HEADLINE
Dua Suspect Difteri di RSUD Ratu Zalecha Uji Sampel Liur di Surabaya
Kondisi kesehatan pasien sudah mengalami kemajuan pesat. Termasuk sudah bisa melakukan aktivitas sendiri.
MARTAPURA, Sejak Selasa lalu, Rumah Sakit Umum Ratu Zaleha Martapura, menangani dua warga asal Banjarbaru yang didiagnosa suspect difteri. Kedua pasien tersebut menderita gejala difteri, dengan terjadinya pembengkakan di bagian tenggorokan yang membuat pernafasan terganggu.
Menurut dokter Sri Soefhia Wahyuni Sp.THT, dari hasil diagnosa kedua pasien memang memiliki kesamaan dengan ciri penyakit difteri sehingga perlu dilakukan pengambilan sampel air liur untuk dikirim ke RSU DR Sutomo Surabaya.
‘’Langkah awal, tindakan medis sudah kita lakukan, sambil dilakukan pengujian sampel liur. Dan, kita masih menunggu hasil dari pengujian di DR Sutomo Surabaya. Apakah, memang difteri atau penyakit THT lainnya,†kata dia, Jumat (22/12).
Selama menangani kedua warga kota Banjarbaru tersebut, dokter yang akrab disapa Yuyun ini mengungkapkan, kondisi kesehatan pasien sudah mengalami kemajuan pesat. Termasuk sudah bisa melakukan aktivitas sendiri. ‘’Dibandingkan, saat pertama kali diantar, keduanya dalam kondisi yang lumayan parah. Dan sekarang, kesehatannya jauh membaik,’’ kata Dr Yuyun.
Sementara itu, Plt RSU Ratu Zaleha Martapura Dr Eko Subiyakto menuturkan, kendati bukan menjadi rumah sakit rujukan, pihaknya memiliki dokter spesialis THT dan fasilitasnya. Sehingga mempermudah penanganan kedua pasien suspect difteri.
‘’Meski tidak dilakukan isolasi, untuk tenaga medisnya, diperlakukan secara khusus. Guna menjaga-jaga agar tidak ada yang terjangkit jika pasien terkena difteri,’’ kata Dr Eko.
Sementara itu, N (35) salah seorang suspect yang dirawat tersebut kepada Kanalkalimantan.com mengatakan, sebelumnya sempat berlibur bersama keluarga ke Jakarta, yang diketahui sedang mewabah penyakit difteri. “Saat liburan itu sudah menderita gangguan pernafasan,†katanya.
Kemudian, kondisi N semakin kritis saat pulang ke Banjarbaru. Sehingga, Senin (18/12) malam, saat tiba dibandara Syamsuddin Noor, dia menadak pingsan. Kemudian dibawa ke dokter spesialis THT.
‘’Oleh dokter saya disarankan untuk segera berobat ke rumah sakit. Kondisi saat ini sudah membaik. Mudah-mudahan hasil dari laboratorium bukan penyakit difteri,†harapnya.
Terkait hal ini, DPRD Kalimantan Selatan mengharapkan Dinas Kesehatan (Dinkes) provinsi setempat bersama petugas kesehatan lainnya agar lebih aktif memantau kemungkinan penyebaran virus difteri di provinsi yang terdiri atas 13 kabupaten/kota tersebut.
Wakil Ketua Komisi IV Bidang Kesra DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) Iskanda Zulkarnain SE menyampaikan hal tersebut berjangkit atau mewabahnya difteri pada beberapa provinsi.
“Walau difteri belum mewabah di Kalsel yang kini berpenduduk empat juta jiwa lebih, tetapi pemantauan tidak boleh lengah dan harus segera antisipasi, serta penanggulangan bila ada warga terserang virus tersebut,” pintanya.
Mengenai vaksinasi difteri tersebut, politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu menyarankan, pelaksanaannya bisa secara bertahap atau lokal manakala anggaran tidak tersedia/terbatas.
-
Kota Banjarbaru2 hari yang laluPemko Banjarbaru Peringkat Pertama Ikada BKN Terbaik se-Kalimantan
-
HEADLINE2 hari yang laluJalan Veteran Sungai Lulut Amblas, Pertimbangkan Penutupan Masa Perbaikan
-
DPRD Kota Palangka Raya3 hari yang laluBanggar DPRD Palangka Raya Soroti Silpa APBD 2025 Capai Rp60,4 Miliar
-
HEADLINE3 hari yang laluBGN Menyetop Pembangunan SPPG, Mitra Klaim Rugi Rp8,7 Triliun
-
DPRD KAPUAS3 hari yang laluBanmus DPRD Kapuas Bahas Jadwal Kegiatan dan Progres Pansus
-
HEADLINE1 hari yang laluTugu Pal 0 Kilometer Banjarmasin Dibuka Nobar Final Piala Dunia


