Connect with us

VOA

Shenzhen Beralih ke Penggunaan Taksi Listrik

Diterbitkan

pada

Foto yang diambil hari Senin, 7 Januari 2019 ini menunjukkan armada taksi bertenaga listrik yang sedang menunggu proses pengisian daya di kota Shenzhen, provinsi Guangdong, Cina Foto: AP Photo/Vincent Yu

Salah satu kota besar di Cina telah mencapai tonggak pencapaian lingkungan: armada taksi yang hampir seluruhnya bertenaga listrik.

Shenzen, sebuah kota pusat industri teknologi tinggi yang terleteak di sebelah selatan Cina mengumumkan awal tahun ini bahwa 99 persen dari 21.689 taksi yang beroperasi di kota itu bertenaga listrik. Tahun lalu di kota itu masih ada 7.500 taksi berbahan bakar bensin di jalan-jalan. Beberapa masih dapat ditemui di jalan, namun taksi listrik jumlahnya jauh melebihi taksi berbahan bakar bensin.

Kota metropolis dengan populasi yang mencapai 12,5 juta jiwa adalah yang kedua yang mencapai prestasi ini di Cina dan adalah yang terbesar. Kota Taiyuan di sebelah utara Cina, dengan populasi 4,3 juta hanya mengoperasikan armada taksi bertenaga listrik sejak 2016.

Shenzhen “Telah menjadi yang terdepan di antara kota-kota besar Cina,” ujar Cui Dongshu, Sekretaris Jendral Asosiasi Mobil Penumpang Cina.

Armada bus di Shenzhen telah sepenuhnya bertenaga listrik sejak tahun 2017. Kota ini adalah salah satu 13 kota yang menjadi perintis dengan mempromosikan transportasi umum dengan energi alternatif untuk meminimalisir kabut polusi dan mengembangkan industri energi alternatif, ujar Komite Transport Pemerintah Kota Shenzhen.

Beijing dan kota-kota Cina lainnya dilayani oleh sepeda motor, sepeda, dan kendaraan pengirim barang beroda tiga bertenaga listrik yang membantu mengurangi emisi – dan kadang-kadang mengejutkan para pejalan kaki karena beroperasi dengan hampir tanpa suara.

Taksi listrik di Shenzhen yang berjumlah lebih dari 20.000 akan mengurangi emisi karbon sebanyak hampir 850.000 ton per tahun, ujar komite transportasi kota. Meskipun demikian, inisiatif listrik menyeluruh tidak termasuk jasa berbagi tumpangan semacam Uber, yang populer di Cina.

Hambatan yang ditemui di Shenzhen adalah lokasi untuk mengisi ulang daya listrik sejak diluncurkannya 100 taksi listrik di tahun 2010. Cui memuji kota tersebut atas tersedianya sekitar 20.000 lokasi untuk mengisi ulang daya listrik, yang menurutnya sudah cukup memadai untuk memenuhi permintaan.

Taksi listrik dilengkapi dengan terminal di dalam mobil yang menginformasikan kepada pengemudi daerah-daerah dimana tidak ada cukup taksi yang beroperasi, seperti di bandara, stasiun kereta api, atau lokasi-lokasi lainnya. Ongkos taksi juga dengan jelas terpampang selain juga rute taksi, yang menurut komite transportasi Shenzhen akan mencegah pengemudi untuk membebankan ongkos berlebih atau mengambil rute memutar yang lebih jauh.

Shenzhen, yang berbatasan dengan Hong Kong, adalah kota dimana kantor pusat Huawei Technologies dan serangkaian perusahaan teknologi Cina berkantor pusat. (ww/kk/voa)

Reporter : Ww/kk/voa
Editor : Kk

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement