Hilangkan Trauma Pengungsi Lombok yang Ada di Tanah Kalimantan - Kanal Kalimantan
Connect with us

ACT KALSEL

Hilangkan Trauma Pengungsi Lombok yang Ada di Tanah Kalimantan

Diterbitkan

pada

Menghilangkan trauma pengungsi Lombok di Desa Sungai Batang dilakukan ACT Kalsel. Foto : act kalsel

Perempuan itu bernama Nurma, dengan posisi duduk berselonjor, ia menunjukkan bekas operasi di kaki kirinya. Tepat di atas mata kaki, tampak jahitan yang sudah kering. “Waktu gempa terjadi, saya mau lari tapi kaki tertimpa atap seng dan menyebabkan luka besar,” tutur Nurma. Janda berusia 65 tahun itu baru sepekan tiba di Desa Sungai Batang, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Tinggal di rumah sang anak yang bergegas menjemputnya ketika gempa terjadi. Kasih sayang anak terhadap orang tuanya menjadi sebab Nurma sampai ke pulau Kalimantan.

Sepekan sebelumnya, puluhan warga Lombok lainnya telah lebih dulu mengungsi di Desa Sungai Batang. Membawa kisah lain soal sebab jauhnya langkah mereka, salah satunya Lia (38) yang membawa ketiga anaknya dan terpaksa berpisah dengan sang suami.

“Saya ingin menyelamatkan anak-anak. Mereka setiap hari merasa takut dan tidak bisa sekolah. Sementara suami tetap di Lombok menjaga orang tuanya,” kisah Lia kepada ACT Kalsel. Lia bersyukur karena sekarang anak-anaknya sudah mau tertawa dan sekolah lagi.

“Alhamdulillah cuma perlu waktu tiga hari anak-anak sudah kembali ceria,” ucapnya dengan suara bergetar. Meski ada rasa bahagia, tentu kesedihan mendalam juga ia rasa. Harta benda yang tak lagi ada. Terpisah dengan suami tercinta. Hingga nasib kerabat lainnya yang masih berada di Lombok sana.

Gempa yang tak berkesudahan membawa 13 kepala keluarga asal Kecamatan Tigabaya Kabupaten Lombok Timur, NTB itu mengungsi ke Kalimantan. Bukan tanpa perjuangan dan pengorbanan. Nurdin, kepala rombongan pengungsi menceritakan bahwa mereka harus menguras habis tabungan untuk bisa meninggalkan Lombok. “Saya bahkan harus menjual sepeda motor supaya punya biaya ke Kalimantan,” terang Nurdin.




Beruntung, belasan tahun yang lalu Nurdin pernah tinggal di Desa Sungai Batang sebagai warga transmigran, hingga tahun 2004 memutuskan kembali ke Lombok. “Saya dihubungi kerabat di sini (Desa Sungai Batang) dan ditawari untuk mengungsi ke Kalsel,” ucapnya.

Rabu (5/9) kemarin, ACT Kalsel bersama puluhan relawan berkesempatan menyapa para pengungsi. Selain menyampaikan bantuan pangan dan sandang, ACT Kalsel dan para relawan juga menggelar aksi trauma healing. Menggandeng psikolog Hasibah Eka Rosnelly, ACT membuka sesi konseling untuk ibu-ibu. Mereka saling bertukar cerita dan perasaan.

“Biasanya yang sering terlupakan pada masa-masa pasca bencana adalah aspek psikososial, yaitu mengembalikan mental korban ke keadaan tenang kembali,” tutur Hasibah Eka Rosnelly yang kerap disapa Bunda Lily. “Para korban di sini terlihat sudah mulai berkurang traumanya, namun tetap perlu pendampingan untuk beberapa waktu ke depan,” imbuh Bunda Lily yang berencana akan secara rutin mengunjungi para pengungsi.

Keceriaan juga dibangun oleh para relawan dari Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) – ACT Kalsel dan Sahabat Peduli Nusantara (SPN). Mereka bernyanyi dan bermain bersama anak-anak. Bahkan, meski siang mulai terik mereka bermain bola di lapangan tak jauh dari lokasi penampungan. Teriakan dan tawa anak-anak begitu nyaring memecah siang di Desa Sungai Batang.

Branch Manager ACT Kalsel Arie Setiawan menjelaskan, saat ini ACT di Lombok tengah membangun Integrated Community Shelter (ICS) di Lapangan Gondang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Selanjutnya, ACT berencana membangun belasan kompleks ICS serta puluhan fasilitas umum lainnya seperti MCK, masjid, puskesmas, dan sekolah. ICS dibangun sebagai upaya pemulihan pasca bencana.

“Pemulihan Lombok akan memakan waktu panjang, dengan adanya hunian sementara diharapkan kehidupan warga terdampak bisa terjamin meski dalam kondisi terbatas,” ujar Arie. “Kami mengajak warga banua untuk turut serta membangun kembali Lombok. Dengan bergotong-royong tentu setiap masalah menjadi ringan,” pungkasnya. (actkalsel)

Reporter : ACT
Editor : Abi Zarrin Al Ghifari

Bagikan berita ini!
  • 1
    Share
Advertisement

Headline

Trending Selama Sepekan