Connect with us

Kalimantan Selatan

FTBI 2025 Berakhir, Terus Wariskan ke Anak-anak Muda Bahasa Daerah

Diterbitkan

pada

Malam puncak FTBI Kalsel yang berlangsung di Hotel Aria Barito, pada Rabu (12/11/2025) malam. Foto: fahmi

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) 2025 resmi ditutup, Rabu (12/11/2025) malam.

Acara yang diprakarsai oleh Balai Bahasa Provinsi Kalsel berlangsung di Hotel Aria Barito Banjarmasin.

Guru pendamping dari 13 kabupaten/kota yang berpartisipasi dalam FTBI Kalsel 2025. Foto: fahmi

Baca juga: PT Angkasa Pura Bandara Syamsudin Noor Salurkan Bantuan Kepedulian Masyarakat Kawasan Bandara

Kepala Balai Bahasa Kalsel, Armiati Rasyid menuturkan, gelar pemenang merata di semua kabupaten/kita yang ikut berpartisipasi.

“Alhamdulillah luar biasa, semua kabupaten/kota ada mendapat penghargaan juara,” ucap Armiati selepas acara.

Kendala yang dialami pihaknya ialah tempat yang kurang mengakomodir semua peserta, sehingga FTBI kedepannya harus mencari venue yang lebih besar.

“Karena tempatnya tidak cukup jadi peserta harus menunggu giliran untuk tampil, harusnya kami menyiapkan setiap genre satu ruangan,” jelasnya.

Baca juga: Banyak Masyarakat Malu Menggunakan Bahasa Daerah

Kedepan pelaksanaan FTBI di tingkat provinsi bukan lagi dengan jenis lomba melainkan selebrasi yang menampilkan bakat anak-anak sehingga lebih meminimalisir penggunaan dana.

Kepala Balai Bahasa Kalsel, Armiati Rasyid. Foto: fahmi

 

Untuk pelaksanaan FTBI Kalsel selanjutnya bukan lagi dengan format lomba, tapi lebih ke arah selebrasi anak-anak dalam mengekspresikan karya seni menggunakan bahasa daerah.

“Saran dari pusat tadi untuk FTBI provinsi itu bukan lagi lomba tetapi selebrasi saja, itu akan mengurangi biaya,” tutup Kepala Balai Bahasa Kalsel.

Baca juga: Bupati Wiyatno Ingin Kapuas Jadi Tuan Rumah MTQH Kalteng XXXIV

Sementara itu, Kepala Bidang Fasilitasi dan Advokasi Bahasa dan Sastra, Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra, Adi Budiwiyanto takjub melihat penyelenggaraan FTBI Kalsel yang terlihat meriah.

“Antusiasme adik-adik mengikuti lomba dari pagi sampai pembagian hadiah luar biasa semangat mereka,” ujar Adi.

Kepala Bidang Fasilitasi dan Advokasi Bahasa dan Sastra, Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra, Adi Budiwiyanto. Foto: fahmi

Dia menyarankan agar pelaksanaan FTBI selanjutnya melibatkan lebih banyak bahasa daerah yang ada di Kalsel. Sarannya untuk penyelenggaraan FTBI ke depan agar bisa menambah lebih banyak bahasa yang tersebar di Kalsel.

“Saya rasa itu perlu ditingkatkan lagi tahun depan dengan mengambil bahasa baru untuk dilibatkan dalam upaya revitalisasi bahasa daerah,” ungkapnya.

Baca juga: Masuk Puncak Musim Hujan, BMKG Staklim Kalsel: Waspada Bencana Hidrometeorologi

Untuk memuluskannya, butuh peran serta pemerintah daerah yang mengarahkan pelajar maupun pengajar agar berkontribusi dalam pelestarian dan perlindungan bahasa daerah.

Di waktu yang sama, Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel melalui Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalsel, Raudati Hildayati mengucapkan terima kasih kepada Balai Bahasa Kalsel atas peran dan upaya merevitalisasi bahasa daerah.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Provinsi Kalsel, Raudati Hildayati. Foto: fahmi

FTBI bukan melulu soal menjaga bahasa, tetapi bagaimana mengaktifkan kembali tradisi tutur sastra lisan dan ekspresi warga Kalsel.

Baca juga: Kantor Setda Kapuas Jadi Lokasi Studi Wisata Anak-anak TK

“Keterlibatan para guru, akademisi, budayawan, serta dukungan para kepala daerah dari 13 kabupaten kota menunjukkan bahwa pelestarian bahasa daerah adalah kerja bersama,” tuturnya.

Selain itu, anak-anak yang berkompetisi bisa meningkatkan kreatifitas, kepercayaan diri, dan kecintaan mereka kepada budaya Banua.

“Tentunya kami percaya dari tangan-tangan dan suara-suara muda inilah Bahasa Banjar akan terus hidup, tumbuh, dan diwariskan lintas generasi,” imbuh Raudati.

Pemerintah Provinsi Kalsel menegaskan komitmen untuk terus mendukung pelestarian bahasa dan budaya daerah karena Bahasa Ibu merupakan akar kebudayaan oleh jiwa beragama.

“Mari bersama-sama kita rawat Bahasa Banjar, Bakumpai, dan Dayak Deah agar Banua kita tetap kaya, akan keanekaragaman dan kebanggaan budaya,” tandasnya. (Kanalkalimantan.com/fahmi)

Reporter: fahmi
Editor: bie


iklan

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca