Connect with us

Kabupaten Barito Kuala

Harapan Panen Padi Musnah, Warga Desa Tabing Rimbah Hidup Prihatin di Pengungsian

Diterbitkan

pada

suasana pengungsian di Desa Tabing Rimbah, Batola Foto: tius
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, MARABAHAN – Musibah banjir dihadapi masyarakat Desa Tabing Rimbah, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala (Batola) dengan cara gotong-royong. Di lokasi pengungsian yang berada di pinggir jalan trans Marabahan-Banjarmasin, masih banyak warga desa setempat tinggal di lokasi tersebut.

Walaupun debit air pada Minggu (24/1/2021) sudah mulai menurun, namun mereka masih belum memungkinkan kembali ke rumahnya. Hal ini karena ketinggian air masih di atas lutut orang dewasa. Diperkirakan masih ada sekitar 200 jiwa yang bertahan.

Budisetiono (52), salah satu warga desa Tabing Rimbah kepada Kanalkalimantan.com mengatakan, sudah mengungsi selama 12 hari . Sebelum bantuan dari relawan datang, warga bertahan hidup secara mandiri dan bergotong royong.

“Sebelumnya ya kita memanfaatkan apa yang ada di sekitar. Seperti memetik pepaya dan memotong sawit untuk makan warga yang mengungsi. Ya termasuk posko dan tempat pengungsian ini pun juga hasil inisiatif dan gotong-royong warga setempat,” ujar pria bekerja sebagai petani tersebut.



Ia mengatakan, musibah banjir ini sangat berdampak bagi warga Desa Tabing Rimbah. Sebab mayoritas bekerja sebagai petani. Kerugian yang dialami bisa terbilang cukup banyak, pasalnya Februari nanti sudah musim panen.

Tapi akibat terendam banjir, padi pun mati semua, ditambah lagi selama banjir ini para petani tidak bekerja, jadi pemasukan pun tidak ada.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Paimin (63). Untungnya, bantuan relawan bisa meringankan kebutuhan hidup warga.

“Ya, walaupun kami masih ada stok padi dari hasil panen tahun kemarin, cuma tempat penggilingannya juga tutup karena banjir, jadi ya belum bisa dimakan juga. Selain itu, air bersih juga menjadi kendala kami di sini,” ujarnya.

Hal sama disampaikan Heri Hardianto (27). Ia mengatakan, terbatasnya luas lokasi pengungsian menyebabkan sebagian warga harus tidur di bak mobil pick up. Jika harinya hujan, terpaksa tidak bisa tidur karena keadaan tempat yang basah tergenang air.

“Di sini juga sebenarnya kita membutuhkan WC umum, karena kasihan untuk pengungsi yang wanita kalau ingin buang air, bingung harus ke mana. Tapi yang pastinya kami semua berharap banjir ini bisa cepat surut, jadi semuanya bisa cepat kembali normal, karena capek juga kalau seperti ini terus,” ujar pria yang biasa disapa Tukil ini. (Kanalkalimantan/Tius)

 

Reporter : Tius
Editor : Cell

 

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kabupaten Barito Kuala

Peringati Milad ke-68, Kerukunan Keluarga Bakumpai Ziarah ke Pendiri

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

KKB mengunjungi makam pendiri alm H Abdussamad Sulaiman HB di Marabahan, Senin (22/2/2021) Foto: ist
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, MARABAHAN – Memperingati milad Kerukunan Keluarga Bakumpai (KKB), Pengurus KKB melakukan ziarah ke pendiri (Alm) H Abdussamad Sulaiman HB di Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Senin (22/2/2021).

Ziarah ini dihadiri Ketua Umum KKB Pusat Yuni Abdi Nur Sulaiman dan Ketua KKB Provinsi Kalimantan Selatan H Bir Ali Rahman.

Dalam sambutannya, Bir Ali Rahman mengatakan ziarah ke pendiri Kerukunan Keluarga Bakumpai ini adalah dalam rangkaian milad ke-68. Acara lainnya adalah kajian Islam bersama Ustadz H Mubarak dan diakhiri sholat hajad.

“Kita mendoakan alm H A Sulaiman HB dan sesepuh KKB yang sudah mendahului kita. Mengingat apa-apa yang sudah dilakukan beliau-beliau. Milad ini diadakan untuk ajang silaturahmi para keluarga Bakumpai,” ujar Bir Ali kepada Kanalkalimantan.com.



 

Sementara itu, Ketua Umum Keluarga Bakumpai Pusat Yuni Abdi Nur Sulaiman kepada wartawan mengungkapkan, apa yang sudah dilakukan ayahanda alm H Abdussaman Sulaiman akan diteruskan.

“Perjuangan beliau membesarkan KKB akan kita teruskan. Sebagai penerus, kita harus melaksanakan amanah Abah,” ujar Yuni.

“Sekarang ini bagaimana keluarga Bakumpai harmonis dan saling mendukung. KKB sebagai wadah silaturahmi. Yang satu mendukung yang lain. Yang perlu bantuan, perlu kiranya yang mampu memberi bantuan,” tegas Yuni merujuk pada kondisi pandemi .

Demikian juga saat banjir kemarin. Kerukunan Keluarga Bakumpai hadir untuk ‘menjinguki’ dan memberi bantuan kepada warga Bakumpai yang kebanjiran.

“Kita membantu pemerintah membangun daerah. Kita sinergi dengan pemerintah dan mendukung program pemerintah,” ujar Yuni Abdi Nur Sulaiman.(Kanalkalimantan.com/ril)

 

Reporter : Ril
Editor : Cell

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Kabupaten Barito Kuala

Ketinggian Air DAS Barito 259 Cm, 5.640 Warga Batola Masih Mengungsi

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Salah satu titik pengungsian banjir di Kabupaten Batola. Foto: Rdy
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, MARABAHAN – Hingga Rabu 17 Februari 2021, masih ada 5.640 pengungsi di Kabupaten Barito Kuala akibat banjir dalam tiga pekan terakhir. Para pengungsi ini tersebar di 14 kecamatan yang ada di Batola.

“Pengungsi terbanyak ada di Kecamatan Rantau Badauh sebanyak 1.565 orang, disusul Kecamatan Mandastana sebanyak 1.499 jiwa hingga Kecamatan Jejangkit 917 jiwa, namun jumlah pengungsi sudah menurun drastis dari jumlah puncaknya hingga mencapai 59 ribu jiwa,” kata Irman Syahahdi, Sekertaris BPBD Batola.

Sementara itu banjir di beberapa kecamatan secara perlahan juga sudah mulai terpantau mengalami penurunan. Berdasarkan monitoring ketinggian DAS Barito ketinggian air berada di 239 cm atau turun 3 cm dari hari Senin 16 Februari kemarin.
“Kian hari banjir sudah mengalami penurunan ketinggian debit air, jika kita pantau di DAS Barito hari ini ketinggian hanya 239 cm saja, berbeda pada puncaknya yang mencapai 259 cm itu terjadi pada 29 Januari lalu,” akunya.

Disisi lain lantaran ketinggian air mengalami penurunan dan jumlah pengungsi sudah berkurang, Posko induk yang sebelumnya ada di Kecamatan Mandastana juga sudah dipindah ke Kecamatan Marabahan. Kendati posko dipindah tempatkan, para relawan masih melaksanakan tugas setiap hari untuk menyalurkan kebutuhan pokok warga yang sekarang masih terdampak banjir seperti di Kecamatan Mandastana dan Jejangkit.



“Posko induk tanggap darurat banjir kita pindah ke Kecamatan Marabahan lantaran banjir sudah terpantau mengalami penurunan, namun demikian kita masiih tetap menyalurkan bantuan dari berbagai elemen masyarakat dan pemerintah daerah hingga sekarang,” tutup Irman. (kanalkalimantan.com/rdy)

 

Reporter : Rdy
Editor : Bie

 

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->