Dilema Mengentas Kawasan Kumuh di Kota Seribu Sungai - Kanal Kalimantan
Connect with us

HEADLINE

Dilema Mengentas Kawasan Kumuh di Kota Seribu Sungai

Diterbitkan

pada

Pemko Banjarmasin terus berupaya menghilangkan wilayah kumuh di bantaran sungai. Foto : net

BANJARMASIN, Sebagai ibukota provinsi, Banjarmasin terus berbenah. Sejumlah hal dilakukan untuk memoles kota berjuluk Seribu Sungai ini agar tampil cantik. Mulai penataan pedestrian, siring, taman kota, dan banyak lainnya. Namun sayangnya, noda justru masih terlihat jelas pada wajah kota Banjarmasin, yakni kawasan sungai dan bantarannya. Di situ, 40 persen kekumuhan masih mengendap!

Diakui Walikota Ibnu Sina, bukan hal mudah untuk memoles wajah kawasan sungai di Banjarmasin agar terbebas dari kumuh. Untuk menggusur masyarakat yang bermukim di pinggir sungai juga bukan menjadi solusi. Sebab hampir 40 persen masyarakatnya hidup di pinggir sungai.

“Jadi maksudnya harus ada pengecualian. Ketika kita ingin menuntaskan kekumuhan, paling simpel ya digusur atau relokasi. Tetapi kalau kita ingin menghidupkan kembali budaya, mereka sebagai penduduk yang budayanya adalah budaya sungai. Harusnya kita berdamai dengan kearifan lokal mereka, artinya yang bisa kita lakukan adalah seperti yang di Kampung Hijau, justru itu lebih manusiawi saya kira,” jelas Ibnu Sina saat menerima Tim SISHA dari Kementerian PUPR Dirjen Cipta Karya di Balaikota.

Ibnu Sina menegaskan, dibandingkan melakukan penggusuran, pihaknya lebih memilih untuk melakukan penataan. Meskipun langkah kedua tersebut memerlukan proses dan waktu yang cukup panjang. “Sebab ini juga mengubah cara pandang dan budaya masyarakat,” ungkapnya.

Maka itu, mantan anggota dewan ini menyambut baik adanya kolaborasi antara Kementerian dengan Pemko Banjarmasin. Kedatangan tim SISHA dari Kementerian PUPR Dirjen Cipta Karya membawa program penuntasan penanganan kawasan kumuh.

Pada kesempatan tersebut, Ibnu juga menyampaikan salah satu cara yang dilakukan pemerintah yakni dengan program sinergi Kampung KB Kampung BAIMAN. Program yang merupakan wujud integrasi dan sinergritas dari berbagai SKPD yang di dalamnya ada kegiatan infrastruktur, kesehatan, pendidikan, kemudian sosial termasuk juga tertib administrasi kependudukan.

Foto : mario

“Kita sudah ada 11 Kampung KB Kampung Kampung BAIMAN dan sebagiannya ada di kawasan kumuh. Saya ingin seluruh sumber daya itu terintegrasi di situ. Salah satu wujud kolaborasi yang dapat dilihat ada di kawasan Kelayan Barat, dimana dalam untuk pembebasan lahannya ada anggaran Pemko Banjarmasin dan Pemprov Kalsel, kemudian untuk pembangunan rusun danannya dari APBN. Jadi kawasan Kelayan Barat itu adalah wujud dari kolaborasi, dan hasilnya sangat terasa, kini kawasan itu menjadi hilang kumuhnya,” ungkapnya.

Terkait kawasan kumuh di Banjarmasin, Ibnu Sina juga menargetkan bisa menyelesaikannya dalam dua tahun. Dimana saat ini masih tersisa sekitar 300 hektare kawasan kumuh. Ia optimis, karena pada tahun 2016 lalu luas kawasan kumuh di daerah ini sekitar 570 hektare, dalam dua tahun berjalan atau hingga tahun 2017 bisa berkurang 190 hektare. “Jadi ini masih tersisa 300 hektare, kita yakin dari tahun ini hingga tahun 2019 nanti bisa semua di atasi,” tuturnya.

Maka itu, sebanyak 36 kelurahan dari 52 kelurahan yang ada di Banjarmasin masuk dalam program pengentasan kekumuhan pada tahun ini. Kelurahan tersebut yakni Kelayan Barat, Kelayan Dalam, Kelayan Selatan, Mantuil, Pemurus Baru, Pemrus Dalam, Tanjung Pagar, Basirih Selatan, Banua Anyar Kuripan, Sungai Bilu, Sungai Lulut, Belitung Selatan, Kuin Cerucuk, Kuin Selatan, Pelambuan, Telaga Biru, Kampung Gadang, Kelayan luar, Kampung Melayu, Pekapuran Laut Seberang Masjid, Sungai Baru, Antasan Besar, Kertak Baru Ilir, Pasar lama, Teluk Dalam, Alalak Selatan, Alalak Utara, Antasan Kecil Timur, Kuin Utara, Pangeran, Sungai Jingah, Sungai Miai, Surgi Mufti, dan Sungai Andai.

Pada 2017 lalu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Banjarmasin untuk program pengentasan kekumuhan sebesar Rp 7 miliar dan bantuan pusat dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui program kotaku sebesar Rp 6 miliar.

Ada tujuh indikator pengurangan kekumuhan yakni, keteraturan bangunan, adanya jalan lingkungan, tersedia sanitasi sehat, drainase, pengelolaan sampah, air bersih, proteksi kebakaran, dan RTH.(mario)

Reporter : Mario
Editor : Chell

Bagikan berita ini!
  • 8
    Shares
Advertisement

Headline

Trending Selama Sepekan