Connect with us

HEADLINE

Perjuangan #SaveMeratus Masih Panjang, Komitmen Wakil Rakyat Kalsel Ditagih

Diterbitkan

pada

Diskusi Terbuka Seni dan Lingkungan Kalsel yang berlangsung di Taman Budaya, Rabu (22/5) malam. foto : mario

BANJARMASIN, Perjuangan #SaveMeratus masih jauh dari garis akhir. Memasuki tahun kedua, diakui oleh praktisi dan pemerhati lingkungan, Budi Kurniawan bahwa tujuan utama dari perjuangan #SaveMeratus agar Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencabut izin pertambangan batu bara dan kelapa sawit paling tidak di Hulu Sungai Tengah (HST), atau jika mungkin di seluruh wilayah termasuk Tabalong dan juga Balangan.

Hal tersebut diutarakan Budi Kurniawan kala menjadi narasumber Diskusi Terbuka Seni dan Lingkungan Kalsel yang berlangsung di Taman Budaya, Rabu (22/5) malam, yang diikuti pelajar dan mahasiswa.

“Tapi kita realistis melihat situasi, sebenarnya itu bisa dilakukan, pemerintah pusat bisa mengeluarkan HST dari perizinan itu dengan jaminan bahwa seluruh masyarakat HST menolak. Dasar hukum penolakan pun jelas ada di RPJMD dan sikap (penolakan) masyarakat sudah disampaikan berkali-kali,” jelas Budi.

Menurutnya, pencabutan perizinan tersebut bisa saja dilakukan oleh pemerintah pusat dengan mempertimbangkan bahwa hal ini merupakan langkah untuk penyelematan hutan hujan tropis terakhir atau menghitung kabupaten-kabupaten yang terkena dampak dari aktivitas pertambangan yang ada.

Melihat masih jauhnya tercapai target pencabutan izin tersebut bahkan sempat membuat para aktivis terbesit sebuah ide untuk menggelar semacam aksi massa besar yang tidak bertujuan untuk membuat pemerintah mencabut izin tambang tersebut. Pemkab HST mewakili masyarakat HST harus menemui gubernur, menteri ESDM atau bahkan Presiden untuk mencabut izin yang sudah ada.

“Karena dengan dukungan real dari masyarakat seluruh Kalsel misalnya atau HST saja, pasti bupati akan berani menyampaikan itu ke Presiden. Kedua, kita juga berharap anggota parlemen yang terpilih di HST maupun wilayah Kalsel punya komitmen pada Meratus, jangan setelah terpilih mereka lupa pada janji-janji mereka,” lanjutnya.

Pada tahun 2025 RPJM HST yang membentengi pertambangan batubara dan perkebunan sawit akan habis masanya. Sehingga alur ‘bola’ akan ditentukan oleh para anggota parlemen lokal nantinya. “Jika anggota parlemen lokal bermain api merubah RPJM-nya, maka benteng terakhir di HST pasti akan roboh,” tukas Budi.

Namun tentu jika para parlemen berani untuk merubah RPJM yang ada pasti harus ada resiko besar yang akan dihadapi.

Meratus dan Seni

Seorang akademisi seni, Sumasno Hadi mengatakan, di dalam tingkat praktis maupun akademis, seni sangat potensial untuk terlibat dalam isu-isu yang nyata di masyarakat. Untuk #SaveMeratus misalnya, tentu harus menggunakan cara-cara konstitusional, yuridis, hukum, dan lain-lain. Namun, seni juga bisa digunakan untuk melengkapi gerakan yang sifatnya kultural. Apalagi basis kesenian di Kalsel yang bersifat ritualistik mampu menjadi kekuatan besar.

“Kalau bicara hanya tataran seni industrial, kurang menyentuh. Bagaimana sih menghubungkan seni dengan agama di wilayah Banjar yang secara kultural sangat kuat ke-Islamannya. Selama ini, itu belum banyak digarap,” ungkapnya.

Menurut Sumasno, untuk menggugah serta memberi memberi penyadaran #SaveMeratus kepada masyarakat tidak cukup dengan intelektual ataupun seminar tapi bisa juga menggunakan medium ragam seni seperti seni pertunjukan, sastra, dan masih banyak lagi.

Tentu untuk melakukan hal ini perlu sebuah kesadaran dari si seniman dan juga distribusi wacana atau kesepahaman bersama di antara kalangan seniman.

“Bagaimana karya seni itu kita munculkan sehingga kontekstual, tidak mengawang-awang, bahkan menjadi seksi. Mungkin media komunikasi saat ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk memunculkan kreasi-kreasi seni yang tidak konvensional,” terangnya.

Sumasno mengambil contoh seorang seniman di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Bramantyo, menggelorakan seni kejadian berdampak. Karya seni tersebut diciptakan sedemikian rupa dengan partisipasi masyarakat.
Bramantyo menggali lagi mitos-mitos lokal untuk dibangun. Sebab mitoslah yang dekat dengan masyarakat. Sehingga kesenian menjadi sebuah jembatan untuk menggugah hati masyarakat.

“Disitu ikatan antar masyarakat menjadi satu, pada event kesenian seperti itu masyarakat jadi tidak membeda-bedakan misalnya saya dosen, saya pejabat, tidak. Dia merasa dia adalah bagian dari ritual, ‘saya bagian dari proses kesenian’. Saya kira itu bisa menjadi contoh untuk kita menggali akar kesenian kita yang sifatnya ritualistik,” terangnya. (mario)

Reporter:mario
Editor:bie

 

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->