Connect with us

Bisnis

Uyah Wadi Produk Urang Banjar Promo ke Negeri Ginseng

Diterbitkan

pada

Produk uyah wadi untuk asinan yang sudah dikemas. foto: mario

BANJARMASIN, Uyah wadi sebentar lagi akan go internasional. Uyah wadi ini direncanakan akan dibawa ke Korea Selatan pada November mendatang untuk dikenalkan sebagai salah satu ciri khas kuliner kota Banjarmasin.

Uyah wadi yang akan go internasional ini adalah produk milik Satuan Komunitas Scout 3 Penjuru (SAKO), sebuah organisi yang bergerak di bidang pramuka dan sosial.

Sekadar diketahui, uyah wadi adalah pelengkap rasa saat menyantap rujak, baik itu buah yang manis atau asam. Uyah wadi ini merupakan makanan khas yang sangat digemari oleh masyarakat Banjar pada umumnya. Bahan dari Uyah Wadi sendiri merupakan hasil ikan yang difermentasikan dengan bahan alami lainnya, dapat bertahan lama disimpan di dalam lemari es.

Ketua SAKO, Hendri Gunadi mengatakan, hal ini bermula dari kegaiatan hasta karya SAKO yang kemudian dilirik Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Banjarmasin. Dispora Banjarmasinlalu mengajak mereka untuk mengolah suatu ciri khas kota Banjarmasin yang bisa dibawa untuk go internasional.

“Kami pikirkan. Dapat untuk uyah wadi, kan karena itu ikonnya kota Banjarmasin. Di mana pun orang taunya uyah wadi itu adanya dari Kalimantan. Terutama Kalsel, apalagi ciri khas sekali aromanya,” terang Hendri.

Selain aromnya yang khas, uyah wadi sangat jarang ditemukan di luar Kalimantan, terang Hendri. Jikapun ada, rasa khas dari uyah wadi tersebut pasti akan berbeda. Lain halnya dengan kain sasirangan atau ikon kota lainnya yang mungkin bisa saja ditemukan dijual di luar Kalimantan. Berbedanya lagi, uyah wadi milik SAKO ini menggunakan resep turunan keluarga Hendri yang berasal dari Kandangan. “Untuk daerah Kandangan pasti uyah wadi itu ciri khas,” tuturnya.

Uyah wadi milik SAKO sendiri perlu memakan waktu proses pembuatan tiga hingga enam bulan. Mereka menggunakan air asinan dari ikan betok atau yang dikenal oleh masyarakat Kalsel sebagai ikan papuyu. Kemudian setelah itu disangrai lalu dicampur dengan resep turun temurun milik Hendri. Karena memakan waktu yang lumayan panjang ini, Hendri menyiasati dengan menggunakan air garam yang dibeli dari masyarakat daerah Sungai Lulut dan Kandangan. “Hal ini juga guna membantui perekonomian masyarakat,” kata Hendri.

Uyah wadi milik SAKO ini pernah terlibat dalam kegiatan pemuda pelopor yang diadakan Dispora Banjarmasin. Para peserta yang ikut adalah mereka yang memiliki karya nyata bidang kepeloporan yang dilaksanakan secara konsisten dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat serta mampu memberikan nilai tumbuh pada aspek kehidupan masyarakat. Selain itu, uyah wadi milik SAKO memiliki varian rasa yang mereka kombinasikan seperti dengan serai dan kunyit. (mario)

Reporter : Mario
Editor : Bie

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca
Advertisement
-->