Connect with us

Kota Banjarmasin

Belum Diresmikan, Areal Jembatan Sei Alalak Terendam Saat Hujan Deras!

Diterbitkan

pada

Jembatan Sei Alalak terendam air akibat hujan deras, Selasa (21/9/2021) sore. Foto: ist/instagram
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Jembatan Sei Alalak yang menghubungkan Kota Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala diproyeksikan menjadi ikon wisata baru di Banjarmasin khususnya, dan Kalimantan Selatan. Namun belum diresmikan, jembatan tersebut sudah terendam banjir saat hujan deras pada Selasa (21/9/2021) sekitar pukul 16:00 Wita.

Saat dikonfirmasi kanalkalimantan.com, Daniel Hutagalung selaku Field Supervisor Coordinator Sungai Alalak Banjarmasin mengatakan banjir terjadi karena bagian ujung dari saluran pembuangan ke sungai belum dibuka.

“Saluran pembuangan belum dibuka karena sekarang dalam keadaan sedang dirapikan,” jelasnya.

Ia mengatakan, langkah perapian tersebut sebenarnya tak memakan waktu lama.



 

 

Jembatan Sei Alalak terendam air akibat hujan deras, Selasa (21/9/2021) sore. Foto: ist/instagram

Baca juga : DPRD Kapuas Dengarkan Jawaban Eksekutif Terhadap Pemandangan Umum Fraksi Terkait Perubahan APBD 2021

“Namun ada permintaan pembuatan gorong-gorong, saat ini masih belum tahu biaya tambahan itu dari mana,” terang Daniel.

“Sesuai desain saluran memang terbuka dan sekarang saluran ke tanah itu sudah kami buka untuk sementara. Selagi menunggu tambahan pembuatan gorong-gorong,” tutupnya.

Jembatan lengkung (cable stayed) pertama yang dibangun di Indonesia tersebut diharapkan jadi ikon baru kebanggaan Kota Banjarmasin. Pembangunan jembatan dengan sistem melengkung menjadi jembatan dengan desain unik. Cable stayed merupakan jembatan yang menggunakan kabel-kabel berkekuatan tinggi sebagai penggantung yang menghubungkan gelagar dengan menara.

Pada umumnya jembatan cable stayed menggunakan gelagar baja, rangka, beton atau beton pratekan sebagai gelagar utama. Pembangunan jembatan dengan sistem cable stayed memiliki tingkat kesulitan yang cukup komplek, apalagi dengan struktur tanah di sekitar jembatan yang lembek.

 

Baca juga : Kabar Duka! Pakar Hukum Profesor JE Sahetapy Meninggal Dunia

Namun demikian, persoalan tersebut telah diantisipasi dengan menggunakan tiang pancang yang cukup panjang. Tiang pancang tersebut memiliki panjang 70 meter dan diameter 1,8 meter. Ini sebagai upaya untuk mengantisipasi struktur tanah di sekitar jembatan yang masih cukup lunak.

Direktur Pembangunan Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Yudha Handita Panjiriawan, mengatakan, konstruksi struktur utama jembatan Sei Alalak sudah selesai.

Jembatan Sei Alalak dibangun untuk menggantikan Jembatan Kayu Tangi 1 yang telah berusia sekitar 30 tahun. Jembatan tersebut menjadi jalur utama akses Kota Banjarmasin dengan berbagai wilayah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kalimantan Selatan Syauqi Kamal mengatakan, pembangunan jembatan yang menghubungkan wilayah Kota Banjarmasin dengan Kabupaten Barito Koala tersebut menantang karena dibangun di atas tanah lunak atau gambut.

Baca juga : Duh, Residivis Jambret yang Sudah Tertangkap Tangan Kabur dari Mapolres Banjarbaru!

“Fondasi jembatan kedalamannya sampai 75 meter dengan diameter pancangnya sebesar 1,8 meter. Jembatan Sei Alalak juga menjadi ikon baru kota Banjarmasin maupun provinsi Kalimantan Selatan,” tutur Syauqi.

Jembatan Sei Alalak berlokasi di jalur utama lintas selatan Trans Kalimantan. Keberadaan jembatan tersebut meningkatkan kapasitas jalan lintas selatan sehingga mendukung konektivitas kota Banjarmasin baik ke arah Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Timur.

Jembatan Sei Alalak dibangun dengan panjang keseluruhan 850 meter yang terbagi menjadi bagian jembatan utama dengan struktur cable stayed sepanjang 130 meter, jembatan pendekat dengan struktur pileslab sepanjang 295 meter dan oprit jembatan sepanjang 425 meter.

Dana pembangunan jembatan tersebut menggunakan alokasi Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) kontrak tahun jamak 2018-2021 senilai Rp 272 miliar.

Baca juga : Persiapan Tatap Muka, Pelajar SMKN 2 Amuntai Divaksin Sinovac

Jembatan lengkung Sei Alalak didesain untuk dapat dilintasi kendaraan dengan tonase maksimal 10 ton, lebih kuat dari struktur jembatan lama Kayu Tangi 1 yang berasal dari rangka baja kelas B dengan kemampuan menahan beban kurang dari 8 ton.

Selain itu, juga telah diperhitungkan kekuatan jembatan ini dengan konstruksi tahan gempa, dan masa layanan hingga 100 tahun. (Kanalkalimantan.com/chandra)

Reporter : chandra
Editor: cell


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->