Connect with us

HEADLINE

Akhirnya Gerindra Banjarbaru Buka Suara, 60% Pilih Usung Incumbent Nadjmi-Jaya!

Diterbitkan

pada

Arah dukungan Gerindra lebih cenderung ke incumbent Nadjmi-Jaya, seperti diakui Ketua DPC Gerindra Kota Banjarbaru Dr Syahriani Syahran saat pelantikan pimpinan DPRD Banjarbaru pada Senin (4/11). foto: rico

BANJARBARU, Peta kekuatan parpol jelang Pilkada Banjarbaru mulai terbentuk. Partai Gerindra Banjarbaru kemungkinan akan satu kubu dengan Partai Nasdem mengusung calon incumbent Nadjmi Adhani-Darmawan Jaya Setiawan. Arah dukungan Gerindra ini disampaikan Ketua DPC Syahriani Syahran, Senin (4/11).

“Isu-isu itu kemungkinan besar benar, sinyal ke petahana,” ujarnya saat ditemui awak media seusai pelantikan Pimpinan DPRD Kota Banjarbaru, di Aula Graha Paripurna, Senin (4/11). “Untuk persentasenya 60 persen lah,” sambungnya.

Syahriani mengatakan, incumbent memiliki kriteria yang diharapkani Gerindra. “Kriteria kami, orang yang memiliki prestasi, berpengalaman, dan memiliki rekam jejak yang baik,” katanya.

Dari beberapa nama yang mendaftar ke partai Gerindra yang sesuai dengan kriteria tersebut adalah petahana. “Saat ini yang masuk baru petahana dan dr Halim, tapi posisi dr Halim wakil sedangkan kita dari kader masih belum ada mencalonkan,” jelasnya.

Ia mengatakan, DPP Gerindra memang sebelumnya menghendaki mengusung kader sendiri. Namun pihaknya mengaku tidak siap jika mengajukan nama.

Sempat disinggung soal mengenai adanya mahar politik yang mesti disiapkan untuk dibayar ke partai Gerindra, ia dengan tegas mengatakan itu tidak benar. “Semua persyaratan sebagaimana di formulir, apalagi yang menyangkut mahar, itu tidak ada. Baik di DPC maupun DPD,” tegasnya.

Walhasil, dengan sinyal dukungan Gerindra ini maka incumbent Nadjmi-Jaya kemungkinan besar bisa melaju melalui jalur parpol. Berbekal dukungan 6 kursi Gerindra, ditambah 4 kursi Nasdem, maka saat ini petahana mengantongi 10 kursi. Jumlah tersebut lebih dari cukup sebagai syarat bagi Nadjmi-Jaya untuk mendaftar ke KPU sebagai calon walikota-wakil walikota melalui jalur parpol.

Sebagaimana diketahui, sinyal dukungan Nasdem sebelunya juga didapat Nadjmi-Jaya dari Ketua Umum Surya Paloh. Pertemuan yang berlangsung di kantor DPP Nasdem tersebut berlangsung Jumat (25/10) lalu. Surya Paloh nampak memberikan apresiasi terhadap calon incumbent ini dengan ungkapan pelukan kepada Nadjmi-Jaya.

Nadjmi pun mengatakan kesan positif pada pertemuan tadi. Ia mengatakan, pertemuan tersebut memiliki nilai penting bagi langkah mereka untuk maju kembali dalam Pilkada di Banjarbaru 2020 nanti. “Beliau (Surya Paloh) merupakan sosok negarawan sekaligus tokoh politik hebat yang dimiliki bangsa ini. Banyak hal kami dapatkan dari beliu dari pertemuan tadi. Tapi intinya, Bapak Surya Paloh sangat menghargai pemimpin yang mau bekerja keras untuk daerah, bangsa, dan negara,” kata Nadjmi kepada Kanalkalimantan.com.

Ia mengatakan, Surya Paloh juga menyampaikan bahwa Nasdem membuka pintu lebar bagi dirinya untuk menatap Pilwali Banjarbaru 2020 mendatang. Sebelumnya, Nadjmi-Jaya telah mengantarkan formulir perdaftaran ke DPD Partai Nasdem Banjarbaru, Rabu (9/10) siang.

Selain kedua parpol tersebut, tak menutup kemungkinan PKS juga akan bergabung ke Nadjmi-Jaya. Apalagi, sebelumnya kedua pasangan tersebut juga telah mendaftar ke partai yang juga menjadi koalisi bersama Gerindra di Pilpres 2019 lalu. PKS yang memiliki 2 kursi di DPRD Banjarbaru, akan menambah amunisi bagi Nadjmi-Jaya.

Sementara itu, kubu penantang Aditya Mufti Ariffin-AR Iwansyah juga dipastikan mampu mengamankan tiket parpol. Berbekal 5 kursi Partai Golkar dan 4 kursi PPP, pasangan ini diatas kertas telah mengantongi 9 kursi sebagai modal awal mendaftar ke KPU nanti.

Tapi, koalisi pendukung kubu penantang dipastikan juga akan bertambah. Sinyal PDIP untuk merapat ke Aditya-Iwansyah cukup kuat. 3 kursi PDIP akan menambah suara dari pasangan ini. Ditambah lagi kemungkinan dukungan dari PKB yang juga mengantongi 3 kursi dan PAN yang mengantongi 2 kursi. Sehingga, pasangan ini kemungkinan akan maju berbekal sokongan 17 kursi.

Meski suara parpol cukup signifikan, namun di Pilkada nanti bukan berarti akan menentukan segalanya. Pilihan utama masih ada di tangan pemilih. Beberapa faktor juga mempengaruhi, terutama menyangkut personifikasi kandidat dan visi misi yang diusungnya.

Merujuk pada hasil survei Indikator Politik Indonesia beberapa waktu lalu yang mengupas sejumlah aspek elektoral di Pilkada Banjarbaru (meliputi popularitas, aspek kinerja, efek elektoral, dan lainnya), secara umum masih memposisikan incumbent masih di atas penantang. Hal tersebut merupakan hasil survei yang dilakukan Indikator pada tanggal 4-9 Oktober 2019.

Seperti dalam rilis yang disampaikan Burhanudin Muhtadi, survei tersebut dilakukan pada warga Banjarbaru yang punya hak pilih dalam pemilihan umum. “Yaitu yang berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan. Penarikan sampel menggunakan metode multistage random sampling. Dalam survei ini jumlah sampel sebanyak 410 responden,” terangnya.
Survei dilakukan dengan asumsi metode simple random sampling, ukuran sampel 410 responden memiliki toleransi kesalahan (margin of error — MoE) sekitar ±5% pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel berasal dari seluruh kecamatan yang terdistribusi secara proporsional.

Dari hasil survei, petahana Nadjmi Adhani merupakan tokoh dengan popularitas paling tinggi, hampir semua pemilih tahu Nadjmi Adhani, 94%. Kemudian Aditya Mufti Ariffin, namanya sudah dikenal oleh sekitar 82% pemilih Kota Banjarbaru. Dan Darmawan Jaya Setiawan, Wakil Walikota petahana ini juga sudah cukup populer di kalangan pemilih, 68%. Sementara nama lain popularitasnya masih jauh lebih rendah, secara umum baru sekitar 20% atau lebih rendah.

Selain paling populer, Nadjmi Adhani juga memiliki tingkat kedisukaan paling tinggi di antara pemilih yang mengenal masing-masing nama. Sekitar 83% pemilih yang mengenal sekaligus suka kepada Nadjmi Adhani. Darmawan Jaya Setiawan disuka oleh 75% yang mengenalnya, dan Aditya Mufti Ariffin disuka oleh sekitar 69% pemilih yang mengenalnya.

Kedua petahana memiliki tingkat kedisukaan yang cenderung tinggi karena memiliki citra kepemimpinan yang cenderung positif di mata publik. Hal ini terutama karena didorong oleh evaluasi publik atas kinerja kepemimpinannya di Kota Banjarbaru yang juga positif. Pelaksanaan pemerintahan dan kondisi perekonomian cenderung dinilai positif oleh publik.

“Di antara warga yang bisa menilai, pemerintahan Kota Banjarbaru di bawah kepemimpinan pasangan Nadjmi Adhani dan Darmawan Jaya Setiawan dinilai cukup bersih dari praktek korupsi dan suap,” kata Burhanuddin.(cel/tim)

Reporter : Cel/tim
Editor : Chell

 

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->