Connect with us

Dishut Prov Kalsel

Kadishut Berharap Kalsel Masuk Destinasi Wisata Nasional

Diterbitkan

pada

Kadishut berharap Kalsel bisa masuk 10 besar destinasi wisata nasional Foto: mario

BANJARMASIN, Pasca kunjungan rombongan Duta Besar RI untuk Finlandia dan Estonia, Wiwiek Setyawati Firman ke Kalsel, ada satu pekerjaan rumah besar yang mesti dilakukan. Salah satunya membangun operator tour agar berstandar internasional. Termasuk memiliki registrasi dan asuransi yang jelas.

Operator tour ini diharapkan oleh Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan, Hanif Faisol Nurofiq selesai pada Juli nanti. Sebab, pada bulan Juli pula foto-foto pariwisata Kalsel ini akan dieksebisikan di Estonia dan Finlandia.

Hal ini nantinya agar destinasi wisata di Kalsel bukan lanjutan destinasi wisata dari Lombok maupun Bali. “Tetapi langsung, dari Uni Eropa langsung ke kita. Ini dimungkinkan karena peraturan presiden tentang itu. Kita sedang menyusun itu” jelasnya.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Hanif, bahwa operator tour di Kalsel menjual destinasi yang tidak ada di tempat lain. Seperti pasar terapung Lok Baintan. Ia mengatakan bahwa pasar terapung tersebut tidak dibuat seperti di Tailand yang sanga terlihat jelas rekayasanya.

Kemudian ada obituasi bekantan di pulau Bakut, pegunungan Mandiangin, desa wisata Belangian, gunung kahung yang masuk standar eko wisata, budaya Dayak hingga bamboo rafting di HST. “Untuk Belangian, kemampuan bahasa Inggris masyarakat harus diupgrade. Perintah gubernur segera jalin kerjasama universitas” tambah Hanif.

Sangat disesalkan Hanif, bahwa Kalimantan Selatan masih belum termasuk 10 destinasi wisata nasional. Inilah yang jadi pertanyaan sekaligus tugas provinsi. Apalagi mengingat Kalsel mempunyai keunggulan destinasi wisata melebihi provinsi lain. Sebagai Kadishut, ia tentu tidak bisa melakukan apapun selain menciptakan dan memperbaiki venue destinasi wisata. Sebab untuk hal destinasi wisata merupakan bagian Dinas Pariwisata.

Ia juga mengatakan bahwa akan terus menambah infrastruktur yang sesuai karakter alam sehingga tidak ada perubahan dramatis. “Misalnya di lokasi yang ada sumber air panas, ada gedung gedung tinggi. Tidak cocok. Kita seminimal mungkin merubah bentang alam. Tidak bisa, dikatakan, kita tabrak dengan aspal yang lebar, itu mengganggu destinasi wisata” jelasnya.

Selain itu ia juga ingin agar akses menuju tempat tempat pariwisata tidak menimbulkan polusi. Sehingga ke depan pihaknya akan mewajibkan agara menggunakan mode angkutan tenaga listrik bukan bahan bakar minyak yang bersumber dari fosil, sehingga polusi mampu diminamlisir.

Sebelumnya,  Wiwiek Setyowati Firman berharap, Provinsi Kalsel bisa serius dalam mengambil kesempatan untuk menjadi sentral ekowisara atau ekoturisme di wilayah Kalimantan. Ekowisata atau ekoturisme sendiri merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

“Kalsel ini sangat banyak sekali objek pariwisatanya yang alami dan sangat cocok bila menjadi sentral Ekowisata di Kalimantan. Hal tersebut saya pikir bisa menjadi peluang jika digarap dengan serius,” tegasnya.

Dikatakannya, negara di wilayah Eropa Utara sangatlah gemar mengunjungi objek wisata yanh alami dan berwawasan lingkungan tersebut. Bahkan pihaknya mengaku siap untuk ikut membantu mempromosikannya, khususnya di negara Finlandia dan Estonia.

“Dalam beberapa hari kunjungan di Kalsel, kita sudah keliling berbagai wisata andalanya. Baik itu Lok Baintan, Kiram, Pulau Bakut dan terbaru wisata penggosokan Intan. Kami meyakini semua wisata tadi bisa menjadi magnet bagi para turis internasional jika bisa dipromosikan dan dibenahi dengan baik lagi kedepannya,” tambahnya.

Wiwiek menjelaskan, upaya mempromosikan Kalsel ini dalam rangka untuk mengobati kerinduan masyarakat Finlandia dan Estonia yang sebelumnya berpartisipasi dalam festival wisata di Nordik yang diikuti 85 negara. Dimana ketika itu, Kalsel menyabet juara ketiga dengan menampilkan maskotnya yaitu Bekantan.

“Waktu itu sambutan masyarakat sangat bagus, sampai-sampai dipanggung utama tidak dapat menampung antusias masyarakat untuk menonton tarian, musik panting dan bahkan tampilan maskot bekantan yang sebelumnya tidak pernah tampil di Finlandia, Estonia dan kawasan Nordik,”  katanya.

Lanjut Wiwiek, rencana untuk berinvestasi di Kalsel sudah terlintas dibenaknya. Hanya saja, hal tersebut akan mengikuti setelah mereka mengenal terlebih dulu potensinya, bidang investasinya, kebijakannya dan lingkungan masyarakatnya. “Semoga dengan kehadiran ini, mereka dapat melihat langsung potensi, dan kebijakan pemerintahan, agar mereka mau berinvestasi di Kalimantan Selatan,” ujarnya. (mario)

Reporter:Mario
Editor:Cell

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->