Connect with us

Bisnis

Hidupkan Transaksi Perbankan di Sungai, BI Kalsel Bawa Uang Rp 2,7 M

Diterbitkan

pada

Kas Keliling Susur Sungai & Sosialisasi Ciri-ciri Keaslian Uang Rupiah yang dilakukan oleh kantor wilayah BI Kalsel. Foto: mario

BANJARMASIN, Uang senilai Rp 2,7 M dalam empat buah box besi yang dikawal ketat oleh pihak kepolisian siap diangkut oleh dua klotok menyusuri Sungai Martapura dari dermaga Siring hingga menuju dermaga Amuntai, Hulu Sungai Utara (HSU). Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Kas Keliling Susur Sungai & Sosialisasi Ciri-ciri Keaslian Uang Rupiah yang dilakukan oleh kantor wilayah BI (Bank Indonesia) Kalsel.

Sudah menjadi tugas BI untuk melakukan tugas yang langsung berdampak ke masyarakat. Kegiatan yang relatif baru di lingkungan BI Kalsel ini mengirim 15 anggotanya termasuk petugas sosialisasi, kasir, dan juga petugas kepolisian. Kegiatan ini juga bertepatan dengan hari lahir BI yang ke-66.

Disampaikan oleh Kepala Kanwil BI Kalsel, Herawanto usai ramadhan lalu peredaran uang relatif meningkat. Sehingga berakibat banyaknya uang yang harus ditarik kembali oleh BI karena lusuh dan tidak layak beredar. Sehingga ia berharap dalam kegiatan ini uang sebesar 2,7 M bisa tertukar seluruhnya dan memenuhi target.

Angka Rp 2,7 miliar sendiri merupakan hasil dari survei pihak BI atas kisaran uang yang diperlukan masyarakat Kalsel di beberapa titik, terutama di pinggir bantaran sungai. “Kita tahu masyarakat Kalsel banyak yang bertransaksi di pinggir sungai. Ini juga merupakan upaya penguatan kultur budaya yang di Kalsel ini berbasi sungai,” jelasnya.

Sebab menurut Herawanto, sumber pertumbuhan baru potensial yang patut dikembagkan di Kalsel adalah pariwisata. Salah satu kekuatan utama pariwisata Kalsel adalah susur sungai.

Tidak hanya itu, selain juga memberi sosialisasi tentang ciri-ciri keaslian uang rupiah, pihaknya juga akan memberikan sosialiasi terkait pembayaran non tunai. Hal ini disebabkan perekonomian Indonesia ke depan sudah harus menuju ekonomi digital dan syarat pembayaran non tunai adalah salah satu syaratnya.

“Kami tahu betul bahwa kultur masyarakat di Kalsel ini sangat berbasi tunai. Kita kenalkan, terus sosialisasikan sistem pembayaran non tunai dengan QR Code dan sebagainya. Ini tidak lain ke depan, pereekonomian Indonesia harus melangkah ke arah non tunai,” tuturnya.

Herawanto berpesan agar para masyakarat sekiranya dapat memperlakukan uang tunai yang baru ditukar kelak dengan baik. Sebab ongkos cetak uang tidaklah murah. “Jadi jangan cepat lusuh dan jadi tidak layak edar. Ini ongkos bagi negara,” pungkas pria berkacamata itu.(mario)

Reporter:Mario
Editor:Cell

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
-->