Connect with us

HEADLINE

Nestapa Nelayan Tanjung Seloka Ketika Solar Selangit

Diterbitkan

pada

Perahu-perahu nelayan berjejer di perairan Tanjung Seloka, Kotabaru, Minggu (31/5/2026) sore. Foto: fahmi

KANALKALIMANTAN.COM, KOTABARU – Konflik di Selat Hormuz berimbas kepada rakyat kecil di kawasan pesisir Tanah Air, tak terkecuali nelayan-nelayan di Desa Tanjung Seloka, Kecamatan Pulau Laut Selatan, Kabupaten Kotabaru.

Gejolak perang AS-Iran berdampak terhadap penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran penting bagi distribusi minyak dan gas di kawasan Teluk secara langsung menaikkan harga BBM dunia, termasuk di Indonesia.

Perkembangan terkini terkait konflik AS-Iran masih simpang siur. Meski Operation Epic Fury yang dilakukan AS tidak lagi melancarkan serangan berkelanjutan di kawasan Iran, tapi imbasnya masih dirasakan secara global.

Baca juga: Santunan Kematian Ketua RT dan Pekerja Rentan di Banjarbaru Diserahkan

Kifli, salah satu nelayan Tanjung Seloka mengatakan, semenjak perang AS dan Iran meletus, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) solar subsidi melonjak drastis di tempatnya. Jika dulu harga eceran solar berkisar Rp11-13 ribu, kini naik Rp17 ribu per liternya.

Harga ini bahkan jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan harga solar subsidi alias biosolar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kotabaru yang hanya seharga Rp6.800 per liter.

“Pas peperangan itu sudah mulai naik dari 14, 15, 17 ribu, bahkan sempat harganya 21 sampai 22 ribu satu liternya,” ujar Kifli saat ditemui Kanalkalimantan.com, Minggu (31/5/2026).

 

Baca juga: “Koin Keadilan” untuk Warga Sidomulyo 1 Banjarbaru

Kondisi solar selangit itu menjadi masalah besar bagi nelayan sebab “balapang” -sebutan untuk perahu khas suku Mandar-, setidaknya membutuhkan 7-10 liter untuk satu kali perjalanan.

Artinya, untuk bahan bakar saja, nelayan perlu menyiapkan kocek sebesar Rp119-170 ribu dalam sekali melaut.

Sementara penghasilan mereka tidak pasti membalikkan modal solar karena bergantung terhadap hasil tangkapan ikan-bisa banyak, bisa sedikit, bahkan bisa tidak ada sama sekali.

“Melihat kondisi sekarang, ini jadi keluhan utama nelayan karena pendapatan tidak mesti selalu ada,” ungkap lelaki 24 tahun itu.

Baca juga: Haji Mabrur! Kloter BDJ 01 Mendarat Selamat di Debarkasi Banjarmasin

Biasanya, jumlah tangkapan paling besar 20-30 kilogram meski juga bisa lebih. Semakin banyak tangkapan ikan, semakin bertambah pula penghasilan yang didapatkan.

Harga jual sendiri menyesuaikan jenis ikan, misalnya ikan Tenggiri Rp40-50 ribu per kilogram, Ikan Co’mo atau Selar Kuning Rp30 ribu per kilogram, dan Ikan Sarisi Rp30-35 ribu per kilogram.

 

Cuaca Buruk Jadi Musuh Berat Nelayan

Kifli, nelayan Desa Tanjung Seloka. Foto: fahmi

Selain solar mahal, masalah lain yang dihadapi nelayan Tanjung Seloka adalah cuaca buruk, terutama ketika memasuki Musim Tenggara.

Kondisi ini memicu angin kencang dan gelombang setinggi 1 hingga 2 meter. Biasanya, cuaca buruk semacam ini berlangsung 4 hingga 5 bulan lamanya.

Alhasil, para nelayan tidak bisa berani melaut, karena mempertimbangkan risiko keselamatan. Jika pun memaksa, maka nyawa jadi taruhannya.

Baca juga: Atraksi Udara Jupiter Aerobatic Team Pukau Warga Kalsel

“Cuaca buruk memaksa kami tidak bisa melaut, karena ombaknya tinggi. Pernah ada nelayan yang meninggal pas pergi sendirian ketika cuaca buruk, kalau melihat cuaca buruk lebih baik pulang tidak usah diteruskan,” jelas Kifli.

Cuaca buruk acapkali membuat nelayan beserta teman-teman yang dibawa mengalami mabuk laut. Belum lagi barang yang terjatuh akibat perahu yang terombang-ambing gara-gara ombak besar.

Melihat tantangan itu, Kifli hanya bisa berharap gejolak antara AS dan Iran lekas mereda agar harga minyak dunia kembali normal. Begitu pula cuaca yang diharapkan mendukung agar nelayan bisa melaut dengan tenang.

Baca juga: 5 Juni Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Bumi Mengirimkan Sinyal Darurat!

 

Tetap Melaut Demi Dapur Rumah Tetap Ngebul

Selama 2-3 tahun terakhir, Kifli tetap memutuskan pergi melaut untuk memancing ikan demi memenuhi kebutuhan makan keluarga di rumah.

Di tengah lonjakan harga solar ditambah cuaca buruk yang menghantui, anak sulung dari 4 bersaudara ini tetap mengusahakan ke laut guna menambah penghasilannya, selain bekerja sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di sekolah.

Berbekal perahu kecil yang ditumpanginya, Kifli merasakan suka duka selama pergi melaut. Sukanya adalah saat dia mendapat banyak ikan, hal itu menjadi sarana menyegarkan kembali fisik dan pikiran di tengah penatnya kehidupan.

Akan tetapi, pekerjaan seperti nelayan tidak selalu berjalan mulus. Kifli mengaku pernah melaut tanpa mendapat ikan sama sekali. Sebagai tulang punggung untuk ibu dan ketiga adiknya, tentu berat baginya sebab solar habis sia-sia dan ada keluarga yang menunggu di rumah.

Baca juga: Bupati HSU Melantik 68 Kepala Sekolah, Pejabat Pengawas dan Fungsional

“Pastinya down lah karena yang kita dapatkan cuma capek saja, ikannya tidak dapat. Sementara harus mengembalikan modal solar, dan di rumah ada yang perlu dikasih makan, jadi tidak ada yang dimakan saat itu,” tuturnya.

Saat kebanyakan orang masih tidur lelap, Kifli sudah bangun untuk berangkat melaut pada pukul 4 atau 5 subuh. Kalau ikan sepi, biasanya dia pulang sebelum waktu Zuhur, namun jika ramai, biasanya pulangnya sekitar jam 2 atau 3 siang.

Pengalaman tak terlupakan saat berhasil menangkap ikan sebanyak 50-60 kilogram. Momen terbaik itu memberikan efek kesenangan dan kebahagian tersendiri bagi dirinya.

Pengalaman tak mengenakkan juga pernah dirasakan, tepatnya saat cuaca buruk dan gelombang besar yang mengharuskannya terjun ke laut untuk berenang mengikat perahu di rumpon (alat bantu penangkapan ikan).

“Saat turun ke laut, kita takut ada ikan-ikan predator yang memangsa. Kita juga takut terbawa arus karena gelombangnya besar-besar,” terang Kifli.

Tak habis sampai di situ, penggemar lagu Noah ini pernah mengalami momen mengerikan di tengah laut-perahunya nyaris terbalik akibat hantaman ombak besar.

Cuaca ekstrem tersebut terjadi saat Kifli bersama rekannya sedang mengikat perahu di bagian bawah “bagang” atau bangunan dari kumpulan bambu yang dipasang menetap di laut lepas sebagai metode penangkapan ikan tradisional khas Suku Mandar.

Baca juga: Dugaan Dampak Tambang di Rantau Bakula, Pemkab Banjar Gandeng KLH Lakukan Penelusuran

Tiba-tiba, ombak besar menerjang perahu sampai tersangkut di bagian bawah bagang. Kondisi tersebut membuat perahu tidak mampu naik saat gelombang susulan datang, sehingga membuat perahu hampir terbalik.

“Pas ada gelombang itu hampir terbalik, setengah perahu sudah terisi air karena posisinya miring,” cerita Kifli.

Meskipun berisiko tinggi, nelayan Tanjung Seloka mau tidak mau harus tetap melaut lantaran pekerjaan tersebut menjadi sumber mata pencaharian utama di daerah pelosok Kotabaru ini. (Kanalkalimantan.com/fahmi)

Reporter: fahmi
Editor: bie


iklan

Komentar

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca