Connect with us

Manaqib

KH Husin bin Syekh Ali Al Banjari (4/habis)

Hidupnya Wara’ kalau Berjalan Loncat-Loncat

Bagikan berita ini!
  • 18
    Shares

Diterbitkan

pada

KH Husin Ali bersama istri beliau. Foto : net

KH Husin Ali sangat berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Beliau tak ingin apa yang diperbuat di dunia fana ini, berbuah sengsara di kehidupan sesudah mati (akhirat), kelak.

Banyak kejadian ‘ganjil’ KH Husin Ali yang disaksikan banyak orang dalam upaya menjaga diri terhindar dari kesalahan. KH Syaifuddin Zuhri dalam suatu pengajian Majelis Taklim Bani Ismail, Banjarmasin pernah menuturkan bahwa, suatu ketika KH Husin Ali mencuci uang yang didapatnya berdagang dengan air dan pasir.

Ketika ditanya alasannya, KH Husin Ali berpendapat, bahwa uang ditangannya itu tidak diketahui dari mana asalnya, dan siapa yang memegangnya. Bisa seorang ulama, bisa pula bersentuhan dengan barang yang haram.

Karena itu KH Husin Ali memilih untuk membasuh setiap uang yang didapatnya dengan alasan khawatir ada orang yang tidak diterima ibadahnya gara-gara uang (haram) yang datang darinya.

Uniknya, KH Syaifuddin bercerita, setiap uang yang diterima KH Husin Ali diperlakukan berbeda. Ada yang hanya dibasuh sekali, ada pula yang dibasuh berkali-kali. Seolah KH Husin Ali mengetahui asal-usul masing-masing uang tersebut.

Di lain waktu, KH Syaifuddin Zuhri pernah pula membantu mengangkatkan koper KH Husin Ali, ketika ada Muktamar NU di Surabaya. Saat itu, KH Syaifuddin tertinggal jauh kala berjalan. KH Husin lebih dulu sampai di tempat tujuan.

Sesampainya di tujuan KH Syaifuddin pun ditanyaKH Husin Ali, mengapa ia tertinggal berjalan. Kepada KH Husin Ali, KH Syaifuddin mengaku sulit mengikuti karena KH Husin Ali berjalan meloncat-loncat.

Perihal jalannya yang kerap meloncat-loncat itu, KH Husin Ali punya alasan. Seperti dituturkan KH Syaifuddin, ternyata beliau dibukakan hijab oleh Allah sehingga melihat mana jalan yang boleh dipijak dan yang tidak.

Sebab, sebagaimana diketahui dana pembuatan jalan tidak semua berasal dari dana yang halal.

“Kita orang awam tidak bisa mengikuti jalan beliau tersebut,” KH Syaifuddin mengomentari. Hal yang demikian (mengutamakan kewaspadaan) diakui Ustadz Muhammad bin Husin, anak KH Husin Ali.

Ustadz Muhammad bin Husin Ali mengatakan ayahnya itu memang orang yang sangat berhati-hati. Misalnya, mengetahui barang yang pernah tersentuh najis, seperti bekas pijakan anjing.

“Bahkan, sejak berhenti mengajar dan membangun kubah Datuk Kelampayan, beliau tidak lagi mau disentuh orang lain. Meskipun anaknya sendiri,” ujar Ustadz Muhammad.

Di antara bentuk kewaspadaan KH Husin Ali dalam melakukan sesuatu, adalah kegemaran beliau minta petunjuk terbaik dari Allah SWT melalui shalat istikharah.

Tidak hanya pada perkara-perkara besar, beliau juga meminta petunjuk pada perkara-perkara kecil menurut orang awam.

“Beliau beritikharah ketika mau bepergian ke tempat berjarak jauh mau pun dekat. Sebelum membangun rumah, mau beli kayu (papan atau ulin), bahkan untuk beli paku sekali pun,” ucap Ustadz Muhammad bin Husin.

Dengan senantiasa beristikharah KH Husin Ali selalu dimudahkan urusan. Pulang-pergi Martapura-Makkah dalam urusan haji atau umrah. Sejak tahun 1965, dalam setahunnya beliau selalu pergi ke Makkah. Bahkan, sampai 3 kali dalam setahun.

Padahal, diakui Ustadz Muhammad, waktu itu urusan pergi ke tanah suci sangat sulit.

“Beliau selalu dimudahkan Allah dalam setiap rihlahnya, dan setiap akan bepergian meninggalkan keluarga beliau selalu melaksanakan shalat istikharah. Karena istikharah merupakan petunjuk terbaik Allah SWT,” jelas Ustadz Muhammad Husin.()

(Penulis: Ben Syaifi)

Bagikan berita ini!
  • 18
    Shares