Connect with us

Bisnis

PT Pegadaian, Perjalanan 118 Tahun sampai Sekarang (3)

Rambah Bisnis Konstruksi, Perhotelan, hingga Coffee Shop

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diterbitkan

pada

Hotel Pesonna Malioboro, salah satu hotel milik PT Pegadaian yang berlokasi di Jogjakarta. Foto : cell

Sayap binis terus dikembangkan PT Pegadaian di berbagai sektor. Melalui anak usahanya PT Pesonna Indonesia Jaya (PIJ) yang berdiri sejak 2015 lalu, sejumlah binis ‘kelas berat’ seperti konstruksi, building management, kafe, travel management, dan perhotelan pun dirambah.

Direktur Utama PIJ Renny Sofia Hani mengatakan, bisnis-bisnis yang sudah berkembang ini dapat membantu pemasukan untuk meningkatkan kinerja keuangan Pegadaian. “Kami memiliki bisnis kedai kopi yakni The Gade Coffee and Gold serta ada juga hotel,” ungkapnya.

The Gade Coffee and Gold sengaja digunakan Pegadaian untuk menggaet nasabah dari kalangan milenial. Kafe tersebut juga sudah tersebar di sejumlah kota besar di Indonesia.

Selain kedai kopi, PIJ juga menggarap bisnis perhotelan dengan nama Pesonna Hotel yang saat ini sudah berada di beberapa kota besar di Indonesia. Di antaranya, di Ampel Surabaya, Makassar, Pekanbaru, Semarang, Gresik, Tegal, Pekalongan, Malioboro dan Tugu Yogyakarta.

Pegadaian tidak melihat perkembangan era digital saat ini sebagai ancaman. Perseroan memilih untuk ikut dalam perkembangannya. Salah satunya dengan membuat booking engine sendiri yang dipasang dalam website Pesonna. Selain itu, pemesanan kamar juga bisa dilakukan melalui booking.pesonna.co.id untuk laptop maupun komputer dan m.pesonna.co.id untuk smartphone.

“Pada 2019 kami menargetkan untuk perolehan pemesanan via website Pesonna adalah 5 persen dari total Pendapatan pemesanan kamar,” ungkap Renny, selaku Direktur PT Pesonna Indonesia Jaya (Pesonna Hotels).

Sedangkan bisnis konstruksi yang digarap oleh PIJ adalah The Gade Village yang merupakan Balai Perekonomian Desa (Balkondes) dan Homestay di Desa Ngargogondo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. The Gade Village juga merupakan salah satu program CSR Pegadaian dalam bentuk keterlibatan sinergi BUMN dalam membantu peningkatan ekonomi masyarakat. Renny berharap, hadirnya The Gade Village ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kebudayaan sekitar.

“Melalui The Gade Village ini, Pegadaian dapat membantu pemberdayaan ekonomi masyarakat baik untuk usia produktif, anak-anak sekolah hingga lanjut usia. Karena tren desa wisata memainkan peran penting sebagai kekuatan soft power Indonesia,” pungkasnya.

Selain itu, Pegadaian juga menargetkan akan melantai di bursa pada 2020. Guna melihat keuntungan dan kerugian dari Initial Public Offering (IPO) ini, perusahaan meng-hire beberapa konsultan.

Direktur Utama PT Pegadaian Kuswiyoto, mengaku, saat ini pihaknya belum mengantongi izin dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Namun, dengan kondisi ekonomi dan politik yang relatif lebih baik pasca pemilu 2019, perseroan yakin dapat merealisasikannya. “Pegadaian punya rencana IPO sudah lama kira-kira 5 tahun yang lalu, tapi tertunda-tunda terus,” ungkapnya.

Menurut Kuswiyoto, keinginan Pegadaian untuk IPO bukan sekadar untuk mencari tambahan uang. Sebab, katanya, banyak manfaat baik yang akan diterima seperti pengelolaan perusahaan yang lebih transparan. Selain itu, perusahaan juga bisa lebih bergerak untuk pasar global.(cel)

Reporter : Cell
Editor : Chell

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->