HEADLINE
Banjarmasin Kota Tak Ramah Pejalan Kaki, Ada Trotoar Tapi ‘Jadi-jadian’
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – “Aku mau menghirup udara segar dan bisa jalan kaki,” begitulah harapan besar Rina, seorang mahasiswi jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
Sayangnya, hal itu belum bisa ia wujudkan di kota tempat tinggalnya, karena mayoritas warga Banjarmasin masih menggunakan kendaraan pribadi yang menimbulkan banyak polusi.
Merujuk teori piramida mobilitas, pejalan kaki merupakan tingkatan paling atas, menyusul di bawahnya transportasi umum, baru kemudian kendaraan pribadi.
Oleh sebab itu, pejalan kaki harus diprioritaskan untuk mewujudkan walkable city atau kota yang ramah terhadap pejalan kaki.
Sayangnya, Kota Banjarmasin menurut Rina masih jauh dari kata walkable city. Dari aspek trotoar misalnya, beberapa trotoar memang ada tapi tidak semua dilengkapi guiding block (ubin pemandu) atau keramik kuning sebagai jalur penyandang disabilitas.
“Banyak trotoar yang putus nyambung, beberapa ada yang terhalang pohon bahkan tiang besi atau tiang listrik,” ujar Rina, Rabu (25/2/2026).
Seturut penelusuran Kanalkalimantan.com, salah satu trotoar yang tidak dilengkapi ubin pemandu berada di sepanjang Jalan S Parman Kota Banjarmasin.
Bahkan, ada ubin pemandu yang menabrak dua pohon di trotoar depan Galeri Smartfren Banjarmasin, Jalan A Yani Kilometer 4,5, Kelurahan Pemurus Luar, Kecamatan Banjarmasin Timur.
Baca juga: Mafia Keuangan Digital Bidik Rekening Gen Z

Ubin pemandu yang menabrak pohon di trotoar depan Galeri Smartfren Banjarmasin di Jalan A Yani Kilometer 4,5, Kelurahan Pemurus Luar, Kecamatan Banjarmasin Timur. Foto: fahmi
Berdasarkan street view Google Maps, ubin pemandu yang menabrak pohon tersebut sudah dibangun sejak Desember 2024 dan dibiarkan sampai sekarang.
Rina sebagai mahasiswi yang juga warga kota menyebut trotoar sebagai akses satu-satunya bagi pejalan kaki harus memenuhi standar.
“Trotoar harus berbentuk seperti trotoar, bukan trotoar jadi-jadian. Aku rasa nggak niat aja sih, kayaknya memang kebutuhan untuk pejalan kaki nggak ada di Banjarmasin,” ungkapnya.
Selain infrastruktur, aspek keamanan bagi pejalan kaki juga masih minim terutama di malam hari. Bisa dilihat ada sejumlah penerang jalan yang mati di trotoar Jalan A Yani Km 2 hingga 6 yang menyebabkan area tersebut kurang pencahayaan.
“Apalagi untuk kaum perempuan berjalan kaki di malam hari sendirian, itu ide yang buruk lah menurut aku. Tidak ada yang menjamin kalau kita tidak diapa-apain orang,” ungkap Rina.
Baca juga: Pemko Banjarbaru Dukung Penuh Sensus Ekonomi 2026

Mahasiswi Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Lambung Mangkurat, Rina. Foto: fahmi
Untuk menuju walkable city, yang harus diubah pertama adalah pola pikir, khususnya dari Pemerintah Kota Banjarmasin maupun Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sebagai pemangku kebijakan, lalu disusul perbaikan fasilitas yang mengutamakan pejalan kaki.
Jika dibandingkan dengan negara luar, mereka sudah berbicara tentang pengurangan emisi korban, sedangkan Indonesia masih bicara soal harga bensin berapa.
“Itu dua mindset yang berbeda tuh. Kalau misalkan di luar negeri maka lebih mengedepankan kualitas hidup, kualitas udara baik, kualitas air. Kalau kita ya, kita lebih suka shortcut atau jalan cepat gitu,” jelasnya.
Alternatif lainnya ialah mengurangi pemakaian kendaraan pribadi berbahan bakar fosil yang asapnya bisa merusak lingkungan. Meskipun Rina mengakui hal tersebut sulit dilakukan, terutama di Indonesia karena banyak warga masih bergantung ke transportasi pribadi. (Kanalkalimantan.com/fahmi)
Reporter: fahmi
Editor: bie
-
Kota Banjarbaru2 hari yang laluAksi Kamisan Banjarbaru Soroti Ulah Aparat Polisi Rampas Nyawa Warga
-
Kabupaten Banjar3 hari yang laluHj Raudhah Ikuti Majelis Tilawah Antarbangsa DMDI, Bupati Banjar Minta LPTQ Beri Dukungan dan Fasilitas Terbaik
-
Kalimantan Selatan2 hari yang laluRencana Bangun Pelabuhan Mekar Putih di Jalur Pelayaran Internasional
-
HEADLINE2 hari yang laluBangun Konektivitas Trans Banjarbakula dengan Layanan Feeder di Kalsel
-
Lifestyle2 hari yang laluTalitha Fatimah Rahma Wakil Kalsel Ajang Putri Indonesia 2026
-
kampus2 hari yang lalu“Reset Indonesia” Mengungkap Akar Masalah Indonesia, Buka Nalar Kritis

