Rasa Empati Akan Sedikit Mengurangi Kejahatan Sekitar Kita - Kanal Kalimantan
Connect with us

Kota Banjarmasin

Rasa Empati Akan Sedikit Mengurangi Kejahatan Sekitar Kita

Diterbitkan

pada

Rifqoh Ihdayati SPsi MAP, psikolog di RSUD Panembahan Senopati Foto : istimewa

BANJARMASIN, Dua kasus pembunuhan sadis dan bunuh dalam sepekan terakhir di Kalsel membuat masyarakat semua tercengang dan bertanya-tanya, apa yang tengah terjadi di masyarakat kita?.

Rentetan kasus pembunuhan sadis menguncang Kalsel, belum tuntas duka kasus tewasnya M Rahmadi alias Madi (19) yang ditemukan tanpa kepala di daerah Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Selasa (20/11/2018) lalu, kasus pembunuhan kembali terjadi di pinggiran jalan A Yani Km 11,800, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Jumat (23/11/2018). Korban adalah seorang perempuan bernama Levie Pricilia (35) warga Jl Agraria, Telaga Biru, Banjarmasin Barat. Levie ditemukan tewas dengan kondisi mengalami luka di bagian kepala dan leher di dalam mobil Suzuki Swift berwarna biru berplat DA 1879 TN.

Belum lagi habis keterkejutan warga, seorang anggota Sabhara Polresta Banjarmasin, Aipda Erwin Mediayanto ditemukan tewas gantung diri di rumahnya, Komplek Mitra Bakti Blok A, Desa Semangat Dalam, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Jumat (23/11/2018) pukul 12.15 Wita. Belum diketahui motif bunuh diri yang dilakukan korban.

Kanal Kalimantan menghubungi salah satu psikolog Rifqoh Ihdayati SPsi MAP. Ahli kejiwaan ini tercatat sebagai psikolog di RSUD Panembahan Senopati, Bantul, DI Yogyakarta. Apakah memang semua orang berpotensi menjadi pembunuh? Rifqoh Ihdayati langsung berucap “Naudzubillahi min dzalik”. Apakah orang yang tega melakukan pembunuhan bahkan dengan cara sadis, dengan memenggal kepala korban adalah seorang yang tengah ‘sakit’ jiwanya? Tentu, ujar Rifqoh Ihdayati, tidak mudah untuk menyatakan seseorang tersebut dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan, harus melalui proses pemeriksaan yang panjang dan teliti dengan melibatkan tenaga ahli profesional yakni psikiater dan psikolog.

“Motif seseorang melakukan pembunuhan juga beragam, selain karena masalah ekonomi, unsur dendam sepertinya menduduki penyebab terbanyak dalam kasus ini,” ujarnya.

Rifqoh tidak akan membahas individu si pembunuh sebagai sentral, ia mencoba menyoroti apa yang tengah terjadi pada masyarakat. Belajar dari deretan kasus yang terjadi, seperti kenakalan remaja, kasus KDRT dan kekerasan lainnya yang menimpa anak-anak dan wanita, pesta sex bebas, narkoba dan masih banyak lagi deretan kasus yang terjadi di masyarakat.

“Membuat saya berpikir bagaimana peran lingkungan masyarakat dalam memberikan edukasi dan perlindungan keamanan terhadap warganya. Bukankah dulu di Indonesia ini adalah tempat paling aman dan nyaman untuk masyarakat dan pendatang yang datang ke negara ini,” ujarnya. Dalam pembukaan UUD 1945 tertuang bahwa pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

“Tidak hanya bermaksud untuk mengetuk pintu pemerintah untuk bertanya saat ini sudah sejauh mana peran pemerintah mensejahterakan rakyatnya, di sisi lain saya ingin mencoba mengetuk mata hati seluruh warga masyarakat Indonesia, mempertanyakan sudah menurun berapa persen kah kepedulian kita terhadap sesama umat-Nya?” beber Rifqoh.

Masih kah kita perduli ketika saudara, kerabat dan tetangga kita mengalami kesulitan, dan kesusahan? Ketika tetangga kita sedang sakit, masihkan kita menunjukkan keperdulian kita dengan membezuknya? Ketika terdengar suara tangisan dari rumah tetangga, apakah kita masih perduli dengan mendatangi dan menanyakan apa yang terjadi di rumahnya? Ketika tetangga kita tampak tidak keluar rumah seharian penuh, bertanya-tanya dan atau mengintip ke rumahnya untuk sekedar mencari tahu bahwa mereka dalam keadaan baik-baik saja.

Masih mampukah kita menjadi pendengar yang baik ketika teman dan saudara kita berkeluh kesah tentang apa yang sedang menimpanya, kira-kira bisakah kita menunjukkan empati kita ketika ada orang yang bercerita tentang kegundahannya sementara kita asyik dengan komunikasi kita di dunia maya.

“Mata tertuju ke HP, bisa dipastikan ekpresi kita pun tidak menunjukkan bahwa kita sedang menghayati dan turut merasakan derita yang sedang lawan bicara kita alami,” ujarnya.

“Penyesalan selalu datang terakhir, kita sudah beberapa kali tersadar ketika tetangga menjadi korban atau pelaku tindak kekerasan, yang mestinya mampu kita cegah. Kita mempunyai andil membuat orang extravert menjadi intovert, orang introvert menjadi semakin menutup diri, dimana mereka merasa masalah yang dihadapi tidak ada jalan keluarnya,” beber psikolog klinis ini.

“Seandainya kita meluangkan waktu untuk menjadi pendengar yang baik, mengulurkan tangan untuk merangkul ‘mereka’ yang tengah mempunyai masalah, saya rasa akan sedikit mengurangi angka kejahatan yang terjadi di sekitar kita. Ayo kita mulai dari diri kita dan mulailah dari sekarang,” pungkasnya. (bie)

Reporter:Bie
Editor:Abi Zarrin Al Ghifari

Bagikan berita ini!
  • 9
    Shares