Turunnya Debit Air Riam Kanan Pengaruhi Matinya Ribuan Ikan di Sungai Alang - Kanal Kalimantan
Connect with us

Pemkab Banjar

Turunnya Debit Air Riam Kanan Pengaruhi Matinya Ribuan Ikan di Sungai Alang

Diterbitkan

pada

Ribuan ikan mati di keramba Sungai Alang, Kabupaten Banjar Foto : istimewa

MARTAPURA, Operasional PLTA Riam Kanan pengaruhi debit air bendungan irigasi Riam Kanan atau bendungan Karang intan dan Sungai Riam Kanan. Hal ini ditengarai berpengaruh terhadap matinya ribuan ikan di Sungai Alang.

Kepala Seksi Irigasi dan Air Baku Bidang SDA Dinas PUPR Provinsi Kalsel Masrai Zulzai mengatakan, saat ini debit air buangan dari tiga turbin PLTA Riam Kanan kondisinya di bawah normal. Sebab sedang musim kemarau dan tidak ada hujan di bagian hulu waduk Riam Kanan atau waduk Ir PM Noor.

Lokasi yang mengalami kekurangan debit tersebut berada di sungai bagian hilir sungai Riam Kanan, yaitu di desa Sungai Alang di hilir bendung Karang Intan. Bukan berada di jaringan saluran pembawa irigasi.

“Kondisi tinggi muka air di atas mercu bendung Karang Intan saat ini setinggi 15 sentimeter jadi masih ada debit yang mengalir ke hilir sungai,” jelasnya.

Ditambahkan Zulzali, keberadaan jaring apung dan keramba yang terdapat banyak dan padat di sepanjang sungai Riam Kanan juga turut berkontribusi dalam menghambat aliran air sungai ke bagian hilirnya. Sehingga kedepannya diharapkan adanya pembinaan dari instansi terkait jadwal pembudidayaan perikanan di Sungai Riam Kanan dengan memperhatikan atau mempertimbangkan prakiraan cuaca.

“Saat ini di bendungan Karang Intan bukan pintu intake tiga meter digunakan untuk memenuhi dan melayani kebutuhan di jaringan irigasi Riam Kanan, baik itu untuk perikanan, air baku dan maupun pertanian,” pungkasnya.

Sebelumnya, minimnya debit air tak hanya membuat petani di Kabupaten Banjar mengalami gagal panen. Tapi para petambak pun juga mengalami kerugian sama. Puluhan ton ikan para petambak di Sungai Alang, Kabupaten Banjar mati akibat kekurangan air. Kerugian pun ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Banyaknya ikan yang mati ini menyebkan petambak menjual diluar harga normal. Jika biasanya ikan dalam kondisi segar mampu dijual Rp 30 ribu/kg, ikan yang dalam kondisi mati turun harga penjualannya menjadi Rp 20 ribu/kg.

Walhasil, kerugian yang harus dialami pemilik tambak bisa mencapai puluhan juta. “Ya, bisa dihitung saja berapa kerugiannya jika kondisinya seperti ini. Paling tidak bisa puluhan juta,” ungkap Amran salah seorang petambak.

Untuk menghindari lebih banyak ikan yang mati, para petambak mengurangi kepadatan isi ikan dalam keramba dan menjual ikan yang sehat secepatnya kepada pembeli. “Ini untuk menghindari kerugian lebih banyak,” katanya. (rendy)

Reporter : Rendy
Editor : Chell

Bagikan berita ini!
  • 10
    Shares
Advertisement

Headline

Trending Selama Sepekan