Connect with us

Budaya

Merawat Keroncong dalam Ekosistem Musik Banua

Diterbitkan

pada

Lantunan Keroncong Banua saat tampil di perayaan Hari Musik Dunia di Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin, Jumat (26/6/2026) malam. Foto: fahmi

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – “Ngapain latihan keroncong, band (modern) aja sudah,” celetuk teman Herliandi saat latihan keroncong di kawasan Kota Lama Banjarmasin.

Lelaki yang akrab disapa Andi ini acapkali diremehkan oleh teman-temannya karena menggeluti musik keroncong yang mungkin sebagian orang menganggapnya kuno, karena tidak sesuai selera musik zaman sekarang yang lebih menyukai musik populer (pop).

Data terbaru dari Lembaga Survei Kedai KOPI mencatat, pop merajai genre musik kesukaan masyarakat Indonesia di tahun 2025 sebanyak 85.1 persen, mengungguli rock (41.3%) di posisi kedua, disusul dangdut (37.7%) pada posisi ketiga.

Klik di sini : Grafik Jenis Musik Favorit Masyarakat Indonesia Tahun 2025

Meski begitu, Andi tidak menghiraukan perkataan orang lain dan tetap konsisten bermain keroncong hingga sekarang.

“Bodo amat gak ditanggapin karena tahu dalamnya keroncong gimana isinya, jadi enjoy aja sih gak pengaruh tekanan-tekanan dari luar,” ujar Andi saat ditemui Kanalkalimantan.com, Jumat (26/6/2026) malam.

perayaan Hari Musik Dunia di Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin, Jumat (26/6/2026) malam. Foto: fahmi

Lelaki berusia 26 tahun ini pertama kali mengenal musik keroncong sejak di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Simpang Empat Batulicin. Kebetulan sekolahnya itu bersama Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu memiliki program praktik kerja lapangan ke Solo untuk belajar keroncong.

Selama 3 bulan di Kota Solo, Andi sempat mendalami seluk beluk keroncong di bawah bimbingan Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI) Surakarta. Pada awalnya dia mengira keroncong adalah musik Jawa, ternyata setelah belajar dia baru tahu bahwa keroncong adalah musik nasional.

Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), keroncong artinya sekumpulan alat musik. seperti selo dan gitar melodi yang dimainkan secara beruntun, sehingga menghasilkan irama musik.

Masih banyak yang beranggapan bahwa keroncong itu musik dari Jawa, padahal keroncong sejatinya musik nasional. Beda dengan campur sari yang memang dari Jawa, karena lagu atau tembangnya berbahasa Jawa kalau keroncong sudah nasional. “Makanya lagu-lagu Ismail Marzuki dulu keroncong iringannya, seperti lagu Indonesia Pusaka,” jelasnya.

Koordinator Lantunan Keroncong Banua Herliandi. Foto: fahmi

Lulus dari SMK pada tahun 2019, Andi melanjutkan studi ke Pendidikan Seni Pertunjukan (PSP) FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Dia mengambil penelitian akhir tentang musik melayu di Kota Banjarmasin.

Rampung di kampus pada tahun 2023, Andi memutuskan mengabdi sebagai guru di kampung halamannya di Batulicin. Kesibukannya mengajar di MTs Nurul Hidayah Batulicin tidak membuatnya lupa dengan keroncong. Seringkali di waktu libur sekolah, dia menyempatkan ke Banjarmasin untuk latihan keroncong bersama grup musiknya bernama “Lantunan Keroncong Banua”.

Perjalanan Lantunan Keroncong Banua

Di tahun 2020, sekelompok pemuda yang memiliki minat sama dalam menggeluti musik keroncong membentuk sebuah grup musik bernama Lantunan Keroncong Banua.

Komunitas musik lokal ini memiliki personel yang berasal dari berbagai daerah di Kalsel, ada juga yang dari Jawa. Saat ini, Lantunan Keroncong Banua memiliki anggota aktif sebanyak 11 orang.

Andi dipercaya sebagai koordinator Lantunan Keroncong Banua, jika ada waktu senggang. dia kerap mengajak teman-temannya berlatih keroncong di Kawasan Kota Lama Banjarmasin.

Beberapa alat musik yang dipakai dalam perkumpulan musik ini diantaranya cak cuk, selo, bass, biola, suling, gitar, dan panting sebagai penanda lokalitas. Panting menjadi alat musik trandisional Banjar yang menjadi pembeda dengan musik keroncong di daerah-daerah lain.

Alat panting sebagai identitas lokal Banjar yang dimasukkan dalam musik keroncong. Foto: fahmi

“Memang ciri khasnya itu panting supaya ada ciri Banua, itu yang dicoba ditekankan makanya namanya Lantunan Keroncong Banua harus ada lokalitas yang dibawa,” ungkap Andi.

Sekarang ini, Lantunan Keroncong Banua masih mencoba membawakan lagu-lagu daerah (Banjar) yang sudah mulai ditinggalkan alias dilupakan. Tujuannya agar warga Kalsel, terutama anak muda mengenal lagu khas daerahnya sendiri-ini juga demi menyelamatkan lagu Banjar yang terancam punah.

“Banyak (lagu) ya seperti Danding, Damarwulan, Tali Wasi. Masih jarang anak muda tahu lagu itu, jadi mau coba diingatkan kembali dengan versi keroncong,” terang Andi.

Baginya, kesenian tradisional atau lagu-lagu Banjar amat penting bagi anak muda sebab mengajarkan nilai moral, adab dan sopan santun orang Banjar yang mulai tergerus di zaman sekarang.

Dengan alasan tersebut, Lantunan Keroncong Banua masuk kategori Keroncong Hibrida karena mengawinkan pakem musik keroncong dengan identitas lokal yakni alat musik panting dan lagu Banjar.

Grup musik yang mengkampanyekan “keroncongisme” ini sudah sering tampil di acara pernikahan, festival atau panggung budaya. Pengalaman paling mengesankan menurut Andi ketika mereka diundang pentas sebagai pamungkas dalam Festival Pasar Terapung tahun 2023 di kantor Gubernur Lama di Banjarmasin.

Tidak mudah bagi grup musik keroncong seperti mereka saat tampil di panggung besar, pasalnya dengan banyaknya instrumen musik yang dibawakan maka banyak pula yang harus disiapkan berkaitan dengan sound system.

Panting sebagai identitas lokal Banjar dimasukkan dalam musik keroncong. Foto: fahmi

Terbaru, saat Lantunan Keroncong Banua tampil dalam perayaan Hari Musik Dunia di Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin, pada Jumat (26/6/2026) malam.

Penampilan mereka sempat tertunda agak lama karena ada kendala teknis yakni suara monitor tidak terdengar. Alhasil personil hanya mengandalkan feeling atau perasaan. Secara tidak langsung, masalah seperti ini berpengaruh kepada pembawaan pemain musik.

“Yang awalnya rapi kan latihan, tapi karena teknis jadi blank bisa berpengaruh sampai sini. Makanya di awal memang agak sedikit lambat tampilnya,” beber Andi.

Hal ini menjadi evaluasi sendiri bagi panitia pelaksana untuk mengadakan check sound terlebih dahulu sebelum tampil.

Meski begitu, mereka tetap berterima kasih, khususnya kepada Taman Budaya Kalsel yang sudah memfasilitasi grup music Lantunan Keroncong Banua untuk mengekspresikan diri di hadapan umum.

Andi berharap pemerintah tidak hanya memfasilitasi grup musik keroncong dalam bentuk penampilan panggung, tetapi juga penguatan kemampuan personil grup musik keroncong-misalnya workshop dengan mengundang pemateri dari Jawa yang menguasai keroncong.

Selain itu, dia turut berharap komunitas musik keroncong semakin banyak bermunculan di Kalsel agar ekosistem jenis musik ini semakin berkembang. Sepengetahuannya, komunitas keroncong yang aktif dan terlihat kini hanya ada dua di Kalsel yakni Lantunan Keroncong Banua dan HAMKRI Barito Kuala.

“Komunitas keroncong khususnya yang masih belum tersentuh bisa muncul lagi banyak lagi komunitas di Kalsel agar perkembangan keroncong lebih besar lagi,” pungkas Andi.

Memberi Warna Baru Musik Kalsel

Budayawan Kalsel HE Benyamine memuji kehadiran Lantunan Keroncong Banua. Bang Ben -sebutan akrabnya- menganggap grup musik tersebut memberikan warna baru dalam musik Kalsel.

“Keroncong mungkin bukan dari daerah kita, tetapi sangat memukau. Keromcong memberikan warna tersendiri di Kalimantan Selatan,” kata Bang Ben usai melihat pertunjukan Lantunan Keroncong Banua.

Budayawan Kalsel HE Benyamine (Bang Ben). Foto: Fahmi

Hal ini juga menunjukkan bahwa Kalsel merupakan daerah yang terbuka dalam menerima segala jenis aliran musik, tak terkecuali keroncong. Penggunaan panting sebagai salah satu instrumen yang dipakai grup Lantunan Keroncong Banua menegaskan bahawa alat musik khas daerah Kalsel setara dengan alat musik modern lainnya.

“Panting bisa dikombinasikan dengan alat musik lainnya, ini menarik untuk pengembangan seni musik di Kalimantan Selatan,” papar Ketua Dewan Kesenian Kalsel itu.

Bang Ben berharap, Lantunan Keroncong Banua tidak hanya melestarikan lagu Banjar yang lama, melainkan menciptakan lagu Banjar yang baru. Dibutuhkan regenerasi musik lokal seiring perkembangan musik yang terus berubah.

“Musik terus berkembang, generasi terus berganti jadi perlu lagu-lagu baru. Yang lama itu tetap dihargai karena dia menjadi jejak bahwa kita ada kreativitas,” ungkap peraih penghargaan Anugerah Seni dan Budaya Bidang Promosi dan Diplomasi Kebudayaan Tahun 2023 tersebut.

Senada, akademisi PSP FKIP ULM Muhammad Budi Zakia Sani menyarankan Lantunan Keroncong Banua bisa menghasilkan karya baru dengan bahasa Banjar.

Pengajar mata kuliah musik itu menyebut tahap tertinggi dalam berkarya adalah mencipta atau “create”. Menggunakan lagu orang dalam berkarya termasuk aransemen yakni memberikan sentuhan baru tanpa mengubah esensi dasar dari lagu tersebut.

Musisi yang berhasil masuk dalam tahap mencipta membuat mereka memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki pemusik-pemusik lain.

“Saya menyarankan mereka agar bisa mempunyai lagu, sehingga punya identitas yang khas dan unik yang membedakannya dengan band-band lain,” tutur Ketua Divisi Pengembangan Musik Tradisional Persatuan Artis dan Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) Kalsel 2020-2025 itu.

Akademisi PSP FKIP ULM Muhammad Budi Zakia Sani. Foto: fahmi

Sebagai seniman Kalsel, Zaki mendukung penuh strategi Lantunan Keroncong Banua dalam mengingatkan anak muda terhadap lagu-lagu Banjar yang mungkin belum mereka ketahui. Terlebih, perkumpulan musik ini menonjolkan panting dalam setiap penampilan keroncong.

Lebih jauh, memadukan panting dalam musik keroncong sama dengan mengenalkan alat musik lokal dengan lagu Banjar dalam skala nasional lantaran keroncong bisa dinikmati orang luas baik di Jawa maupun daerah lain.

“Ini saya rasa salah satu potensi yang mungkin bisa dilanjutkan secara terus menerus untuk memberikan warna baru dalam ragam-ragam pilihan,” tukas peneliti musik tradisional Banjar itu.

Melalui potensi tersebut, musisi sebagai seniman bisa membaca peluang untuk memasuki telinga-telinga audiens (pendengar). Sejatinya, penciptaan karya bukan sekadar dinikmati oleh diri sendiri, melainkan orang banyak.

“Yang perlu dicari adalah bagaimana karya-karya ini bisa masuk dalam playlistnya masyarakat seperti itu,” terang Zaki.

Di samping lagu Banjar, komposer asal Rimbun Tulang itu mendorong Lantunan Keroncong Banua agar berani menggunakan lagu yang memakai bahasa universal, seperti lagu barat populer supaya menjangkau pendengar yang lebih luas.

Terlepas dari itu semua, Zaki mengaku bangga kepada Lantunan Keroncong Banua yang eksis sampai sekarang. Apalagi sebagian besar personil dari grup musik ini merupakan anak-anak didiknya di PSP FKIP ULM.

Pujian dari Legenda Seniman Kalsel

Penampilan Lantunan Keroncong Banua dalam peringatan Hari Musik Dunia di Panggung Bakhtiar Sanderta menarik perhatian tokoh musik Kalsel Mukhlis Maman atau dikenal dengan Julak Larau.

Sang maestro seniman dan budayawan Banua itu salut dengan anak-anak muda seperti mereka yang tertarik mendalami bidang musik Keroncong.

“Tampilnya bagus, anak muda jarang-jarang bisa main keroncong. Artinya anak muda tertentu aja yang mau menggeluti keroncong,” ucap Julak Larau.

Tokoh pelestari musik tradisional “kuriding” tersebut menambahkan, Lantunan Keroncong Banua berhasil membawakan keroncong dengan nuansa lagu daerah. Menurut Julak Larau, sebelumnya tidak ada lagu Banjar bergenre keroncong.

Tokoh Musik Kalsel Julak Larau saat memainkan alat musik tradisional Banjar “kuriding” dalam peringatan Hari Musik Dunia di Panggung Bakhtiar Sanderta. Foto: fahmi

Dia mengakui keroncong dulu memang pernah muncul di Kalsel. Seiring perkembangan zaman, keroncong mulai hilang sampai dibangkitkan kembali oleh Lantunan Keroncong Banua sekarang.

Sebut saja Persada Band dan Balangkasua -dua Orkes Keroncong (OK) legendaris sekaligus tonggak eksistensi musik keroncong di Kalsel yang berpusat di kawasan Pulau Laut, Kota Banjarmasin medio 1950 sampai 1960-an.

“Ini adalah refleksi aja, mereka bermain keroncong refleksi masa lalu,” imbuh Pamong Budaya Madya Kalsel itu.

Julak Larau berpendapat, penambahan panting dapat memperkaya alat musik yang dimainkan dalam keroncong, sehingga tercipta harmoni musik yang indah.

“Keroncong itu pada dasarnya main akustik, alat musik panting itu akustik jadi kawa (bisa) dimainkan,” tutup penulis buku Topeng Banjar di Barikin dan Japin Banjar itu.

Pemerintah Daerah Dukung Keberadaan Keroncong di Kalsel

Kehadiran Lantunan Keroncong Banua direspon positif oleh Pemerintah Provinsi Kalsel melalui UPTD Taman Budaya Kalsel naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel.
Dalam wawancara bersama Kanalkalimantan.com, Kepala UPTD Taman Budaya Kalsel Rizal Pahmi menyatakan, Lantunan Keroncong Banua sukses memasukkan identitas budaya Banjar ke dalam musik keroncong.

“Ya, itu sangat bagus lah. Keroncong Banua itu kan ada berbagai identitas budaya yang saling berkolaborasi. Kami melihatnya sebagai bahasa kolaborasi terkait dengan seni bermusik,” tuturnya.

Kepala UPTD Taman Budaya Kalsel Rizal Pahmi. Foto: fahmi

Anak-anak muda di Kalsel harus meniru apa yang dilakukan anggota Lantunan Keroncong Banua. Dimana mereka mengangkat budaya banjar, termasuk alat musik panting dan bahasa Banjar kepada khalayak ramai.

Taman Budaya Kalsel berkomitmen untuk terus membuka ruang bagi musisi atau seniman Banua untuk mengeluarkan kreativitasnya demi kemajuan budaya musik baik itu daerah maupun kontemporer.

Pihak Taman Budaya Kalsel terbuka atas saran atau kritik dari rekan-rekan seniman demi pengembangan seni musik di Kalsel, termasuk pertimbangan usulan workshop penguatan musik keroncong dari Lantunan Keroncong Banua.

“Saya suka teman-teman yang punya inovasi-inovasi terkait arah mereka ke mana, Taman Budaya Kalsel selalu menerima masukan kira-kira apa yang harus kami lakukan untuk berkembangnya permusikan di Kalimantan Selatan,” tandasnya. (Kanalkalimantan.com/fahmi)

Reporter: fahmi
Editor: bie


iklan

Komentar

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca