Connect with us

Pilgub Kalsel

Spanduk Tolak Politik Uang Dicabut Oknum Tak Dikenal, Aliansi Masyarakat: Jika Berniat Tidak Melakukan Money Politik, Mengapa Ketakutan?

Diterbitkan

pada

Aliansi Anti Money Politik Kalimantan Selatan. Foto: ist

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Perlawanan masyarakat terhadap politik uang dalam Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilgub Kalimantan Selatan mendapat tantangan baru dari oknum tidak bertanggung jawab. Hampir seluruh spanduk peringatan terhadap bahaya politik uang dicabuti dan dirusak oleh orang tak dikenal.

Padahal, pemasangan spanduk melawan dan menolak politik uang secara swadaya oleh masyarakat merupakan bagian dari partisipasi publik dalam pengawasan PSU. Hal ini selaras dengan agenda Forum Warga Pengawas Pemilu, sebuah gagasan yang dicetuskan Bawaslu Kalsel sebagai upaya meningkatkan partisipasi masyarat dalam pengawasan Pilkada.

Peristiwa pencabutan spanduk tolak politik uang ini menimbulkan pertanyaan, mengapa ada pihak yang sangat takut dengan kehadiran pesan-pesan anti-politik uang dalam spanduk tersebut?

Ahmad Syarif, Ketua Aliansi Anti Money Politik Kalimantan Selatan mengecam adanya tindakan pengrusakan spanduk tolak politik uang.



“Pesan di dalamnya sangat baik, memberikan perlawanan terhadap praktik politik uang yang menjadi cikal-bakal bencana bagi warga. Harusnya didukung bersama. Ini justru dicabut, bahkan dilaporkan ke Bawaslu oleh oknum yang berkamuflase mengatasnamakan warga,” ungkap Syarif.

Sebelumnya, terdapat berbagai laporan yang diarahkan ke Prof Denny Indrayana dari pihak-pihak yang mengaku sebagai warga. Namun setelah ditelusuri, yang bersangkutan merupakan pendukung dari pasangan calon.

Pertama, peristiwa yang terjadi di masjid Nurul Iman. Ada kai yang mengaku warga setempat bernama Aman yang memancing keributan dengan tim hukum H2D. Lalu dirinya bersuara di media seakan-akan warga yang menjadi korban. Setelah ditelusuri, ternyata merupakan pendukung militan. Ada spanduk terpampang besar di depan rumahnya.

Kedua, peristiwa pelaporan Prof Denny Indrayana oleh seorang yang mengaku warga setempat bernama Safruddin. Lagi-lagi di media dirinya mengaku sebagai warga setempat. Setelah diselidiki, ternyata Safruddin adalah salah satu pendiri relawan Jaga Banua.

Ketiga, peristiwa pelaporan Prof Denny Indrayana oleh seorang yang mengaku tokoh warga di Banjarmasin bernama Din Jaya. Setelah ditelusuri, rupanya dia adalah salah satu pentolan Tim Paslon.

Dan masih banyak laporan-laporan serupa.

“Sekarang ada lagi oknum mengaku warga melaporkan spanduk tolak politik uang. Modus ini sudah basi dan justru jadi bumerang. Masyarakat yang “sebenarnya” justru bertanya, mengapa ada yang sangat takut dengan gerakan melawan politik uang? Jika memang berniat tidak akan melakukan politik uang, kenapa takut?,” jelas Syarif.

Syarif juga memperingatkan kepada oknum yang mencabut spanduk-spanduk tolak politik uang agar tidak memancing potensi gesekan yang terjadi di masyarakat. Karena semangat menolak politik uang adalah kehendak rakyat, dan juga program terencana yang telah dan sedang dilaksanakan oleh jajaran Bawaslu dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga kecamatan. Setiap pesan tolak politik uang yang tersebar ke masyarakat adalah bentuk perbantuan kinerja pengawas pemilu yang dilakukan oleh masyarakat.

“Jangan lakukan tindakan yang arogan dengan mencabut secara diam-diam spanduk tolak politik uang. Jika ketahuan, bisa memunculkan gesekan dan keributan di tengah masyarakat,” pungkas Syarif.

Sebelumnya suara masyarakat untuk menolak politik uang terjadi semakin masif. Mereka bersandar pada nasehat para tuan guru dan ulama-ulama kenamaan. Salah satu yang dikutip adalah isi ceramah Ustad Abdul Somad (UAS) yang videonya viral beredar di masyarakat. UAS menyatakan “ambil uangnya, jangan pilih orangnya, siap!!” kemudian masyarakat menjawab dengan antusias “siap!!”.

Pesan UAS ini ditenggarai sebagai bentuk perlawanan sekaligus pembelajaran yang efektif bagi para pelaku politik uang, agar tidak menggunakan cara-cara maksiat dalam meraih jabatan. Pesan ini rupanya begitu diterima dan turut diperjuangkan oleh masyarakat Banua, mengingat latar belakang warga yang sangat agamis.(kanalkalimantan.com/rls)

Editor : kk

 

 

 


iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->