Connect with us

Bisnis

PT Pegadaian, Perjalanan 118 Tahun sampai Sekarang (2)

Songsong Persaingan, Lakukan Transformasi Digital di Era Industri Keuangan 4.0

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diterbitkan

pada

Pegadaian terus berubaya meremajakan diri untuk persaingan global Foto: cell

Membayangkan wajah Pegadaian 10 tahun lalu, tentunya sudah banyak berubah dibandingkan saat ini. Tapi bukannya bertambah tua, performance Pegadaian kini tumbuh semakin muda. Persaingan di era industri 4.0, telah menuntut perubahan dalam berbagai aspek pelayanan bisnis.

Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) Kuswiyoto mengatakan, revolusi industri 4.0 menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Pegadaian untuk lebih adaptif terhadap digitalisasi. “Saat ini kami sudah berubah. Kalau diibaratkan manusia kita tidak tua, kita sangat matang. Bahkan tumbuh semakin muda,” katanya dalam National Media Gathering & Workshop di Yogyakarta, Jumat (26/7).

Maka dalam menghadapi pasar yang kian kompetitif, pihaknya menyiapkan lima strategi yang disebut “G-5tar Strategy”. Pertama, Grow Core, dalam 5-10 tahun ke depan Pegadaian masih akan mempertahankan produk intinya yaitu gadai melalui diversifikasi fitur dan digitalisasi proses. Meskipun kata dia, ke depan komposisinya mungkin turun karena banyak produk-produk non-gadai yang akan dikembangkan.

Kedua Grab New, di dalam rencana bisnis 2023, Pegadaian secara bertahap akan mengubah portofolio bisnisnya dari yang saat ini 80% gadai dan 20% non-gadai menjadi 60% dan 40% dengan kontribusi terbesar pada gadai. Ketiga Groom Talent, untuk mengembangkan bisnis Pegadaian akan menjaring karyawan potensial serta meningkatkan kompetensi sesuai dengan kebutuhan.

Keempat, Gen Z Technology, guna menunjang proses bisnis dan data analisis menurut Kuswiyoto, pihaknya selalu menggunakan sistem teknologi terbaru. “Kami tidak peduli berapa cost yang dikeluarkan untuk membangun IT yang bagus, karena kami yakin bahwa itu merupakan bentuk investasi,” tegasnya.

Kelima, Great Culture, merubah mindset dan budaya kerja karyawan yang lebih mendorong pada peningkatan kerja perusahaan. Kata dia, mulai tahun ini karyawannya siap melayani konsumen secara aktif.

Di sisi lain, Direktur Teknologi Informasi dan Digital Teguh Wahyono juga menjelaskan, saat ini pihaknya tengah melakukan uji coba program Gadai on Demand akan dimaksimalkan untuk penjemputan barang gadai dengan maksimal nominal Rp 10 juta. “Gadai on demand baru piloting. Kita maksimalkan Rp 10 juta,” jelas Teguh.

Gojek yang diikutsertakan dalam program ini dipilih driver dengan high rate atau bintang lima. Tidak hanya itu, Penjemputan barang gadai ini juga dijamin keamanannya. Dia mengatakan, barang yang dijemput oleh Gojek, akan diasuransikan. Sehingga, jika terjadi kehilangan akan diganti oleh asuransi.  “Kita ambil driver yang bintangnya 5. Kedua, asuransikan kalau ada apa-apa hilang di jalan ada asuransi yang mengganti,” ujarnya.

Namun, Pegadaian belum melancarkan program ini secara masif. Untuk uji cobanya, saat ini Pegadaian baru melakukannya di Jakarta. Pihaknya masih terus melakukan uji coba di lingkaran kecil untuk memastikan keamanan program ini. Rencananya, program ini baru akan digerakkan secara masif bulan depan. “Kota-kota besar yang paling besar jumlah ojeknya banyak progresnya baru launching bulan lalu, belum jual secara masif, bulan depan mulai,” tuturnya.

Tak hanya itu, Pegadaian juga melakukan kolaborasi dan mengembangkan layanan berbasis fintech lending. Tahun ini, akan ada kolaborasi dengan lima hingga enam fintech lending baik di segmen konsumer maupun produktif. Melalui kerjasama ini Pegadaian berperan sebagai lender, yakni perusahaan yang memberikan pinjaman kepada debitur di platform fintech.

Teguh menargetkan penyaluran kredit sebesar Rp 1 triliun di fintech tersebut. Ia mengharapkan kolaborasi tersebut bisa meningkatkan bisnis pembiayaan sebesar 5%-6% di tahun ini. “Tapi untuk lima tahun ke depan, kami menargetkan penyaluran pembiayaan melalui fintech sebesar Rp 10 triliun di 2023,” jelasnya.

Dari fintech tersebut, ada dua pemain sudah siap diajak kerjasama. Namun hingga saat ini Pegadaian masih menunggu restu dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memuluskan kerjasama tersebut. Menurutnya otoritas masih mengevaluasinya karena mempelajari dari aspek bisnis dan kepentingan institusi baik dari sisi fintech, Pegadaian maupun masyarakat.

Sementara untuk layanan berbasis fintech, Pegadaian masih mengembangkan infrastruktur dari sistem analisis data untuk penilaian kredit nasabah (credit scoring). Sistem ini diperlukan untuk menyeleksi nasabah yang layak diberikan pinjaman.

“Perusahaan yang tidak melakukan perubahan akan mati. Disrupsi itu bisa datang dari mana saja dan yang paling menantang adalah kedatangan fintech. Maka untuk merespon itu kami mengajak kerjasama dan meningkatkan bisnis kami,” jelas Teguh. (cel)

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->