Connect with us

HEADLINE

Hari Anak Nasional 2021: Menilik Urgensi Vaksinasi Covid-19 untuk Anak, Seberapa Penting?

Diterbitkan

pada

Vaksinasi anak mulai dilakukan mengantisipasi tingginya penularan Covid-19 Foto: suara
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU- Di momen Hari Anak Nasional (HAN) 2021 yang jatuh pada hari ini, Jumat, 23 Juli 2021, pembahasan tentang seberapa penting program vaksinasi Covid-19 untuk anak kembali mencuat, mengingat hingga kini pandemi masih merajalela dan Indonesia mengalami lonjakan kasus.

Di Kalsel, kasus Covid-19 Kalsel hari ini kembali mencapai rekor tertinggi. Laporan terbaru dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kalsel pada Kamis (22/7/2021) kemarin, yang diunggah Diskominfo mencatat kenaikan pasien positif sebanyak 650 orang.

Pada laporan tersebut kasus positif terbanyak berada di Kota Banjarmasin sejumlah 245 orang. Disusul Kota Banjarbaru 96 orang, Barito Kuala 71 orang, Tanah Laut 64 orang, Kotabaru 40 orang, dan Tanah Bumbu 36 orang.

Sepekan terakhir, Indonesia terus mencatatkan rekor, baik itu kasus baru Covid-19 dalam sehari maupun kematian pasien. Ribuan orang meninggal setiap harinya karena Covid-19, termasuk anak-anak dari bayi, balita, hingga remaja.



 

 

Baca juga: STOP PRESS. PPKM Level 3 Batal Diberlakukan, Pemko Banjarbaru Tunggu Evaluasi Jokowi

Data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat, kelompok anak usia 0-18 tahun termasuk sebagai penyumbang kasus Covid-19 terbanyak, hingga 12,8 persen.

Sementara, angka kematian anak mulai usia 0-18 tahun, dicatat oleh Kementerian Kesehatan, ada sekitar 600 orang. Separuh atau 50 persen di antaranya merupakan usia balita.

“Vaksinasi anak remaja itu bisa dilihat dari berbagai segi. Memang dia nggak berat, memang menjadi OTG saja, tidak sampai seperti orang dewasa sampai meninggal. Tapi tentu saja kalau kita hitung 12 persen dari seluruh total kejadian, kita kan dari dua juta lebih (kasus Covid di Indonesia), sudah 250 ribu anak yang sakit. Dia itu tidak sakit (tidak bergejala) tapi bisa menularkan. Jadi tetap saja berbahaya untuk lingkungan,” papar Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. Dr. Cissy B. Kartasasmita, saat dihubungi Suara.com, Selasa (20/7/2021), terkait urgensi melakukan vaksinasi Covid-19 untuk anak.

Kondisi saat ini, anak juga kerap tertular virus corona dari orang dewasa. Sehingga, menurut prof Cissy, jika jumlah kasus pada orang dewasa meningkat maka berpotensi menambah infeksi baru pula pada anak.

Ia menyampaikan bahwa dengan memvaksinasi anak bisa melindungi mereka dari transmisi penularan di lingkungannya, terutama klaster keluarga.

 

“Kemudian herd immunity juga jadi tercapai. Kontribusi 12-17 tahun itu ada sekitar 32 juta dan anak-anak kelihatannya lebih semangat divaksinasi daripada orang tuanya. Jadi kalau misalnya anak bisa ikut divaksinasi keuntungannya banyak sekali,” ucap Prof. Cissy.

Baca juga: Warga China Positif Covid-19 yang Dirawat di IGD RSD Idaman Bekerja di Kotabaru

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan sudah memulai program vaksinasi Covid-19 untuk anak usia 12-17 tahun sejak awal bulan Juli 2021. Keputusan pelaksanaan tertuang dalam Surat Edaran nomor HK.02.02/I/1727/2021 tentang Vaksinasi Tahap 3 Bagi Masyarakat Rentan serta Masyarakat Umum dan Vaksinasi Anak Usia 12-17 Tahun.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan, vaksinasi Covid-19 untuk anak tidak hanya bermanfaat untuk mencegah penularan kasus dan mengurangi angka kematian.

Ia menyebut urgensi lain pelaksanaan vaksinasi Covid-19 untuk anak adalah percepatan program pembelajaran tatap muka (PTM) yang tertunda selama satu setengah tahun.

“Karena hampir 1,5 tahun tidak ada wahana pendidikan seperti pembelajaran tatap muka. Ini sudah ditetapkan melalui SKB 4 menteri, supaya tidak kehilangan momen pembentukan karakter melalui dunia pendidikan,” ujar perempuan yang akrab disapa Nadia itu.

Nadia menambahkan, PTM di sekolah memang didorong dengan cara vaksinasi para tenaga pengajar dan petugas di sekolah berusia 18 tahun ke atas. Tapi dengan vaksinasi Covid-19 anak dan remaja, praktik PTM di sekolah bisa semakin dikebut untuk mencegah learning loss yang terjadi pada pelajar Indonesia.

Learning loss adalah keadaan di mana seseorang atau siswa kehilangan minat belajar, yang sangat berdampak pada pengetahuan dan keterampilan anak secara spesifik akan menurun.

“Dengan adanya temuan atau informasi dan data yang cukup akurat, ternyata anak-anak aman diberikan vaksinasi. Ini sangat menunjang program pembelajaran tatap muka,” jelasnya.

Vaksin Pelajar di Kalsel

Vaksinasi pelajar atau remaja usia 12 hingga 17 tahun mulai dilakukan di Kalsel. Hal itu juga menyusul akan masuknya vaksin Pfizer ke Kalsel.

PJ Gubernur Kalsel Safrizal ZA sebelumnya mengatakan, vaksinasi untuk pelajar nantinya akan diselenggarakan di tiap sekolah.

“Nanti kita lakukan sekolah per sekolah, kalau vaksinnya sudah datang nanti sekolah per sekolah giliran atau gantian,” ujarnya.

Alasan dipilih vaksinasi digelar di sekolah terang Safrizal karena akan lebih mudah dalam pelaksanaannya.

“Lebih mudah mengatur jadwal dan menghindari terjadinya kerumunan,” tambahnya.

Seperti diketahui Kalsel juga akan menggelar vaksinasi remaja. Dinkes Kalsel sebelumnya juga menyebut jika vaksinasi bagi pelajar diberikan juga pada vaksinasi massal seperti sebelumnya.

“Hanya sasarannya yang ditambah dengan rentang usia 12 hingga 17 tahun,” ujar Kadinkes Kalsel HM Muslim.

Saat ini vaksinasi guru juga terus dilakukan untuk gelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Terlebih salah satu syarat PTM adalah semua guru harus sudah divaksin Covid 19.

Kadisdikbud Kalsel HM Yusuf Effendi juga sempat mengkhawatirkan pemberlakuan PTM tanpa adanya vaksinasi terhadap pelajar.

“Kalau cuma gurunya yang divaksin, sementara anak didik tidak, kita juga khawatir terjadi penyebaran,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Dengan adanya vaksinasi pelajar ia berharap dapay menekan kasus Covid 19 di dunia pendidikan.

Vaksin yang Digunakan

Urgensi melakukan vaksinasi Covid-19 untuk anak dibarengi dengan pertanyaan tentang pilihan vaksin yang digunakan. Kepada Suara.com, Nadia mengatakan vaksin yang digunakan adalah vaksin Sinovac buatan PT Bio Farma.

Sinovac dipilih karena sudah mendapat izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI dan Komite Penasihat Ahli Imunisasi (ITAGI) untuk diberikan pada anak dan remaja usia 12-17 tahun.

Baca juga: Tinjau RSD Idaman, Pj Gubernur Kalsel Beri 5 Ribu Alat Rapid Test ke Pemko Banjarbaru 

“Kalau dilihat yang memiliki data yang cukup lengkap dan vaksinnya ada, itu adalah vaksin Sinovac. Vaksin AstraZeneca sudah dikaji dan dipertimbangkan, itu belum bisa direkomendasikan untuk diberikan (pada anak dan remaja),” ujar Nadia.

Di Indonesia sendiri data terkait efikasi vaksin Sinovac untuk anak-anak belum dipublikasikan. Namun merujuk pada hasil uji klinis tahap III yang dilaksanakan di Bandung, efikasi vaksin Sinovac pada orangtua dan dewasa sebesar 65,3 persen.

Namun menurut Prof Cissy, vaksin Covid-19 memiliki efikasi alias keampuhan lebih besar pada anak-anak dibandingkan dengan orang dewasa.

Ia merujuk penelitian vaksin Covid-19 Pfizer-Biontech yang mengklaim efikasi pada anak usia 12-15 tahun sebesar 100 persen. Sedangkan usia 16 tahun ke atas turun sedikti ke 95,5 persen.

“Saya kira Sinovac juga begitu, (efikasi) lebih tinggi pada anak daripada orang dewasa,” kata prof Cissy.

Pemerintah menargetkan 26 Juta anak dan remaja usia 12 hingga 17 tahun jadi bagian dari 208 juta sasaran vaksinasi Covid-19 di Indonesia.

Sama seperti orang dewasa, vaksinasi anak dan remaja diberikan dua kali dosis 0,5 mililiter, dengan rentan waktu minimal 28 hari antara dosis pertama dan dosis kedua.(tim suara/kanalkalimantan)

Editor: cell


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->