara, Desa Sungai Pumpung.

***

Sebelum matahari tergelincir lepas tengah langit, tim pembuat video dokumenter mulai bekerja. Mereka bergegas ke rumah warga bernama Eka, seorang perempuan, di RT 02, dekat balai adat Desa Kambiyain.

Menuju ke sana, dibutuhkan waktu sekitar 10 menit perjalanan dengan mobil Avanza. Setibanya di ujung jalan beraspal, mobil diparkir, lanjut berjalan kaki melalui jembatan darurat setapak yang melintasi sungai. Dari jembatan, mereka harus berjalan kaki lagi sekitar tiga ratus meter.

Beberapa tahun lalu, banjir merusak sarana penyeberangan yang dilewati tadi. Sampai saat ini, masih belum diperbaiki. Gundukan puing, sisa jembatan kayu besi yang hanyut terlihat di ujung persimpangan sungai yang airnya sudah mulai menyusut.

Saya yang kemudian menyusul ke lokasi itu dan melihat protes syuting, bertemu dengan A’an, anak berusia sekitar 12 tahun, memiliki kebutuhan khusus. Dia berbicara dengan bahasa yang sulit dimengerti. Wajah, tangan, kaki, baju, dan celananya begitu kotor oleh tanah yang mengering.

Tiba-tiba, tanpa diinstruksi, A’an membantu saya mengambuil beberpa buah langsat yang tumbuh di belakang rumah warga, dengan sebatang bambu yang sudah lapuk. Setelah buah-buah berhasil dijatuhkan, ia bergeser sedikit ke rumah di sampingnya, lalu bermain dengan teman sebaya.

Kelakuan A’an berisik, melempar kerikil dan sebatang ranting kayu ke sana kemari. Eka, sang pemilik rumah, beberapa kali menyuruh A’an menjauh saat syuting sedang berlangsung.

“Ke sana dulu, jangan ribut,” keluh Eka dengan nada setengah berteriak. A’an menjauh selangkah dua langkah ke belakang, plonga-plongo memperhatikan sambil tersenyum. Posisi giginya terdorong ke depan.

Kehadiran A’an menjadi hiburan tersendiri bagi sebagian orang. Suatu ketika, M Rahim Arza, wartawan dari Asyikasyik.com, membeli hampir setengah kardus minuman berenergi di kios dan membawanya ke teras rumah untuk mengganjal perut lapar. A’an begitu lahap meminumnya.

Awalnya, bocah ini menyambar gelas kemasan yang sudah saya minum seteguk, dengan cepat dia menghabiskannya. Kemudian A’an mengambil gelas baru, memotong bagian bawah kemasan, lalu menghabiskannya.

Tidak berselang semenit setelah menghabiskan gelas kedua, dia membuka minuman lagi, merobek bagian atas segel dengan menancap-tancapkan sebilah parang yang selalu dibawanya kemana pun pergi. Rahim terkejut dan menghitung, A’an sudah menghabiskan lima gelas minuman berenergi, lalu berkata. “Kuat sekali anak ini minumnya.”

Saat kedua telapak tangan kotor A’an basah oleh minuman yang muncrat, dengan cepat dia mengusapnya ke celana jeans hitam yang saya kenakan. Dan tawa kami pun berderai.

Di kawasan ini, pemandangan lazim warga membawa sebilah parang di pinggang, lengkap dengan pembungkus kayu yang disebut kumpang.

Orang Dayak Pitap biasa mengandalkan parang sebagai alat penting untuk bertahan hidup di hutan. Mereka menggunakannya untuk berbagai keperluan, termasuk memotong hewan buruan, membersihkan lahan, membangun tempat perlindungan, dan memasak.

***

Sejak tergelincir matahari hingga menjelang sore, istri dan anak sulung Anang sibuk mengolah dan menyajikan makanan untuk para tamu. Di dapur rumah yang luas, semua orang duduk bersila membentuk setengah lingkaran. Termasuk tim pembuat video dokumenter yang sudah pulang dari lokasi syuting. Untuk mengganjal perut kami yang kosong tuan rumah menyuguhi berbagai lauk pauk sederhana, nasi putih, nasi merah tersaji siap untuk disantap.

Beras merah, bagi masyarakat di Desa Kambiyain adalah produk unggulan yang dikemas dalam tradisi bercocok tanam. Dikelilingi oleh kontur tanah yang cocok untuk pertanian, masyarakat adat Dayak Pitap memanfaatkan kekayaan alamnya, menanam dan merawat ladang, menjaga bersama tradisi turun-temurun yang kaya akan pengetahuan lokal.

Menariknya, beras merah seharga Rp20.000 per kilogram itu tidak dijual ke pasar. Sebagai gantinya, mereka mengkonsumsi hasil panen tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.

Beras merah sering menjadi pilihan bagi para tamu yang datang. Kabarnya, kepala daerah di kabupaten tersebut selalu meminta hidangan favorit berupa beras merah, ketika menikmati jamuan di Desa Kambiyain.

Untuk urusan keanekaragaman hewani, masyarakat Desa Kambiyain terlibat dalam pemeliharaan babi yang dilepasliarkan di halaman rumah. Babi-babi hutan ini biasanya dijual Rp90.000 per kilogram atau dikonsumsi pada acara adat tertentu.

Kabupaten Balangan mayoritas beragama Islam, sementara di Desa Kambiyain mayoritas dihuni oleh masyarakat beragama Hindu. Bangunan pura kecil dibangun di samping rumah warga, termasuk salah satunya ada di samping rumah Anang, sang kepala desa.

***

Ketua AJI Balikpapan Biro Banjarmasin, Didi Gunawan dan seorang kerabatnya tiba di rumah Anang setelah menempuh sekitar satu setengah jam perjalanan dari kota Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Mereka berbaur di ruang tamu, tempat kami berkumpul tadi malam, mengamati foto-foto dewa-dewi Hindu yang terpajang di setiap sisi dinding bagian atas.

Didi melemparkan pertanyaan kepada kami orang-orang beragama muslim, tentang siapa semua sosok foto yang tidak disertai tulisan nama itu secara acak, dan kami tidak mengerti. Dengan fasih, Didi yang juga muslim menyebut nama dewa-dewi itu.

“Itu Dewa Brahma. Itu Dewa Wisnu. Itu Dewa Ganesha. Dewi Laksmi. Dan itu Dewi Saraswati,” sebut Didi, sambil sedikit menjelaskan tugas-tugas mereka.

Didi mengetahui cerita para dewa Hindu karena pernah membaca buku dan gemar menonton sinetron produksi India yang sering tampil di layar kaca Indonesia, yang berhubungan dengan kisah kepercayaan umat Hindu. “Kisahnya asik,” katanya.

Jelang Magrib hampir matahari tenggelam, Anang Suryani tiba di rumah setelah selesai dari tugasnya, mengukur tapal batas desa. Beberapa dari kami bertanya bagaimana situasi di lapangan?.

“Ah, biasalah,” jawab Anang.

“Biasa-biasa pembakal ini.”

“Ada panas-panas sedikitlah.”

“Tapi sempat mengeluarkan parangkah?’

“Ah, biasalah itu,” ulang Anang, dengan senyum yang tidak begitu meyakinkan.

***

Malam tiba, Balai Adat Desa Kambiyain diisi penuh orang-orang Dayak Pitap dari segala jenis usia, tua, muda, anak-anak, laki-laki, dan perempuan. Mereka duduk bersila membentuk lingkaran lonjong, berlapis-lapis. Bergelas-gelas kopi, teh, beberapa bungkus kue instan disajikan. Bercengkrama hingga larut malam.

Tokoh masyarakat dan aktivis lingkungan orasinya berapi-api. Mereka memperkenalkan diri, lalu berdiskusi menentang segala jenis aktivitas pertambangan dan perkebunan monokultur berskala besar. Sejarahnya, sudah puluhan tahun yang lalu hutan masyarakat adat Dayak Pitap jadi target pemodal yang hendak mengambil sumber daya alam yang ada di perutnya. Sumber daya alam di tanah berlimpah mengandung, gamping, bijih besi, emas dan batu bara. Mereka percaya jika hutan hilang, masa depan anak cucu terancam.

“Kami menolak. Dampaknya nanti tidak hanya pada kami, tapi bisa sampai ke provinsi. Jika ingin kaya sudah sejak lama, macam-macam resiko yang didapat,” ujar Ulan, sesepuh Dayak Pitap.

Ceritanya, sudah 6 kali lansia itu berangkat ke Jakarta melakukan aksi penolakan atas aktivitas tambang di tanah adat. Barangkali bagi mereka, hutan memiliki makna yang begitu religius. Perusahaan pertambangan dan perkebunan kelapa sawit sudah masuk sejak 20 tahun yang lalu merambah wilayah adat. Ada pengusaha lokal, nasional, dan luar negeri.

“Aku mengharapkan kepada anak-anak kedepannya agar seperti kami juga, jangan mau pas melihat uang segepok, jangan diterima. Itulah pesanku kepada masyarakat. Itulah perjuangan dan maunya kami,” harapnya, diiringi tepuk tangan semua orang.

Lain lagi cerita Didi, seorang warga Dayak Pitap lainnya, saat aksi di Jakarta. Dia lupa persis tahunnya, era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kala itu umur Didi masih sangat muda. Momen paling diingat dia sewaktu seorang wanita penghibur berparas cantik dikirim ke kamarnya, itu duga adalah kado manis dari perusahaan tambang.

“Ada perempuan datang ke kamar, tok-tok-tok di luar pintu saat tengah malam. Barangnya bagus daripada yang di rumah, aduh kita tolak. Hampir kebobolan kita,” cerita Didi mengundang gelagak tawa semua orang.

“Berbagai macam cara dilakukan perusahaan itu untuk kita,” akunya.

Di sisi lain, Anang juga mengisahkan pengalamannya, di hadapan semua orang dia bersumpah, selama menjabat sebagai kepala desa tidak akan pernah mengizinkan aktivitas perkebunan monokultur berskala besar apalagi pertambangan.

“Kalau dibilang menang saat ini kita ya tidak juga. Kalau dibilang kalah ya tidak juga. Pernah orang perusahaan kita datangi ke campnya di sini saat mau beroperasi. Kita ucap, bila tidak pergi sekarang urusan nyawa kami tidak menjamin bila terjadi apa-apa, ya terpaksa mereka pergi,” kata Anang. Semua orang mendengarkan dengan serius.

Cak Kis memberi motivasi jika masyarakat adat Dayak Pitap sebenarnya dapat hidup mandiri dengan kearifan lokalnya sendiri. Tanah adat tidak perlu dikeruk sebagai dalil peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), tanah di kaki Pegunungan Meratus yang subur ini diyakini memiliki nilai pada sektor pertanian yang berlimpah. Cabai rawit, pisang, kacang tanah, hasil panen perkebunan karet rakyat tersedia.

“Kita mendorong Kambiyain memiliki Bumdes untuk sektor ekonomi. Yang penting mau dulu, ekonomi kerakyatan penting,” harapnya.

Tiba-tiba, Anang melempar ide. “Kalo mau, usaha air minum juga bisa,” sahutnya.

“Nantilah dirumuskan pada saat membahas mengenai Bumdes itu tadi,” ujar Cak Kis.

Sekitar pukul 22.12 waktu setempat, listrik tiba-tiba padam, cukup lama. Dua, tiga orang sibuk menyalakan lampu portable, diskusi tetap dilanjutkan.

Masyarakat di Desa Kambiyain baru merasakan aliran listrik PLN pada 2019. Sebelumnya sebagian kecil masyarakat adat menggunakan air sebagai sumber energinya sendiri. Kendati masih kurang maksimal, nyatanya energi terbarukan itu pernah dicoba.

Potensi pembangkit listrik tenaga air mikrohidro di Sungai Pitap pernah tercatat dalam Jurnal Engine: Energi, Manufaktur, dan Material yang disusun oleh Rendi, Arifin, Mujiburrahman, dan Trianiza pada tahun 2020 saat melakukan penelitian dalam Program Studi Teknik Mesin, Universitas Islam Kalimantan.

Dilakukan selama tiga bulan, penelitian mendapati hasil potensi hidrolik di Sungai Pitap mencapai 628,5 kilowatt pada Januari, kemudian pada 487 kilowatt saat April, dan pada Juli menjadi 458,5 kilowatt.

Sedikit perbedaan angka kilowatt disebabkan perubahan musim. Januari adalah musim hujan, sedangkan bulan April dan Juli adalah musim kemarau. Berdasarkan perhitungan kapasitas daya pembangkit rata-rata dari Sungai Pitap adalah 419,7 kilowatt.

Jika Sungai Pitap dipasang turbin banki, turbin francis, atau turbin kaplan dengan efisiensi turbin 74 persen, efisiensi generator 0,85 dan efisiensi transmisi 0,98 maka daya yang dihasilkan bisa sebesar 258,71 kilowatt.

Tidak terasa, diskusi di Balai Adat Desa Kambiyain semakin larut, pukul 23.34 Wita, teko yang tadinya penuh diisi kopi dan teh tinggal ampas. Makanan ringan habis, menyisakan bungkus-bungkus plastik, dan sebagian anak-anak sudah tertidur diatas pangkuan orangtuanya yang duduk bersila. Diskusi ditutup, paduan suara. “Siapa kita?”

“Dayak Pitap.”

***

Menjelang tengah hari pada Senin 25 Desember 2023 di Kota Banjarbaru, saya terkesiap membuka grup WhatsApp Media Trip. M Rahim Arza mengirim percakapan beruntun. Ada kabar duka.

“Him.”

“Nda lawan doni kecelakaan.” (Saya dan Donny kecelakaan).

“Innalillah, gimana kondisinya? perlu bantuan, daerah mana,” Rahim bertanya-tanya.

Di bawah pesan, diteruskan foto Donny Muslim terbaring di dalam mobil ambulans, hampir seluruh wajah berlumuran darah. Tangan kanan, lecet-lecet.

Waktu itu, Donny satu-satunya wartawan yang tidak pulang ke Kota Banjarbaru bersama rombongan pada Minggu 24 Desember 2023. Dia sengaja menunggu Riyad Dahfi Rizky, wartawan lokal, menulis untuk Mongabay Indonesia yang berangkat dari Kota Banjarmasin, melakukan peliputan susulan untuk orang-orang Dayak Pitap di Kabupaten Balangan.

Pada hari peliputan, terjadi kecelakaan, Donny dan Riyad berboncengan dari Desa Kambiyain menuju Desa Ajung, masih di Kecamatan Tebing Tinggi. Penyebab laka tunggal itu rem motor bebek yang mereka kendarai berdua blong. Kondisi kontur perbukitan licin dan sulit dikendalikan. Beruntung, Riyad si driver tidak mengalami cedera yang cukup serius.

Donny dilarikan ke RSUD Balangan, luka luka dibersihkan, bibirnya dapat satu atau dua jahitan, pelipis mata diperban. Setelah dilakukan CT scan pihak rumah sakit memperbolehkannya pulang. Dia tidak dirawat inap. Di Desa Kambiyain orang-orang yang mengetahui kabar laka tunggal Donny dan Riyad dihari itu, turun gunung ke Paringin, ibu kota Kabupaten Balangan, ada Anang Suriani sang kepala desa, Didi dan satu orang warga lainnya. Kami intens berkomunikasi bertanya-tanya kondisi terbaru mereka berdua.

Di Banjarbaru, Direktur Walhi Kalsel melempar ide menjemput Donny.

“Kita jemput Donny ke Balangan..”

“Siapa yang mau ikut?.

“Dan kapan kita berangkat?” ajak Cak Kis.

Bersama Rahim, Cak Kis memutuskan berangkat pukul 22.45 Wita dan tiba pukul dua subuh di kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) perwakilan Kabupaten Balangan, tempat untuk Donny dan kawan-kawan satu profesi menginap semalaman. Kami berhutang budi.

Selasa 26 Desember rombongan kembali ke Banjarbaru. Kecuali Riyad, mengendarai sepeda motor, pulang menuju kota Banjarmasin.

Sesampainya Donny, Rahim dan Cak Kis di kantor Walhi Kalsel, saya menawari sebatang rokok kretek kepada Donny yang bibirnya masih membengkak, condong ke depan. Pertama kalinya dia menolak, melirik kesal, kemudian menunduk seperti ayam yang sedang sakit dan, kami semua pun tertawa. Akrab. (Kanalkalimantan.com/rendy tisna).

Artikel berjudul “Dibalik Berita: Sehimpun Kisah dari Kambiyain” ini diterbitkan atas dukungan dari Walhi Kalsel, Greenpeace Indonesia, dan AJI Balikpapan Biro Banjarmasin.

Reporter : rendy
Editor : bie


iklan

Komentar

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->