Connect with us

Iqro

Sholawat Badar, di Balik Kisah Perebutan Wacana Budaya dan Politik Tahun 1960-an

Diterbitkan

pada

Kiai Ali Manshur sang pencipta Sholawat Badar yang hingga kini karyanya masih sering dibaca di berbagai kesempatan. Foto: islampers

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU– Isu bangkitnya komunisme seakan tak pernah kunjung selesai. Setelah dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Indonesia, toh isu tersebut terus berhembus di setiap momen politik.

Kini, isu kebangkitan PKI kembali menyeruak! Sejumlah elemen masyarakat yang menolak RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) memainkan wacana itu. Kemarin, Minggu (5/7/2020) sejumlah ormas Islam di berbagai daerah menggelar ‘Apel Siaga Ganyang Komunis.’

Jika ditarik ke belakang, pergulatan antara kelompok Islam dan komunis yang diwakili Partai Komunis Indonesia (PKI) sudah terjadi sejak sebelem era puncak persitiwa G30S/PKI tahun 1965. Ketika itu, juga terjadi pergulatan wacana yang cukup keras antara Partai Nahdlatul Ulama (NU) dan PKI pada rentang dekade 50 hingga 60-an.

Salah satu wujud ‘perlawanan’ tersebut adalah lahirnya Sholawat Badar, yang hingga saat ini kerap dibacakan sebagai syair sholawat di musholla, masjid, atau berbagai acara keagamaan dan pentas kesenian.



Ya, penggubahan lagu Sholawat Badar sebagai respons perebutan hegemoni kebudayaan, khususnya yang terjadi di Banyuwangi, Jawa Timur, ketika itu. Sholawat Badr bahkan kala itu menjadi instrumen untuk menandingi popularitas lagu Genjer-genjer yang merupakan lagu rakyat yang dijadikan sebagai ikon PKI ketika itu.

Sholawat Badar diciptakan oleh Kiai Ali Manshur pada sekitar tahun 1960-an. Ketika itu, ia tengah menjabat sebagai Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, sekaligus menjadi Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di kota itu.

Terciptanya Sholawat Badar, merupakan dampak dari kegelisahan Kiai Ali Manshur dengan kondisi politik saat itu. Saat itu, PKI sedang dala m masa jayanya. Pengaruh politiknya meluas hingga ke desa-desa. NU yang merupakan organisasi bagi para kiai dari kota hingga ke pelosok desa, adalah saingan utamanya.

Dalam kegelisahannya, Kiai Ali Manshur pada suatu malam Kiai Ali tidak bisa tidur. Ia terus-menerus memikirkan situasi politik yang semakin tidak menguntungkan NU.  Suatu malam, sambil menulis syair-syair dalam dalam Bahasa Arab, Kiai Ali teringat akan mimpinya di malam sebelumnya.

Ia bermimpi didatangi para habib berjubah putih-hijau. Ia heran apa maksud dari mimpinya itu. Tambah mengherankan lagi, karena di malam yang sama, istrinya juga mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW.

Dalam sebuah artikel yang ditulis Ayung Notonegoro dilaman dari Alif.id, disebutkan sebuah catatan harian yang ditulis oleh Kiai Ali Manshur yang menggunakan aksara pegon dan berbahasa Jawa, ia menulisnya pada 1960. “Saya membuat lagu Selawat Badar adalah setelah saya kembali dari Makkah al-Mukarramah (haji) yang saya bacakan pertama kali pada acara Lailatul Qiro’ah dengan mengundang KH. Ahmad Qusyairi beserta para muridnya. Bertepatan pada malam Jumat 1960, tetangga saya sama bermimpi melihat serombongan Sayyid atau Habaib masuk ke rumahku, dan istri saya, Khotimah, juga bermimpi melihat Nabi Muhammad berpelukan dengan al-faqir (saya).”

Karena keheranannya, keesokan harinya ia bergegas menanyakan perihal mimpinya kepada Habib Hadi Al-Haddar Banyuwangi. Ia menceritakan semua kegelisahan dan kedua mimpi sarat makna itu–mimpinya dan mimpi istrinya. Mendengar cerita Kiai Ali, Habib Hadi menjawab, “Itu Ahli Badar, ya akhi!” demikian seperti dikutip dalam buku Antologi NU.

Konon, dari kedua mimpi sarat makna itulah, Kiai Ali terdorong untuk menulis syair yang hingga kini dikenal dengan Selawat Badar.

Pertarungan Wacana

Pada tahun 1960-an, anak-anak Desa Buluagung, Kecamatan Siliragung, nampak riang menyaksikan pertunjukan angklung sambil menyanyikan lagu Genjer-genjer. Hal ini memunculkan keprihatinan seorang guru ngaji di desa tersebut, Muhammad Madrawi.

Ketertarikan anak-anak yang notabane para santrinya itu menyulut alarm bahaya bagi dirinya. Kesenian angklung, lagu Ganjer-Genjer dan beberapa kesenian daerah lainnya yang digandrungi santrinya itu, begitu identik dengan PKI. Hal demikian, berarti preseden buruk bagi kelompoknya yang terafiliasi dengan Partai Nahdlatul Ulama (NU).

Hal tersebut sebagaimana dikishakan KH. Masykur Ali dalam “The Authorized Biography of Masykur Ali: Jalan Pengabdian” (2018: 6-7), Madrawi pun lantas membangun menara di dekat suraunya. Di menara tersebut, ia beri pengeras suara. Tiap santrinya digilir naik menara itu.

Selain untuk mengumandangkan adzan, juga dipergunakan untuk melantunkan Sholawat Badar. Dari upayanya tersebut, anak-anak kecil itu mulai mengalihkan perhatiannya. Mereka tak lagi menyanyikan Genjer-genjer, tapi sudah beralih untuk melantunkan Sholawat Badar.

Perebutan wacana kebudayaan di tengah masyarakat memang sedang bergejolak pada masa itu. PKI memanfaatkan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) sebagai instrumentasi kebudayaan guna mendukung kepentingan ideologis dan politik mereka.

Langkah tersebut menyulut partai-partai lain untuk menyainginyaa. Partai Nasional Indonesia (PNI) mendirikan Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Masyumi dengan Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) dan NU dengan Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi).

Banyuwangi menjadi tempat yang subur dalam menyemai persaingan kebudayaan tersebut. Kabupaten di ujung timur pulau Jawa itu, memang sarat dengan unsur kesenian. Baik yang berbasis tradisi, agama, maupun yang pop-kultur. PKI dengan Lekra-nya, sukses mengkapitalisasi kesenian semacam gandrung, angklung, janger, tari-tarian dan lagu-lagu daerah menjadi sarana untuk mempropagandakan ideologi dan kepentingan politiknya.

Melalui kelompok seni yang bernama Sri Muda (Seni Rakyat Indonesia Muda), Lekra hampir tiap hari menggelar pertunjukkan di Banyuwangi. Genjer-Genjer yang merupakan lagu gubahan M. Arif dari Banyuwangi itu, menjadi maskot pertunjukan.

Bahkan, lagu tersebut juga dilengkapi dengan tarian Genjer-Genjer yang dikarang oleh Slamet Abdul Rozak atau dikenal dengan Slamet Menur. Tak ayal hal ini, semakin menarik minat banyak orang untuk menontonnya. Hampir setiap penampilan selalu dipadati pengunjung.

Tak mau ketinggalan, Partai Nahdlatul Ulama pun menggalakkan kesenian sebagai media propagandanya. Salah satunya adalah kesenian Kuntulan. Yaitu sebuah tarian yang diiringi dengan tabuhan rebana. Tariannya menyiratkan gerakan seperti orang yang sedang berwudu, salat hingga aktivitas kerja hariaan. Sedangkan lagu pengiringnya adalah bacaan sholawat dan syair-syair bermuatan dakwah sekaligus kampanye politik.

Tak jarang persaingan tersebut, menimbulkan bentrokan fisik atau aksi saling gugat satu sama lain. Seperti yang ditulis oleh Iwan Gardono Sudjatmiko dalam disertasinya di Universitas Harvard (1992), “The Destruction of The Indonesian Communist Party (PKI): a Comparative Analysis of East Java and Bali”. Pada 8 Februari 1965, sekira 500 warga Nahdliyin yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Ansor mengepung kantor Desa Jambewangi. Mereka marah karena pertunjukan wayang kulit yang di gelar PKI beberapa hari sebelumnya telah melakukan penistaan terhadap agama Islam.

Syair dan Politik

RM Imam Abdillah, Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah dalam tesisnya yang berjudul “Puisi Keagamaan dan Politik: Studi Selawat Badar dan Politik Nahdlatul Ulama di Indonesia Masa Orde Lama” mengupas 28 bait selawat tersebut.

Dari sana, ada beberapa kosakata yang berkaitan erat dengan konteks politik saat itu. Seperti syair dalam Sholawat Badar ini:

Ilahii najjinaa waksyip / jamii’a adiyyatin washrif

Makaa’ida walthuf / biahlil badriyaa Allah

Lafadz “makaa’id” yang berarti “tipu daya” dalam bait kedelapan tersebut, memiliki makna konotatif yang menyiratkan pada upaya “tipu daya” yang dilakukan PKI masa itu. Salah satunya adalah doktrin tujuh setan desa. Di mana, mereka menganggap para pemilik tanah yang cukup luas dianggap sebagai setan yang harus direbut dan didistribusikan kepada rakyat. Dari doktrinasi yang demikian, banyak rakyat yang terperdaya sehingga melakukan aksi sepihak.

Masih merujuk pada kajian yang dilakukan oleh Imam Abdillah, lafadz lain yang memiliki makna konotatif pada konteks saat itu, adalah lafadz al-‘ashiin. Secara harfiah, lafadz tersebut bermakna “orang-orang yang memberontak”.

Dalam sejarah republik, PKI tercatat dua kali melakukan pemberontakan. Selain pada 1965, juga pernah melakukannya pada 1948 di Madiun. Hal ini menimbulkan trauma yang cukup mendalam di benak kaum santri. Lebih-lebih pada masa itu, banyak kalangan kiai dan santri yang menjadi korban keganasan Muso cs. Pandangan yang demikian, besar kemungkinan, juga dialami oleh Kiai Ali Manshur. Sehingga ia mengabadikannya pada bait kesembilan shalawat tersebut.

Ilahii nafsil kurba / minal ‘ashiina wal uthba

(“Ya Tuhanku, lenyapkanlah kesusahan dan kerusakan akibat dari perbuatan orang-orang yang memberontak)

Sejak saat itu, Sholawat Badar terkenal di kalangan warga NU. Pada Muktamar ke-28 NU di Krapyak, Yogyakarta, sholawat ‘made in Banyuwangi’ ini dikukuhkan sebagai mars Nahdlatul Ulama. Selain itu pada harlah ke -91 NU, Kiai Ali Manshur juga dianugerai tanda jasa bintang kebudayaan atas karyanya terebut.

Ya, karya abadi! Yang  bukan hanya dilantunkan oleh warga Nahdliyin saja, tetapi juga hampir semua umat muslim di Indonesia, bahkan dunia. (Kanalkalimantan.com/cel/berbagai sumber)

Editor : cell

 


iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->