Connect with us

HEADLINE

Umur Belasan Korban Prostitusi Online di Banjarbaru, L Ngaku Punya Anak Usia Setahun

Diterbitkan

pada

L, salah satu penghuni Rumah Singgah “Berkarakter” Dinsos Banjarbaru. Foto: dewi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Setelah Polres Banjarbaru berhasil mengamankan 12 remaja tanggung diduga terlibat prostitusi online, dari dua lokasi berbeda pada Minggu (20/06/2021) pukul 00.30 Wita, kini tujuh remaja hasil tangkapan polisi menghuni Rumah Singgah “Berkarakter” Dinas Sosial Kota Banjarbaru.

Penangkapan sejumlah anak baru gede ini terungkap kepolisian menyusul laporan dari masyarakat melalui nomor aduan 110 Polres Banjarbaru dan aplikasi Cangkal.

Sebanyak 12 orang (7 laki-laki dan 5 perempuan) tersebut diangkut patroli UKL Sabhara Polres Banjarbaru untuk dimintai keterangan dan dibina.

Tujuh remaja yang kini menjadi penghuni Rumah Singgah “Berkarakter” Dinas Sosial Kota Banjarbaru memang sengaja diantar untuk pembinaan bimbingan psikologi dan kerohanian.



 

Kanalkalimantan.com, sempat berbincang dengan salah satu remaja perempuan penghuni Rumah Singgah “Berkarakter” Dinas Sosial Banjarbaru, ternyata memang mengaku terlibat prostitusi online. Perempuan muda masih berusia 19 tahun ini secara terbuka mengakui dirinya melakoni pekerjaan terlarang itu.

Baca juga: WASPADA! Virus Corona Varian Delta Lebih Banyak Serang Usia 18 Tahun ke Bawah

Tujuh remaja yang dititipkan di Rumah Singgah “Berkarakter” Dinsos Banjarbaru mendapat pembinaan, Rabu (23/6/2021). Foto: dewi

Dari penuturan L, ia terjerumus ke prostitusi alias menawarkan jasa seksual di aplikasi tertentu karena dorongan faktor ekonomi. Meski L juga mengaku sedang bekerja di salah satu perusahaan di Banjarmasin. Tapi akunya, ketidak stabilan ekonomi keluarganya mengharuskan L melakukan pekerjaan ‘tambahan’.

“Sedangkan saya harus ngongkosi, orangtua sakit-sakitan, bapak saya sakit setelah kecelakaan kerja, jadi tidak bisa kerja berat, sedangkan ibu saya juga sakit-sakitan. Mata pencaharian cuma bertani, jadi mencukupi kebutuhan buat anak dan orangtua berobat,” aku L sambil menahan air mata.

L mengaku berasal dari salah satu desa di sebuah kecamatan di Kabupaten Barito Kuala (Batola), Provinsi Kalsel. L ternyata sudah menikah sejak umur 16 tahun.
Kemudian cerai pada tahun 2020 lalu, dari hasil pernikahan selama 3 tahun dikaruniai seorang anak umur 1 tahun.

Saat anaknya berusi 3 bulan, L mengakui sudah bercerai, mantan suaminya tidak lagi membiayai anaknya dan tidak menafkahinya.

Baca juga: 20 Finalis Duta Genre HSU Memulai Masa Karantina

“Dapat perlakuan kasar, makanya saya meminta cerai karena sering main tangan,” aku L.

Awal L terjerumus ke dalam pekerjaan prostitusi online yang dijalani, bermula mendapat dari kenalan, lalu ‘bekerja’ melalui aplikasi chat.

“Tapi saya jarang, paling seminggu cuma dua kali saja,” aku L.

Dari sekali ‘menemani’ laki-laki, L tanpa sungkan mendapat uang sebesar Rp 400.000, dan ‘pekerjaan’ ini tidak diketahui oleh kedua orangtuanya.

L mengaku akan segera dijemput pihak keluarga, polisi sudah menghubungi kakaknya dan sebelumnya ia diminta tes HIV dan hasilnya negatif.

Salah satu dari tujuh remaja lainnya, kepada Kanalkalimantan.com, Rabu (23/6/2021) siang, mengungkapkan, dirinya tidak tahu menahu dengan penangkapan yang sedang ia jalani. Ia menerangkan kepada Kanalkalimantan.com bahwa dirinya sedang berkumpul biasa dengan kawan-kawannya di kos.

“Awalnya polisi datang ke kos kami di Jalan Sidomulyo 3, sekitar pukul 15.00 Wita, mencari salah satu teman kami yang dilaporkan hilang oleh orangtuanya. Dan polisi mendapatkan laporan mengenai anak yang hilang tadi ada ke kos kami,” terang R, salah satu penyewa kos.

Baca juga: Rekonstruksi Pembunuhan di Pasar Martapura: Dipicu Pemalakan Berujung Kematian

Diakui R, anak itu memang ada datang ke kos, menumpang mandi dan bercerita ingin berangkat ke Samarinda. “Saya sih tidak berteman akrab jadi kurang tahu jelas ceritanya,” kata L.

Sementara itu, F menambahkan, awalnya mereka hanya tidur bersama teman di kos. “Kami tiduran, cuma menemani teman di kos, terus polisi datang nyari anak hilang ke kos, pas kami ada di kos. Nah pas polisi datang banyak botol-botol minuman. Terciduk kami, jadi diangkut semuanya tujuh orang. Laki-laki lima dan dua perempuan,” ungkapnya. (kanalkalimantan.com/dewi)

Reporter : dewi
Editor : bie


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
iklan

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->