Connect with us

Karomah

KH Muhammad Nur dan Kisah “Ruh” yang Keluar Saat Tubuh Dipijat

Diterbitkan

pada

KH Muhammad Nur. Foto : net

Seorang perempuan tua –yang tak bisa disebut namanya- di Kabupaten Tapin pernah bercerita perihal profesi yang digelutinya hingga kini, sebagai tukang urut atau tukang pijat. Sejak SLTP dia mengaku sudah menjalani profesinya tersebut, kendati masih malu-malu, karena umur yang masih sangat muda.

Nenek berumur 80 tahun ke atas itu, mengaku mengawali kariernya dengan kejadian yang agak unik. Yakni ketika dia mau tidur dia melihat sebuah kalimat berbahasa arab di bantalnya. Takut berlaku tidak hormat dengan ayat suci, dia pun membalik bantal dengan maksud tidak ingin menaruh kepala di atasnya.

Namun ternyata, kalimat tersebut masih ada di permukaan bantal yang baru saja di baliknya. Karena merasa tulisan itu akan tetap ada meski dibolak-balik, dia pun kemudian merebahi bantal tersebut untuk tidur.

Di dalam tidurnya dia tidak mendapatkan mimpi apa pun. Namun, keesokan harinya dia langsung melaporkan perihal aneh tersebut kepada pamannya, seorang Tuan Guru. Mendengar penuturannya, pamannya berkomentar, “Untungnya ikam (kamu), banyak orang yang mencari tapi tidak ketemu. Engkau malah diberi. Kalimat itu, yang dikatakan ‘Sapa Ibrahim’.”

Sejak hari itu, dia masih tidak tahu apa manfaat dari kalimat itu pada dirinya. Hingga ada orang yang minta dipijat, dia pun memijatnya, dan dengan izin Allah orang itu disembuhkan.

“Ada banyak orang yang sudah kupijat. Bahkan Tuan Guru,” ungkapnya.

Dari pengalaman memijat banyak Tuan Guru, ada pengalaman menarik yang membekas diingatan nenek tersebut. Yakni pada suatu ketika dia memijat seorang Tuan Guru sepuh, namun ketika dipijat Tuan Guru itu tidak sedikit pun bergerak. Tubuhnya dingin seperti seonggok batang pisang.

“Untuk membalik badannya pun aku harus melakukannya sendiri,” ujar Si Nenek.

Saat itu, lanjut Si Nenek, dia tak berani bertanya. Kenapa ketika dipijat dia seperti orang mati. Hingga beberapa kali memijat Tuan Guru tersebut, baru dia memberanikan diri bertanya, “Kenapa Pian (anda) apabila diurut, seperti orang mati?”

Dijawab oleh Tuan Guru itu, “Daripada aku sakit, baik aku belimbah (keluar dari tubuh).”

Akan tetapi, menurut Si Nenek, dia mengira ruh si Tuan Guru tidak berada jauh dengan tubuh beliau ketika dipijat. Karena, menjelang selesai dipijat ada getaran kecil seolah ruh itu kembali masuk ke dalam badan.

“Berarti orangnya tidak jauh, karena mengetahui pijatan akan segera berakhir,” kata nenek.

Itulah pengalaman terunik yang pernah dialami Si Nenek ketika memijat Tuan Guru tersebut. Tuan Guru yang dimaksud adalah Tuan Guru H Muhammad (KH Muhammad Nur) dari Pelaihari, mursyid Thoriqoh Naqsyabandi sekaligus Keturunan Datuk Abulung (Syekh Abdul Hamid) Martapura. Pada saat itu, beliau sering bertandang ke Tapin dalam berdakwah.(Ben Syaifi)

 

Reporter : Ben Syaifi
Editor : Chell

Bagikan berita ini!
  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares
Lanjutkan membaca
Advertisement
-->