Connect with us

HEADLINE

Mimpi Adipura Kencana di Tengah Masih Minimnya Kesadaran Kebersihan

Diterbitkan

pada

Kondisi sampah di kota Banjarmasin yang masih jadi problem untuk dientaskan TPS Jalan Belitung Foto: mario

BANJARMASIN, Berhasil meraih Adipura Kota Besar dalam kurun waktu empat tahun berturut-turut tentu menjadi kebanggaan bagi Banjarmasin. Namun mimpi meraih Adipura Kencana di tengah masih banyaknya problem perkotaan apakah itu tidak terlalu berlebihan?

Walhasil, Adipura Kencana memang tak jatuh ke Banjarmasin. Tapi berada dalam genggaman kota Surabaya yang secara nyata berhasil mengubah wajah dalam beberapa tahun terakhir di tangan Walikotanya Tri Rismaharini.

Hal ini pun sebenarnya diakui oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Banjarmasin Drs H Mukhyar, bahwa masih banyak hal yang harus dilakukan. “Adipura itu ada beberapa program, mulai program pengurangan sampah, program pengelolaan, kemudian inovasi ke depan apa. Kita kan sat ini masih berkutat pada pengurangan kantong plastik,” ungkapnya.

Maka dari itulah, Pemko Banjarmasin, mulai gencar melakukan pengurangan kantong plastik untuk kawasan pasar tradisional. Setelah sebelumnya berhasil melakukan sistem ini di apotek dan toko retail berdasarkan Perwali nomor 18 tahun 2016. Mukhyar menegaskan bahwa di pasar tradisional nanti adalah upaya pengurangan, bukan pelarangan.

Mengenai drainase yang juga mempengaruhi poin penilaian Adipura, dijelaskan lebih lanjut adalah karena drainase yang dinilai oleh Kementrian Lingkungan Hidup adalah drainase Pasar Kalindo. “Pasar Kalindo kan pasar swasta, jadi kita ini repot masuk ke sana untuk memberikan bantuan,” ungkapnya.

Ke depannya, usaha Pemko adalah mengambil alih Pasar Kalindo sehingga tidak lagi menjadi pasar swasta. Di satu sisi Kadis LH ini sedikit menyesalkan memilih Pasar Kalindo yang menjadi objek penilaian. Hal ini ia terangkan dikarenakan keterbatasan titik pantau.

Sedangkan Wali Kota Banjarmasin mencoba untuk menganti objek penilaian pasar nantinya. Jika memungkinkan, Pasar Antasari adalah salah satu yang mungkin kelak akan ia usulkan untuk penilaian Adipura. “Mudah-mudahan (Pasar) Antasari LO-nya cepat selesai dari kejaksaan. Sehingga untuk pengaspalan dan kawasan becek bisa kita selesaikan tahun ini,” jelas H Ibnu Sina.

Masih soal titik nilai Adipura, untuk TPS di kawasan Banjarmasin, Mukhyar mengatakan bahwa nilainya masih bagus. Hal ini pun dibenarkan juga oleh Wali Kota Banjarmasin. Ia mengambil contoh TPS HKSN yang dulunya dikenal dengan sampahnya yang meluber hingga ke jalan sehingga menggangu aktivitas warga, kini sudah ditanggulangi.

“TPS masih bagus nilainya, karena memang timbunan sampah kan malam. Membuang sampah dimulai dari jam 8 hingga jam 6 pagi. Jadi kalau malam masih ada luberan-luberan sampah pada jam segitu (jam pembuangan), masih hal yang wajar,” ucap Mukhyar.

Namun, fakta ini masih sedikit menggelitik jika dari hasil pantauan Kanalkalimantan di sejumlah lokasi. Ambil contoh TPS Malkon Temon yang berada dekat dengan kawasan Makam Pahlawan Pangeran Antasari. Di sore hari, tumpukan sampah sudah meluber ke jalan. Tentu saja, hal ini menjadi salah satu penyebab terganggunya masyarakat. Selain baunya sampah, jalan Malkon Temon yang kecil pun menjadi kendala.

Belum lagi jika ada warga yang berziarah atau melakukan prosesi pemakanan di kawasan pekuburan tersebut. Tentu sampah-sampah yang sudah terkumpul bahkan sebelum jam pembuangan sampah ini menggangu kenyamanan.

Salah satu petugas pengumpul sampah di komplek Malkon Temon, Adit, membenarkan bahwa di bawah jam delapan pun sampah sudah ada di TPS. “Ya kami ini cuma menjalankan tugas saja untuk mengumpulkan sampah,” ujarnya.

Kondisi sampah di kota Banjarmasin yang masih jadi problem untuk dientaskan TPS Jalan Malkon Temon. Foto: Mario

Ia juga menambahkan bahwa kebanyakan warga sering melempar sampah yang mereka bawa itu sambil berkendara. Hal ini juga dikarenakan posisi TPS Malkon Temon yang sedikit menjorok ke dalam, akibatnya banyak sampah yang hanya tergeletak tidak pada tempatnya dan meluber keluar.

Sama halnya di jalan Belitung siang hari ini. Tumpukan sampah sudah mulai terlihat di pinggiran jalan. Begitu juga di TPS jalan Zafri Zam Zam, selain sampah yang berada di luar tempat yang disediakan, terlihat seorang penjual sayur sedang membuang begitu saja sampah-sampah sisa jualannya.

Kondisi sampah di kota Banjarmasin yang masih jadi problem untuk dientaskan TPS Jalan Zafri Zam Zam. Foto: Mario

Berlanjut ke TPS yang ada di Jalan Rantauan Darat. Di situ terpampang nyata sebuah spanduk peringatan yang melarang masyarakat untuk tidak membuang sampah di luar dari pukul 8 malam hingga 6 pagi. Pun lengkap disertakan dengan pasal-pasal yang menjerat bagi para pelanggar. Namun, semua hanya menjadi pajangan. Sore hari saja, sampah sudah mulai menggunung di TPS tersebut.

Kondisi sampah di kota Banjarmasin yang masih jadi problem untuk dientaskan TPS Jalan Rantauan Darat. Foto: Mario

Kemudian TPS di Jalan Rantauan Ilir. Tidak hanya berserakan, tapi juga baunya yang menusuk tentu sangat tidak sedap bagi warga yang melintasi jalan sekitar. Lucunya, lokasi TPS ini berseberangan langsung dengan kantor Wali Kota Banjarmasin yang hanya dibelah oleh Aliran Sungai Martapura yang di mana kemarin baru saja Piala Adipura juga diarak melintasi sungai tersebut.

Kondisi sampah di kota Banjarmasin yang masih jadi problem untuk dientaskan TPS Jalan Rantauan Hilir. Foto: Mario

Meski Satgas Kebersihan tahun ini akan mendapatkan kenaikan anggaran dari 1 juta rupiah menjadi 1,5 juta rupiah, tentu hal seperti kedisiplinan dalam mengelola aturan TPS pun sangat diharapkan untuk tetap diperhatikan. Hal ini tentunya agar pemko dan DLH bisa melihat bahwa masih ada beberapa TPS yang bahkan jam pembuangan sampah yang benar pun belum diterapkan masyarakat. Serta tumpukan sampah-sampah yang berada di sekitarnya menjadi suatu pemandangan yang tidak sedap sejauh mata memandang. (mario)

Reporter:Mario
Editor:Cell

Bagikan berita ini!
  • 9
    Shares