Connect with us

Kota Banjarmasin

Arti Warna Merah dalam Tradisi Imlek

Diterbitkan

pada

Suasana ibadah di Klenteng Karta Raharja Banjarmasin yang didominasi warna merah. Foto: fahmi

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Dalam perayaan Tahun Baru Imlek, ada banyak warna merah menghiasi segala aspek mulai dari klenteng, lilin, lampion, dupa, hingga pakaian.

Lantas, apa arti warna merah dalam kepercayaan warga Tionghoa ketika Imlek datang?

Pengurus Klenteng Karta Raharja, Chitra Suryapandi menuturkan, merah dianggap sebagai simbol yang menggambarkan kebahagiaan.

“Karena kita menyambut tahun baru Imlek jadi harus bahagia dengan warna merah,” kata Koh Achi ke Kanalkalimantan.com, Senin (16/2/2026) malam.

Baca juga: Malam Imlek Penuh Khidmat di Klenteng Karta Raharja Banjarmasin

Tradisi pasang lilin yang diyakini bisa menerangi kehidupan. Foto: fahmi

Merah juga terlihat mendominasi dalam acara pernikahan orang Tionghoa baik dari aspek tulisan maupun warna angpao.

“Kalau kita ke daratan China pasti banyak warna merah di sana karena melambangkan kebahagiaan,” ungkap Koh Achi.

Di samping itu, unsur lain turut memiliki makna penting dalam tradisi Imlek. Lilin dan lampion misalnya, siapapun yang memasangnya diyakini akan mendapat kehidupan terang benderang.

“Lilin sebagai pelita yang menerangi kehidupan kita, makin besar makin besar juga rezekinya,” jelasnya.

Baca juga: Ini Makna di Balik Shio Kuda Api Imlek 2026

Sumur Langit sebagai jalur asap dupa terbang menuju dewa-dewa. Foto: fahmi

Berikutnya dupa, dipercaya sebagai media pengantar doa kepada dewa-dewa. Asap dari dupa akan melayang melalui Sumur Langit (lubang di bagian atas klenteng).

“Setiap klenteng pasti ada lubang yang langsung ke langit jadi namanya sumur langit. Itu juga tempat turun naiknya dewa,” bebernya.

Dia mengibaratkan asap dupa sebagai teh yang dihirup dewa-dewa. “Makanya kita kalau sembahyang menunduk dengan dupa itu seperti menyuguhkan teh ke mereka,” terangnya.

Baca juga: Ini Aturan Warung Makan Selama Ramadan di Banjarmasin

Kertas Dewa (Tuakim) yang dibakar di tempat pembakaran. Foto: fahmi

Tak kalah penting ialah kertas dewa atau Tuakim . Biasanya selepas sembahyang, umat Tri Dharma membawa tuakim ke tempat pembakaran kertas sebagai bentuk laporan bahwa mereka sudah menjalankan ibadah.

Tuakim juga dipercaya sebagai tabungan warga Tionghoa setelah meninggal. Jadi semakin banyak kertas yang dibakar semakin banyak pula tabungannya. (Kanalkalimantan.com/fahmi)

Reporter: fahmi
Editor: bie


iklan

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca