Connect with us

HEADLINE

Menjaga Kitab-kitab dan Naskah Kuno Warisan Datu Kelampayan Berusia 2 Abad


Perpusnas RI Melakukan Konservasi Manuskrip Kuno di Kampung Dalam Pagar


Diterbitkan

pada

Tim Perpusnas RI sedang melakukan pelestarian manuskrip kuno karya Syekh Muhammad Arsyad Albanjari. Foto : dispersipkalsel

KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA – Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) melakukan pelestarian manuskrip kuno warisan karya tulis tangan Syekh Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kelampayan.

Ada 23 kitab peninggalan Datu Kelampayan yang ada di rumah Guru Sibawaihi, Kampung Dalam Pagar, dipreservasi.

Untuk diketahui, kitab dan naskah kuno tulisan tangan yang ada di rumah salah satu juriyat Datuk Kelampayan ini sudah berumur rata-rata 200 tahun alias 2 abad lebih.

Kegiatan pelestarian manuskrip kuno ini hasil kerjasama LTN NU Kabupaten Banjar dengan Perpusnas RI, Kamis (16/6/2022).



 

Baca juga  : Pelepasan Peserta Didik PAUD KB-TK Maju Bersama Desa Sungai Ahas

Sebelumnya, LTN NU Kabupaten Banjar mengirimkan surat permohonan yang isinya meminta tim Perpusnas RI untuk datang ke Kabupaten Banjar, melestarikan manuskrip kuno di Kabupaten Banjar.

“Dengan difasilitasi Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Banjar Gusti Marhusin dan H Dede Hidayatullah, Alhamdulillah tim Perpusnas bisa datang ke Kabupaten Banjar untuk pelestarian manuskrip-manuskrip ulama di Kabupaten Banjar,” kata Ketua LTN NU Kabupaten Banjar, Muhammad Bulkini, dikutip dari Albanjari.com.

Sebelumya, sambungnya, pihak LTN NU Kabupaten Banjar memang telah melayangkan surat permohonan kedatangan tim Perpusnas tersebut.

Novi Murdiyanti dari Pusat Preservasi dan Ahli Media Bahan Perpustakaan Perpusnas RI, selaku penanggung jawab pelestarian manuskrip kuno mengungkapkan, proses pelestarian manuskrip kuno ini terlebih dahulu melalui tim verifikasi, didata dan dilakukan survei, kemudian baru dilakukan pelestarian.

 

Baca juga  : HSU Tuan Rumah Raker Kepala Bakeuda Se Kalsel

Apabila sesuai maka pertama-tama dilihat dulu kondisi naskahnya, kemudian dialih mediakan, selanjutnya dilaminasi, dijilid, dan diberi judul sesuai bukunya.

“Proses preservasinya dilihat dulu kondisi naskahnya seperti apa, ada yang kondisinya rusak, sampul dan jilidannya rusak, dan jika kondisinya masih bisa dialihmediakan atau digitalisasi, maka kita pelihara informasinyaa dulu, agar apabila terjadi sesuatu kita masih punya cadangan datanya dengan dimuat di dalam CD atau hardisk, kemudian apabila ada naskah yang kuning dan ujung-ujungnya agak patah maka dilaminasi menggunakan tisu Jepang, dikonservasi kemudian baru dijilid,” ujar Novi.

Naskah yang dialih mediakan menggunakan alat scanner portable, pengambilan gambar dari atas, sehingga media atau naskah akan tetap terjaga. Selain itu, untuk alih media bisa juga menggunakan kamera.

“Apabila sudah dialih mediakan, hasilnya nanti disimpan di CD, dan dikasihkan kepada pemilik naskah,” katanya.

 

Baca juga  : Khitan Massal 50 Anak di Mapolres Balangan, Ini Tanggapan Orangtua

“Kalau untuk kami, nanti akan kami simpan di hardisk, jadi kalau misalnya diizinkan akan kami publish di web kami, sehingga selain menyimpan kami juga bisa menyebarkan informasi. Tapi kembali lagi kepada pemilik naskah,” tambahnya.
Proses konservasi menurut Toto, untuk pelestarian naskah maka koleksi buku itu terlebih dahulu dipaginasi ulang agar tersusun seperti semula.

“Kalau tidak dipaginasi ulang nanti akan berantakan, supaya misalkan ada gambarnya pun tersusun rapi,” ungkapnya.

Kalau naskah, kata Toto, ada dua cara, yaitu diasifikasi kering dan diasifikasi basah.

“Fungsi diasifikasi kering adalah untuk mengurangi keasaman yang membuat kuning atau coklat yang pada naskah tulisan tangan yang bertinta,” ungkapnya.

 

Tim Perpusnas RI sedang melakukan pelestarian manuskrip kuno karya Syekh Muhammad Arsyad Albanjari. Foto : dispersipkalsel

Baca juga  : Satresnarkoba Polres Banjarbaru Punya Gedung Baru

Adapun bahan yang digunakan adalah metanol 90% dan barium dengan cara disemprot menggunakan semprotan.

“Untuk diasifiaksi basah adalah proses bleaching atau memutihkan dalam arti naskah cetakan,” tambahnya.

Sedangkan bahan yang digunakan adalah Pangan Manat (PK), air aquades, gas (co2 ) dan magnesium. Campuran ini gunanya untuk menetralkan asam.

Setelah proses keduanya itu, baik yang basah maupun yang kering maka dilaminasi dengan menggunakan bahan tisu Jepang. Tujuannya untuk memperkuat naskah yang rapuh menjadi kuat dan tahan lama. Dalam prosesnya dilakukan dari dua sisi.

Baca juga  : Pengusaha Mesir-Kalsel Kerjasama Produk Hasil Pertanian dan Peternakan Senilai 178 Miliar

“Apabila naskah yang rapuh tadi tidak pakai laminasim maka naskah akan mudah hancur dan berantakan, tetapi setelah dikasih laminasi naskahnya menjadi kuat,” kata Toto.

“Waktu yang digunakan untuk proses laminasi naskah tergantung kondisi naskahnya, sedangkan lamanya naskah bertahan setelah dilaminasi akan bertahan selama 20-100 tahun, tergantung tempat penyimpanan,” ujarnya.

Setelah naskah dilaminasi, dikeringkan, selanjutnya disusun sesuai halaman dengan urut, kemudian dilanjutkan ke penjilidan.

Demikian halnya dengan proses penjilidan, ujar Slamet, dilihat dari kondisi naskahnya. Kalau naskah masih bagus maka hanya dilem bagian yang sobek, tapi kalau agak parah ganti cover.

Baca juga  : Sosialisasikan Program Kerja 2022, TP PKK Tanbu Bangkitkan Dasawisma

“Nah kalau naskah ini kan sudah hancur semua, maka kita bikin baru lagi,” ujar Slamet yang bertugas pada penjilidan dan perawatan bahan pustaka.

“Kalau ada yang perlu dijahit, maka dijahit. Kalau masih bagus cukup dikasih lem baru lagi, dikasih lip pelindung, intinnya memperbaiki naskah-naskah supaya awet dan rapi, bentuknya bagus dan tidak berantakan,” jelasnya.

Alat-alat yang digunakan adalah palu, gunting, benang jahit, jarum jahit, cutter, karton, kertas bebas asam (concueror) dan kertas linen (cover biasa) dan sampul bebas asam. (Kanalkalimantan.com/albanjari.com/rohmiah)

Reporter : rohmiah
Editor : bie


iklan

Disarankan Untuk Anda

<

Paling Banyak Dibaca

-->