Connect with us

IPTEK

Bantu Petani Madu Kelulut di Pengaron, Dosen FMIPA ULM Kenalkan Alat Pemroses Dehumidifier

Diterbitkan

pada

Dosen FMIPA ULM kenalkan alat pemroses dehumidifier bagi petani madu kelulud di pengaron, Kabupaten Banjar. Foto : ist
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

MARTAPURA, Guna meningkatkan mutu dan kualitas madu kelulut petani madu di Desa Mangkuak, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, sejumlah dosen dari Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ULM, mengenalkan diseminasi menggunakan dehumidifier dan pipa venturi. Model ini terbukti mampu mengurangi kandungan air dalam madu sehingga rasanya lebih enak dan tak menjadi masam.

Program pengabdian masyarakat yang diketuai dosen Program Studi (Prodi) Farmasi FMIPA, Khoerul Anwar M.Sc, Apt, dengan anggota Liling Triyasmono, M.Sc, Apt (Prodi Farmasi) dan Drs Heri Budi Santoso, M.Si (Jurusan Biologi) ini, terbuksti secara signifikan mampu meningkatkan kualitas madu kelulut.

“Selama ini salah satu masalah dalam budi daya madu kelulut adalah kualitas madunya yang masih mengandung air dengan kadar tinggi. Kandungan air tersebut dapat merusak kualitas madu karena dapat menyebabkan terjadinya fermentasi sehingga madu akan berubah rasa menjadi masam,” jelas Khoerul.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan mitra UKM Madu Zahra di Desa Mangkauk, Kecamatan Pengaron yang diketuai Syaifuddin. Budi daya madu oleh Syaifuddin sudah dilakukan sejak tahun 2016 dan sekarang sudah memiliki lebih dari 100 log sarang lebah kelulut.



Masyarakat sekitar pun sudah mulai membudidayakan madu kelulut. Dimana Syaifuddin menjadi i penampungnya. “Untuk melaksanakan budi daya madu kelulut ini perlu ditunjang juga dengan bunga yang tumbuh sepanjang tahun. Karena bunga inilah yang menjadi makanan dari kelulut untuk nantinya bisa berpoduksi dalam bentuk madu,” terang Khoerul.

Alat pengering madu berbasis dehumidifier. Foto : ist

Didiseminasikan menggunakan dehumidifier untuk mengurangi kadar air madu kelulut. Alat pengurang kadar air berbasis dehumifier yang dibuat oleh tim diseminasi teknologi. Tujuannya berfungsi mengurangi kadar air dari sekitar 28% menjadi 21% sehingga sudah memenuhi persyaratan SNI madu.

“Alat lain yang digunakan adalah lemari pengurang kadar air dari bahan stainless steel yang dikombinasikan dengan dehumidifier dan blower. Tujuannya untuk menyerap air yang terkandung di madu kelulut. Sebelumnya, untuk mengambil madu kelulut dari sarangnya menggunakan alat penyedot yang juga didiseminasikan,” paparnya.

Dari pengujian laboratorium di Baristan Banjarbaru, pengeringan madu dengan alat ini tidak mengurangi parameter kualitas madu. Selain itu dengan izin PIRT dan sertifikat halal dari LPPOM-MUI diharapkan madu kelulut yang diproduksinya dengan merk Madu Kelulut Zahra akan lebih meningkat omzet.

Pengambilan madu kelulut dengan alat penyedot. Foto : ist

Khoerul selaku ketua tim pengabdian menyatakan, budi daya kelulut yang dilakukan harus diimbangi dengan penjaminan kualitas dari produk madu yang dihasilkan. Penggunaan alat pengering berbasis dehumidifier dan alat penyedot hanyalah alat bantu untuk meningkatakan kualtas mutu madu. “Yang terpenting adalah menjaga kepercayaan masyarakat terkait keaslian madu dengan tidak mencampurnya dengan bahan lainnya,” harapnya.

Ke depan Khoerul juga berharap budidaya madu kelulut ini bisa menjadi ekoeduwisata sehingga dapat menambah pengetahuan masyarakat terkait madu kelulut.

Sementara itu, Syaifuddin selaku mitra, berharap kualitas madu kelulut yang diproduksinya akan terjaga dengan baik. Masyarakat juga akan lebih yakin menggunakannya karena kualitas yang dimilikinya.”Dengan alat penemuan dari Bapak dosen di FMIPA ULM, akan membantu petani madu kelulut di Pengaron. Terutama untuk menjaga kualitas dan mutu madu kelulut untuk dijual,” ungkapnya. (cel)

Reporter : Cel
Editor : Chell


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->