Connect with us

Kota Banjarbaru

Panen Berkurang, Cabai Petani di Laura Diserang Penyakit

Diterbitkan

pada

Tanaman cabai petani di Jalan Kurnia Ujung, Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kecamatan Liang Anggang, kena serangan penyakit. Foto: wanda

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Cuaca yang terjadi tak menentu membuat tanaman cabai petani di Kota Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan diserang beragam penyakit.

Di tengah curah hujan tinggi yang disusul panas dlam. sebulan terakhir mau tidak mau petani harus tetap menanam dan memanen.

Rukadi, petani cabai di Jalan Kurnia Ujung, Kelurahan Landasan Ulin Utara (Laura), Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru mengaku telah melakukan tanam selama dua kali namun didapati hasil panen yang berbeda.

Baca juga: Cuaca Hambat Pengerjaan Perbaikan Jalan Sukamara Liang Anggang

“Kalau hasil panen tanam pertama dapat 150 kilo gram untuk cabai, yang tanam kedua ini baru aja, belum keluar karena muda-muda tapi paling dapat sekarung saja,” uja Rukadi, Jumat (14/11/2025).

Ia mengaku asil panen buah pertama dan buah kedua sangat berbeda. Menurutnya hasil panen tetap lebih banyak pada buah pertama.

“Penyebabnya karena tanaman akan semakin tua jadi rentan penyakit, gampang kena penyakit, memang kalau sudah tua kayak gitu tanaman, semuanya lah, tanaman apa aja, memang kayak gitu,” ungkap dia.

Baca juga: Optimalkan Pemanfaatan Aplikasi SITB, Dinkes Kapuas Perkuat Validasi Data Program TB

Dirinya pun mengeluhkan panen cabai yang banyak diganggu oleh penyakit. Sedangkan harga, seperti cabai keriting dari kebun sekarang bernilai Rp21 ribu per kilogram.

Harga cabai jenis japlak juga mengalami kenaikan sejak satu minggu terakhir, saat ini berasa di angka Rp15 ribu per kilogram.

“Japlak itu dulu sempat Rp10 ribu per kilogramnya, itu saat tiga bulanan yang lalu sempat harga segitu sampai kadang Rp9 ribu di kebun,” sebutnya.

Dengan kondisi tanaman rusak, harga anjlok, dan hasil panen gagal, ia mengaku tetap harus memanen. Sebab jika cabai tidak dipanen maka hasilnya tidak bisa bagus.

Baca juga: Suara Terhimpit Tambang dari Rantau Bakula yang Tak Pernah Didengar

“Kalau kondisi kaya gitu tetap dipanen, kalau tidak dipanen akhirnya cabai ini tidak bisa bagus, tidak bisa dipanen sama sekali nanti. Mahal atau murah pertanian pasti menanam,” tandas Rukadi.

Di sisi lain Sedio, petani sayur lain di Jalan Kurnia Ujung mengakui cabai tanamannya diserang penyakit seperti cacar daun.

“Cacar daun dan buahnya dimakan cacar penyakit. Ini berpengaruh hasil panennya jadi tambah sedikit atau kurang, yang harusnya bagus malah jelek,” ucap Sedio petani cabai di kebun yang berbeda.

Kondisi cuaca panas hujan kemudian saat panas lagi katanya bisa membuat tanaman cabai menjadi layu hingga batangnya mati.

Baca juga: Tanaman Sayur di Kurnia Ujung Terganggu Cuaca Tak Menentu

Dirinya pun hanya bisa memberikan obat-obatan dan rutin melalukan penyemprotan meski hanya dapat mengurangi penyakit pada tanaman.

“Gara-garanya hasil panen cuma bisa dapat satu pikul, jadinya berkurang. Kalau metik satu pikul dapat dua kilo, terus naik satu pikul lagi jadi 15 kilogram, tapi sekarang ini kan redup jadi kurang,” ungkap dia.

Sedio pun mengamini jika harga cabai kembali naik setelah sempat turun drastis beberapa hari yang lalu, seperti cabai keriting sekarang naiknya menjadi Rp21 ribu per kilogram.

“Kalau cabai japlak bagus ini Rp15 ribu di rumah. Kalau di pasar gak tau tapi sekarang Rp10 ribu tidak dapat apa-apa, kuli juga nggak nuntut,” tandasnya. (Kanalkalimantan.com/wanda)

Reporter: wanda
Editor: bie


iklan

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca