Connect with us

Teknologi

Indonesia Berpotensi Besar Menjadi Pemain Global di Industri Electric Vehicle

Diterbitkan

pada

Ilustrasi mobil listrik Morris Garage tipe MG 5 EV yang dipamerkan selama pameran otomotif GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2021 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Serpong, Tangerang, Banten, Kamis (11/11/2021). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

KANALKALIMANTAN.COM – Indonesia berpotensi menjadi pemain global di industri kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) karena memiliki kemampuan sumber daya terintegrasi dari hulu ke hilir.

Indonesia kaya dengan biji nikel yang menjadi bahan baku dari pembuatan baterai EV.

Namun membuat baterai EV itu tidak mudah, karena itu IBC bekerjasama dengan mitra konsorsium yakni LG Group dari Korea Selatan dan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dari China.

Saat ini, IBC sudah membuat road map karena butuh 4-5 tahun untuk bisa memproduksi baterai.



 

 

Baca juga: Atlet Putri Tibra Banua Akuatik Banjar Raih Mendali di Time Trial Kejuaraan Renang Junior 2021!

Ada beberapa hal yang akan dilakukan. Di tahap awal adalah mendorong pasar 4 roda, selanjutnya 2 roda.

“Investasi yang kita keluarkan hampir 15,4 triliun dolar AS dan membutuhkan waktu 3 hingga 4 tahun untuk membangun industrinya,” kata Presiden Direktur Indonesia Battery Corporation (IBC) Toto Nugroho, dalam Forum Diskusi Salemba (FDS) yang digelar ILUNI UI secara daring, (20/11).

Ilustrasi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Dia menambahkan, keuntungannya adalah semua sudah terintegrasi jadi satu di Indonesia.

Baca juga: Drama Tujuh Gol Di Artemio Franchi, Milan Dikalahkan Fiorentina 4-3

“Hanya nilai komersialnya yang harus dikejar yang paling optimal dan paling baik untuk Indonesia,” ujarnya.

Forum Diskusi ini menghadirkan para alumni UI yang terlibat dalam industri kendaraan listrik, baik langsung maupun tidak langsung, yaitu Presiden Direktur Indonesia Battery Corporation (IBC) Toto Nugroho, Pengamat Ekonomi FEB UI Toto Pranoto, Director/External Affairs Team Hyundai Motor Asia Pacific Headquarters Tri Wahono Brotosanjoyo dan Pembalap Nasional dan Pemerhati mobil listrik Fitra Eri.

Ketua Umum ILUNI UI Andre Rahadian saat membuka diskusi menekankan pentingnya Indonesia berperan dalam ekosistem industri Electric Vehicle.

Terutama, setelah melihat peran Indonesia mengikuti COP26 dan Presidensi G-20.

Baca juga: Kendaraan Buatan Dalam Negeri Ini Jadi Sorotan ketika Nampang di Mandalika

Banyak yang bisa dilakukan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk besar dan sumber daya yang banyak, tapi juga pengimpor bensin.

“Sehingga, menurut kami sangat penting terciptanya satu ekosistem untuk membangun dan berhasilnya EV di Indonesia,” ujar Andre dalam diskusi.

Dari sudut pandang ekonomi, pengamat ekonomi UI Toto Pranoto mengatakan masyarakat global sudah mulai beralih ke EV.

Dia mencatat secara global data penjualan EV naik 43 persen di tahun 2020 dengan penjualan hingga 3,2 juta unit.

Baca juga: Lagi Dievakuasi dari Banjir, Warga Sekadau Melahirkan di Atas Perahu Karet

Banyak pabrikan dunia sudah menargetkan akan segera masuk ke pasar EV. Norwegia bahkan sudah menargetkan 2025 negaranya sudah 100 persen menggunakan EV.

Kawasan industri di Kawasi, Obi, Halmahera Selatan Maluku Utara, akan produksi baterai mobil listrik, sedang memasuki tahap konstruksi akhir [ANTARA/Abdul Fatah/am

Problemnya di Indonesia, lanjut Pranoto adalah bagaimana mengembangkan manufaktur nasional, sehingga bisa mendorong industri yang menghasilkan produk yang atraktif bagi konsumen dan harga yang kompetitif dengan produk asing.

Selain itu, dukungan insentif dari pemerintah juga penting, soal pemotongan pajak kendaraan, atau insentif non materiil seperti pengecualian nomor ganjil-genap bagi EV.

“Dengan harga yang kompetitif dan dukungan kemudahan lainnya, menjadikan minat masyarakat untuk membelinya akan lebih baik,” kata Pranoto.

Direktur Hyundai Tri Wahono menyambung, masyarakat butuh diedukasi lebih dalam soal EV agar tidak ada resistensi

Bagaimana dampak penggunaan EV terhadap lingkungan dan ekonomi nasional. Hal ini mengingat negara-negara di Asia Tenggara belum ada yang bergerak.

“Kita jadi punya kesempatan untuk menjadi pionir, menjadi pemain utama yang memiliki supply chain yang kuat dari hulu ke hilir,” tegas Tri. (Suara.com)

Editor: suara


iklan

Komentar

Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca

-->