Connect with us

Budaya

AFK 2018 Berakhir, ‘PR’ Sineas Banua Baru Saja Dimulai

Diterbitkan

pada

Penganugerahan Mandau Emas & Mandau Perak AFK 2018, di gedung Balairung Sari Taman Budaya, Banjarmasin, Sabtu (24/11) malam. Foto : fb agus makkie

BANJARMASIN, Rentetan kegiatan Aruh Film Kalimantan (AFK) 2018 berlangsung hampir sebulan ditutup meriah dalam malam penganugerahan Mandau Emas & Mandau Perak, di gedung Balairung Sari Taman Budaya, Banjarmasin, Sabtu (24/11) malam.

Penutupan AFK 2018 bukan berarti menjadi akhir ‘acara’ para sineas Banua mengembangkan perfilman di Kalsel. Justru AFK 2018 menjadi gerbang pembuka memajukan perfilman Kalsel ke level lebih tinggi.

Ada pun film yang memenangi nominasi Mandau Emas adalah “Bagian Tengah Masih Terang” produksi Gertak Film, Pontianak dan untuk pemenang nominasi Mandau Perak adalah “Utas Jagau” produksi Sapakawanan Project, SMKN 3 Banjarmasin.

Ditambah satu film yang mendapat special mention (penghargaan khusus dari juri) yaitu”‘Vice Versa (Begitupun Sebaliknya)” produksi Dragon Hajati.

Munir Shadikin, Programmer Festival AFK 2018 mengakui, semua ini masih belum berakhir dan justru menjadi sebuah pekerjaan rumah untuk Forum Sineas Banua ke depan.

“Sebenarnya belum berakhir. Masih banyak ‘PR’. Setelah ini, filmnya mau dikemanakan, bagaimana tahun depan lagi, dan merancang hal lainnya. Banyak sekali evaluasinya,” ujarnya.

AFK 2018 sendiri merupakan gelaran perdana hasil gagasan Forum Sineas Banua (FSB). Dan tentu saja perlu gaung yang lebih besar, agar masyarakat mengetahui bahwa perfilman di Banua itu hidup.


Munir menambahkan, apakah festival ini signifikan atau tidak, hasilnya tidak serta-merta muncul secara instan.  “Kita menyebut festival signifikan atau tidak, itu bukan (dari hasil) di tahun pertama atau tahun kedua saja. Tapi bisa jadi baru ada di tahun kelima,” katanya.

Persiapan adalah hal utama, jika FSB ingin gaung AFK kali pertama ini terus berlanjut ke depan. Hal seperti ini tidak lepas dari perhatian Munir dan kawan-kawan dari FSB. Persiapan yang matang serta dukungan materil dan tenaga sangat diperlukan.

Munir mengakui, persiapan mereka terhitung sangat singkat untuk AFK 2018 ini, juga tentu sangat menguras tenaga dan lainnya.

Pria berkacamata ini menambahkan, dukungan untuk kegiatan seperti ini bisa datang dari siapa saja. Selain itu ia dan teman-temannya mencoba untuk menghindari ketergantungan dukungan bantuan tidak hanya datang dari satu titik saja.

“(Bantuan) Tidak hanya pemerintah saja. Swasta, teman-teman voulenteer, para film maker, penonton. Semuanya berperan dalam pembentukan ini,” akunya.

Festival seperti ini bukan hanya tanggungan untuk FSB sendiri. Reaksi dan tanggapan masyarakat yang berperan sangat vital. “Kita (FSB) di sini sebagai pemantiknya,” beber Munir.

Setelah festival berakhir, di sinilah FSB harus membuktikan bagaimana film-film yang masuk dan memenangi nominasi AFK bisa mencapai penonton lebih luas mulai dari kabupaten/kota di Kalsel, provinsi tetangga, hingga akhirnya ke luar Kalimantan.

Munir sendiri mengaku optimis, karakter film-film di AFK mempunyai kekuatan dan karakter sendiri dan ia yakin akan lebih banyak penonton di luar yang akan tertarik menonton. (mario)

Reporter : Mario
Editor : Abi Zarrin Al Ghifari

Bagikan berita ini!