Connect with us

HEADLINE

Acil Siti, Sang Kreator Purun untuk Indonesia

Diterbitkan

pada

Acil Siti ikut melakukan pemberdayaan warga melalui kerajinan purun. Foto: desy

BANJARBARU, Gaung bebas plastik turut mengangkat pamor tas purun khas Kalimantan menembus nilai tertingginya. Kerajinan purun dinilai ecofriendly yang mampu menggantikan plastik sebagai kantong belanja. Dan lebihnya lagi, dengan kreatifitas tinggi purun bisa diolah menjadi produk tas, penutup gelas, bahkan tempat tanaman.

Salah satu tempat penghasil kerajinan purun di Banjarbaru ada di Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka. Tepatnya di jalan Purnawirawan, nama beken yang disematkan pun sudah terkenal hingga ke luar pulau. Tempat ini terkoneksi dengan sejumlah objek wisata yang berada disekitar kecamatan Cempaka salah satunya objek wisata Danau Seran sebuah danau bekas galian tambang intan PT Galuh Cempaka.

Kampung Purun namanya.  Memasuki kampung ini seakan memasuki sebuah bengkel seni yang panjang. Setiap rumah memajang hasil kerajinan purun yang mereka olah. Dan disetiap halaman rumah nampak purun yang siap diolah sedang dijemur baik yang masih asli maupun yang sudah diberi pewarna sintetis.

Salah seorang penggerak kreator purun di kampung ini adalah Siti Mariyana, wanita berusia 39 tahun ini biasa dipanggil Acil Siti. Acil dalam bahasa Banjar berarti Tante. Hari minggu yang cerah (5/5), Kanalkalimantan.com ditemani oleh Resyta menemui Acil Siti dibengkel seninya.

Resyta adalah mahsiswi semester akhir fakultas kehutanan ULM (Universita Lambung Mangkurat). Resyta juga pengelola sekolah alam di Kampung Purun, itulah sebab ia hafal dan mengenal tiap lekuk kampung ini. Nanti kita akan bercerita tentang Resyta dan sekolah alam kampung purun tapi kali ini kita fokus pada si Acil Bungas dari kampung purun Acil Siti.

Di rumah Acil Siti hari itu, sudah ada pelanggan yang lagi mengambil pesanan tas purun. Lumayan sibuk Acil Siti karena masih ada tambahan lagi yang mesti diolah. “Saya sudah sering beli dan pesan tas purun hasil karya Acil Siti. Dan kali ini beli tas untuk lomba PKK tingkat Provinsi,” ujar pembeli karya Acil Siti yang tak lain adalah Ibu Lurah Landasan Ulin Utara, Nana.

Sebelum ini, Nana juga membeli bakul purun Acil Siti untuk dibagikan pada warga komplek perumahan ASMI di Landasan Ulin. Program yang digagas Nana adalah mengumpulkan beras tiap kali ibu-ibu komplek memasak. “Jadi jika dalam sehari ibu-ibu memasak tiga kali maka tiga kali juga mereka menyisihkan beras satu sendok makan dan berasnya dimasukan kedalam bakul purun. Selain beras bisa juga berupa minyak, telor atau gula,” cerita Nana. Bahan mentah yang dikumpulkan oleh warga akan disalurkan kepada warga miskin.

***

Ibu Nana

Keahlian Acil Siti dalam menganyam purun sudah terkenal sejak dulu. Itu adalah ilmu turun-temurun yang dikuasi sejak kecil. Hanya saja, kemampuan kreasinya berkembang diawal tahun 2016 kala itu ada Lina dari Margasari, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) yang datang dan memberikan pelatihan singkat tentang kreasi dari anyaman Purun. “Mulai itu saya tidak lagi menjual anyaman purun konvensional seperti tikar, topi dan bakul. Berkembang menjadi tas wanita, tempat tanaman, tempat gelas, rak buku,” terang ibu dua anak ini.

Kalau dulu dengan produk konvesional hanya laku Rp 5-7 ribu, setelah dikreasi bisa dijual hingga  ratusan ribu rupiah. “Tas original belum menggunakan kain pelapis dalam dan belum ada hiasan itu dihargai antara Rp 10- 35 ribu tergantung besar kecilnya,” ungkap Acil Siti yang memang sudah pandai menjahit dengan mesin ini.

Produk kreasi Acil Siti dijual antara Rp 75- 350 ribu. Trgantung kerumitan anyaman, besar atau kecil ukuran dan materi pelengkapnya juga sangat berpengaruh. Sampai sejauh ini produk olahan Acil Siti dipasarkan hingga Bali dan Jogja. “Keluar negeri belum tapi sepertinya yang dari Bali dan Jogja itu mereka jual lagi ke luar negeri,” jelas Acil Siti yang sekarang juga memasarkan produknya melalui Instagram dengan nama akun Al Firdaus.

Di Kampung Purun ini, ada 2 kelompok pengrajin. Yaitu Galuh Cempaka dan Al Firdaus. Acil Siti sebgai ketua kelompok pengrajin Al Firdaus yang memiliki beberapa geng, antara lain Pelangi Al Firdaus, Galuh Banjar dan Al Firdaus. Pengrajin yang dibawah komando Acil Siti berjumlah 30 orang sementara anggota koperasi berjumlah 33 orang.

Dari hasil penjualan kerajinan tiap anggota menyisihkan seribu rupiah untuk disimpan di koperasi. “Nama Al Firdaus diambil dengan harapan hasil purun ini mampu menjadi surga bagi anggotanya,” kilah istri Pak Rahmad.

Dulu sebelum menjadi pengrajin anyaman purun dengan kreasi, Acil Siti hanya menjadi buruh tani dan pendapatannya juga mengandalkan pengasilan bertani dari suami. Tapi kini setiap bulan tak kurang 1 juta mampu dihasilkan Acil Siti yang hanya berpendidikan Sekolah Dasar ini.

“Harapannya semakin banyak lagi peminat kerjinan purun, sehingga meningkat pula penghasilan para pengrajin anyaman purun,” tutup Acil Siti pada kanalkalimantan sembari memperlihatkan hasil karyanya. (Desy)

Reporter:Desy
Editor:Cell

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->