Connect with us

Seni Budaya

UKM Kampoeng Seni Boedaja ULM Gelar Pertunjukan Wayang Banjar

Diterbitkan

pada

Pentas seni wayang kulit yang diisi oleh Dalang Ufik asal Sanggar Seni Anak Pandawa, Desa Panggung, Barikin. Foto : ammar

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin yaitu Kampoeng Seni Boedaja, Sabtu (5/12) malam, menggelar pentas seni wayang kulit yang diisi oleh Dalang Ufik asal Sanggar Seni Anak Pandawa, Desa Panggung, Barikin, Kabupaten HST.

Dalang Ufik asal Barikin yang sudah kesohor sebagai pelestasi wayang kulit Banjar mengangkat kisah kehidupan masyarakat Banua dan petuah-petuah orang tua zaman dulu. Acara dalam rangka HUT ke-10 UKM Kampoeng Seni Boedaja, mulai pentas sekitar pukul 22.00 Wita.

Selama 3 hari, mulai Jumat dan Minggu, UKM Kampoeng Seni Boedaja menampilkan sejumlah pentas berbeda-beda, plus penampilan sejumlah sanggar seni yang ada di kampus ULM dan kampus lainnya

Dalang Ufik saat tampil menceritakan tentang kehidupan masyarakat zaman sekarang, terutama kehidupan anak muda yang terjerumus dalam pergaulan bebas seperti mabuk dan pemakaian obat-obatan terlarang, dikemas dalam lakon wayang kulit yang tak jauh beda karakternya dengan wayang kulit dari Jawa. Tapi ada perbedaan mendasar, yakni music penggiring dan lakon dari setiap wayang, wataknya berbeda dengan wayang kulit Jawa.



“Jangan sesekali menyentuh hal-hal yang memabukan, membutakan hati dari dunia dan jangan sampai menyakiti hati orang tua, niscaya seumur hidup hati tidak akan tenang,” tutur Dalang Ufik dari balik layar.

Juga ada edukasi seni tentang wayang banjar, Dalang Ufik mengatakan wayang purwa merupakan kesenian wayang tertua khas Kalsel. Asal mula wayang Banjar adalah berasal dari wayang kulit purwa yang ada di Jawa. Mengenai kapan masuknya wayang kulit purwa ke Banjar sehingga menjadi wayang Banjar, ada beberapa argumentasi yang berkembang di masyarakat.

Menurutnya, berdasarkan Hikayat Banjar atau Lambung Mangkurat menyatakan bahwa masuknya wayang kulit purwa ke Banjar adalah pada jaman pemerintahan Majapahit, yakni lewat ikatan perkawinan antara Pangeran Suryanata dari Majapahit-Jawa dengan Putri Junjung Buih dari Negara Dipa-Kalimantan.

Dalam Hikayat Banjar dinyatakan bahwa terdapat tiga episoda yang berkenaan dengan pertunjukan wayang dan upeti berbentuk wayang yakni pertama ialah ketika Lambung Mangkurat datang ke Majapahit untuk mencari calon mempelai laki-laki bagi Putri Junjung Buih. Ia disambut dengan berbagai pertunjukan diantaranya, barwayang wong (wayang orang), barwayang purawa (wayang purwa) dan barwayang gadogan (wayang gedog).

Kedua, perkawinan antara Pangeran Suryanata dari Majapahit dengan putri Junjung Buih di Nagara Dipa. Dalam peristiwa itu ada pertunjukan keramaian tujuh hari tujuh malam, di antaranya, barwayang wong, barwayang gadogan dan barwayang purawa dan ketiga, ketika Ki Mas Lalana yang memberikan hadiah bermacam-macam barang kepada Raja Putri Kalungsu, di antaranya wayang gadogan satabla (satu kotak), wayang purawa satabla, dan wayang topeng satabla.

Ki Mas Lalana sebenarnya adalah putra Putri Kalungsu itu sendiri yang melarikan diri ketika masih berusia 6 tahun karena kepalanya dipukul oleh ibunya dengan senduk juwadah. Ia pergi ke Surabaya dan setelah dewasa kembali ke Banjarmasin dalam hal ini negara Dipa, ikut bersama Dampuawang. Ia bersedia dikawinkan dengan Putri Kalungsu, selanjutnya terjadi musibah.

“Melestarikan budaya itu penting, tapi jangan juga terlalu terpatok pada zaman dahulu, saling mendukung satu sama lain. Agar wawasan secara edukasi tiap keturunan dapat tersampaikan dengan berbagai acara kesenian, termasuk wayang Banjar,” ungkapnya.

Sseperti Susanti dengan suaminya warga Jalan Pangeran, ia mengatakan sangat terkejut karena akan diadakannya wayang khas Kalimantan Selatan ini, terlebih pentas seni seperti ini sudah terbilang langka dan jarang sekali masyarakat bisa menyaksikannya.

“Terakhir saya melihat wayang ini sejak berumur 20 tahun pada tahun 1998 saat masih di kampung halaman di Kandangan, Hulu Sungai Selatan,” ujarnya.

Dia mengapresiasi acara tersebut, karena mahasiswa yang mengadakan pentas wayang ini, sungguh sangat kreatif dan mengapresiasi acara ini.

“Kalo bisa ada setiap tahun agar budaya kalsel tidak tenggelam oleh zaman yang semakin modern,” harapnya.

Damang Kampoeng Seni Boedaja Mahrani mengatakan, apa meraka tampilkan pada satu dekade KSB sangat istimewa dan dikenang warga Banjarmasin, Khususnya ULM, karena bisa menampilkan acara yang sangat langka dan jarang digelar,

“Alhamdulillah, baru kesampaian mengadakan wayang kulit purwa Banjar ini, walaupun adanya kendala saat persiapan acara,” ungkapnya.(ammar)

Reporter: Ammar
Editor: Abi Zarrin Al Ghifari


iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->