HEADLINE
Drainase Banjarmasin Tak Sanggup Menahan Curah Hujan yang Tinggi
Untuk program pembangunan drainase baru dan perbaikan, hanya bisa dianggarkan sekitra Rp 10 miliar setiap tahunnya. Sehingga pembangunannya dipilih yang skala prioritasnya paling tinggi.
Sejauh ini, ucap dia, pemerintah kota belum ada melakukan pembangunan drainase sistem gorong-gorong di bawah jalan tersebut, khususnya di jalur jalan wilayah pemukiman padat penduduk.
“Karena kesulitan membangun drainse yang benar-benar standar itukan di jalur jalan yang padat penduduk dan arus lalu lintasnya, kalau di jalan protokol todak ada masalah dalam pembangunan drainase ini,” paparnya.
Sejauh ini, ungkap dia, masih banyak jalan di daerah ini belum memiliki fasilitas drainase, bahkan total jalan hingga ratusan kilometer lagi, tentunya percepatan pembangunan drainase ini terbentur anggaran.
“APBD kota kita ini hanya Rp 1,6 triliun, tentunya banyak prioritas pembangunan yang dilaksanakan, tidak hanya drainase yang penting, namun juga rehabilitasi jembatan-jembatan kayu yang perlu segera diganti konstruksinya dengan beton, hingga tidak semuanya bisa maksimal dialokasikan,” paparnya.
Untuk program pembangunan drainase baru dan perbaikan, ucap Ridwan, hanya bisa dianggarkan sekitra Rp 10 miliar setiap tahunnya, sehingga dipilih yang sangat prioritas. “Meski demikian, pembangunan drainase secara bertahap ini sudah cukup memperlihatkan hasilnya, di mana genangan saat terjadi hujan lebat tidak sampai seharian,” paparnya.
Diutarakan Ridwan, masalah genagan di daerah ini tidak hanya terjadi karena hujan deras, namun juga karena terjadinya air sungai pasang, lantaran daratan daerah ini yang berdekatan dengan laut.
“Perlu dimaklumi, meski tidak terjadi hujan tiba-tiba terjadi genangan, karena tanah di daerah kita ini di bawah permukaan laut, semua drainase ujung-ujungnya ke sungai,” paparnya.
Namun keuntungannya, kata Ridwan, daerah Kota Banjarmasin yang struktur tanahnya tidak perbukitan tapi lahan gambut, hingga besarnya air yang datang masih bisa diserapnya, hingga tidak pernah terjadi bencana banjir besar. “Meski demikian, kita tetap harus selalu waspada, apalagi daerah kita ini berada paling hilir di sungai Martapura, setaip kapan air besar bisa datang dari hulu, inilah yang harus kita ingat bersama,” pungkasnya.(ammar)
-
PUPR PROV KALSEL1 hari yang laluSetelah 35 Tahun, Rumah Jabatan Gubernur Kalsel Direhab Total
-
HEADLINE2 hari yang laluVonis 12 Tahun ‘Penjagal’ Mahasiswi ULM, Lebih Ringan dari Tuntutan
-
Kabupaten Banjar2 hari yang lalu2 Pelajar Kabupaten Banjar Raih Juara Lomba Resensi Buku Berbasis Koleksi Perpustakaan Tingkat SMP Se-Kalimantan Selatan
-
HEADLINE2 hari yang laluSolar Langka di Kalsel Sopir Truk Menderita, Dilarikan ke Tambang
-
PTAM INTAN BANJAR2 hari yang laluPTAM Intan Banjar Sesuaikan Jam Kerja Kantor Pelayanan, Ini Penjelasannya
-
PUPR PROV KALSEL2 hari yang laluDirjen Bina Marga Kementerian PU Monitoring Jembatan Pulaulaut






