HEADLINE
Ketinggian Oprit Diprotes Warga, Pembangunan Jembatan Km 31,5 Banjarbaru Terhenti
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Pekerjaan proyek penggantian Jembatan Sei Ulin di Jalan Ahmad Yani Kilometer 31,5 atau depan Kolam Renang Antasari Banjarbaru terpaksa berhenti sementara setelah diprotes warga.
Tepat di sisi bagian barat proyek jembatan, warga yang bermukim di sana bersepakat dengan pemilik pekerjaan Badan Pengelola Jalan Nasional (BPJN) Kalsel untuk menghentikan sementara pembangunan.
Salah satu warga yang rumahnya terdampak pembangunan adalah Gotot. Gatot adalah pemilik toko figura yang sudah puluhan tahun tinggal di kawasan itu.
Baca juga: Kejari Kapuas Serahkan Aset Eks Terminal ke Pemkab Kapuas
Gatot mengatakan bahwa toko figura miliknya telah dibongkar total dan dipindah sebelum jembatan dilakukan pembangunan kembali.
“Kemudian kami dari warga Kelurahan Guntung Payung diundang sosialisasi di kantor PUPR Banjarbaru, bersama masing-masing kelurahan lain seperti Guntung Manggis, Loktabat Utara, Loktabat Selatan,” ujar Gatot, salah satu warga terdampak.

Dalam sosialisasi awal yang disampaikan kepada warga disepakati tinggi oprit jembatan naik hingga 80 centimeter.
Baca juga: Pelajar SD HSU Ramaikan Lomba Tradisional Balogo
Namun, kata Gatot, seiring berjalannya pembangunan jembatan ini didapati ketinggian oprit jembatan naik 1,5 meter. Hal ini nampak dari ketinggian oprit yang hampir sejajar dengan atap rumah Gatot.
“Saat perubahan ada BPJN bilang pak ada perubahan, kami bilang wah tidak bisa, warga harus tahu harus dimusyawarahkan, gak kembali lagi mereka, tetapi proyek tetap jalan,” ungkapnya.
Warga telah bersurat ke sejumlah pihak terkait keluhan yang didapat atas pembangunan kembali Jembatan Sei Ulin ini.
“Kita tunggu tindaklanjut surat tersebut, acuan kita minta oprit diturunkan, akses jalan masing-masing warga dimudahkan dan dampak ekonomi warga juga,” imbuhnya.
Baca juga: PUPR Kalsel Gelar Lomba Nyanyi Berhadiah Jutaan Rupiah
Sementara itu, Susilo, salah satu pengelola usaha karpet di kawasan tersebut mengatakan, warga tidak dilibatkan dalam perubahan tinggi pembangunan jembatan.
“Kami pemilik usaha di sini tidak ada sama sekali sosialisasi. Saya tahunya dari tetangga sosialisasi ketinggian jalan tidak ada sama sekali, sosialisasi pertama kami tidak diundang, kami tahunya dari warga tetangga,” ungkap Susilo.
Warga kata dia, akhirnya berinisiatif menanyakan perubahan yang terjadi atas ketinggian oprit jembatan ini. Sebab dirinya pun ikut terdampak ekonomi dari adanya pembangunan ini.
“Ketika ada perubahan masyarakat tidak dilibatkan, padahal mereka ada kunjungan beberapa kali,” ungkapnya.
Baca juga: Garuda Pertiwi Siap Buktikan Kualitas di ASEAN Women’s Championship MSIG Serenity Cup 2025
Dia berharap tinggi oprit jembatan dalam pembangunan dapat disesuaikan ukuran seperti awal sosialisasi.
“Kedua keterbukaan informasi publik, akses jalan ke rumah ke toko juga harus menjadi perhatian,” tutupnya. (Kanalkalimantan.com/wanda)
Reporter: wanda
Editor: bie
-
Kriminal Banjarmasin3 hari yang laluPengeroyokan di Sungai Andai Banjarmasin, Tiga Remaja Diringkus Polisi
-
Infografis Kanalkalimantan2 hari yang laluHari Kartini 2026 “Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Menuju Indonesia Emas 2045”
-
Bisnis2 hari yang laluLPG Nonsubsidi 12 Kg Naik Jadi Rp228.000 per Tabung
-
Kabupaten Hulu Sungai Utara3 hari yang laluKwarcab Gerakan Pramuka HSU Menggelar Rakerda 2026
-
NASIONAL2 hari yang laluPemerintah akan Bangun Yonif TP Setiap Kabupaten dan Kota se Indonesia
-
Pemprov Kalsel1 hari yang laluGubernur Muhidin Apresiasi Pengelolaan Sampah di Banjarbaru






