Connect with us

Budaya

Bahasa Ibu Banjar Terancam Punah di Kalsel? Ini Faktor Pemicunya

Diterbitkan

pada

Peneliti Tradisi Lisan Balai Bahasa Provinsi Kalsel Drs Saefuddin MPd. Tag : abdullah

BANJARBARU, Bahasa ibu -Bahasa Banjar, red- dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami pergeseran yang lambat laun mengarah pada kepunahan. Pergeseran itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik dari faktor penutur masyarakat sendiri atau bisa juga dari faktor alam.

Peneliti Tradisi Lisan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan Drs Saefuddin MPd menjelaskan, ada beberapa faktor yang bisa mempengaruh terjadinya pergeseran bahasa ibu yang berpotensi mengarah pada musnahnya bahasa lokal tersebut. Faktor-faktor tersebut seperti kesadaran masyarakat untuk menggunakan bahasa ibu sebagai identitas dalam kehidupan sehari-hari, terjadi perkawinan silang antara dua suku atau budaya yang berbeda, terjadinya bencana alam, media, dan penutur.

Menurut pria yang biasa dipanggil Asef ini, masyarakat Banjar lebih terbuka dengan suku luar sehingga pergeseran bahasa mudah terjadi. Berbeda dengan beberapa daerah lain yang mempertahankan bahasa daerah sebagai identitas lokal.

“Contoh di Bali, walaupun budaya daerah lain masuk, mereka tetap menjaga identitas bahasa mereka sebagai tujuan untuk melestarikan bahasa daerah mereka,”  katanya.



Sementara di sini (Kalsel, red), tidak ada upaya untuk melestarikan bahasa daerah, misal seperti mengeluarkan Perda terkait identitas bahasa daerah.  “Seperti di kantor-kantor pemerintahan saja tidak ada penggunaan istilah bahasa daerah yang menyertai bahasa Indonesia,” sebutnya. Asef mengatakan, Balai Bahasa Provinsi Kalsel pernah melakukan riset di kalangan para pedagang, petani, PNS dan kalangan remaja, hasilnya menyebutkan pergeseran terbesar terjadi di kalangan pedagang dan kalangan remaja.

“Hal ini karena mobilitas remaja cenderung pada teknologi, tidak hanya di daerahnya saja tetapi juga ke arah pulau lain, sehingga mereka memilih bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi antara beda suku, budaya dan bahasa,” jelas Asef.

Di kalangan pedagang lebih cenderung terjadi pergeseran bahasa, karena keperluan kegiatan perdagangan, apabila pembeli bukan orang yang menggunakan bahasa Banjar mau tidak mau dia harus menggunakan bahasa Indonesia agar orang mengerti. “Apabila tidak ada usaha untuk mempertahankan identitas bahasa lokal, lambat laun akan mengalami kepunahan,” kata Asef.

Asef menambahkan, dari hasil riset yang dilakukan di Kalsel, ditemukan pergeseran bahasa yang digunakan oleh masyarakat di Kalsel juga disebabkan ada persentuhan dengan budaya-budaya yang dibawa oleh masyarakat pendatang.

“Seperti terjadinya perubahan dialek bahasa yang digunakan oleh masyarakat, misal dia tetap menggunakan bahasa Banjar namun dengan dialek Jawa,” katanya kepada Kanal Kalimantan, Rabu (21/2).

Dan ternyata, bencana alam juga bisa mengakibatkan punahnya suatu bahasa daerah. Misal, suatu daerah penduduk yang memiliki suatu bahasa daerah, terkena bencana alam dan penduduk meninggal semuanya, maka bahasa yang ada di daerah tersebut akan ikut punah dengan kematian para penduduk di daerah tersebut.

“Keberadaan penutur bahasa setempat juga bisa berpengaruh, jika penutur sudah tidak ada maka bahasa ibu tersebut juga berpotensi mengalami kepunahan,” ujarnya.

Di kalangan orang awam pergeseran bahasa ibu bukan suatu masalah, tetapi di mata para pemerhati bahasa, itu menjadi suatu permasalahan tersendiri yang harus diatasi. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diadakan pembinaan terkait bahasa daerah. Pembinaan bisa dilakukan dengan cara memasukkan kurikulum bahasa daerah di sekolah, membangun tradisi musik daerah dengan menggunakan bahasa daerah, lagu-lagu bahasa daerah dikenalkan di kalangan anak-anak sekolah.

“Selain itu perguruan tinggi juga tidak ada yang membuka jurusan bahasa daerah yang bisa dijadikan sebagai upaya pelestarian bahasa daerah,” beber pemerhati bahasa dari Balai Bahasa Provinsi Kalsel ini.

Selain itu media, juga bisa menjadi salah satu cara pelestarian bahasa daerah. Permasalahan sekarang ini pemerintah daerah kurang memperhatikan terkait pelestarian bahasa daerah, misal tidak adanya Perda terkait pelestarian bahasa.  Pun, dalam kurikulum sekolah tidak ada upaya masif melakukan pelestarian bahasa daerah. “Kalau tidak ada upaya pembinaan dan pengembangan, dengan faktor-faktor diatas, cepat atau lambat bahasa daerah akan mengalami kepunahan,” tegasnya.

Asef berpesan agar ditanamkan kepada anak-anak di dalam keluarga untuk menggunakan bahasa daerah, ketika anak berbicara dengan teman-teman satu daerah suruh menggunakan bahasa daerah, agar mencintai bahasa daerah sebagai upaya untuk melestarikan bahasa ibu. Dan pergunakan bahasa Indonesia ketika di tempat dan waktu yang mengharuskan anak menggunakan bahasa Indonesia.

“Kita harus bersyukur, dengan adanya bahasa Indonesia kita dimudahkan ketika harus berkomunikasi dengan orang dari daerah atau bahasa lain,” pungkasnya.(abdullah)

Reporter : Abdullah
Editor : Abi Zarrin Al Ghifari


iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->