Connect with us

HEADLINE

Golput Masih Membayangi, KPU Kalsel Target 77,5% Partisipasi Pemilih!

Diterbitkan

pada

Kegiatan deklarasi bersama KPU yang berlangsung tadi pagi Foto: mario

BANJARMASIN, Potensi masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya (Golput) pada pemilu 17 April 2019 masih menjadi tugas berat bagi KPU Kalsel. Harapannya, tingkat partisipasi pemilu bisa mencapai 77,5 persen pada pemilu nanti. Terget tersebut bahkan sudah lebih besar dibandingkan capaian pada Pilkada Serentak tahun 2015 yang cuma mencapai 66,34%.

Hal tersebut disampaikan Ketua KPU Kalsel Edy Ariansyah, disela kegiatan deklarasi bersama yang diadakan KPU, Bawaslu, dan jajaran penyelenggara pemilu di Siring Balai Kota, Kamis (10/1 ) pagi. “77,5 persen untuk pemilih provinsi merupakan standar minimal. Kalau bisa sih ya harus 100 persen” ungkapnya.

Target tersebut menurut Edy dirasakan cukup realistis. Mengingat saat ini, rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap hasil perbaikan kedua (DPTH-2) yang disahkan dalam rapat pleno KPU Provinsi Kalsel 11 Desember lalu, mencatat ada 2.869.166 jumlah pemilih di seluruh kabupaten/kota. Dengan jumlah laki-laki 1.436.959 orang dan perempuan 1.432.207 orang.

Sebagai data pembanding, partisipasi pemilih provinsi Kalsel pada pilkada sertentak tahun 2015 lalu tercatat sebanyak  2.897.057 pemilih dengan laki-laki 1.454.713 pemilih dan perempuan 1.442.344 pemilih.  Namun, masyarakat yang menggunakan hak pilihnya ketika itu sebanyak 1.921.946 orang, yang berarti 975.111 orang di Kalsel tidak menggunakan hak suaranya. “Hanya 66,34 persen masyarakat yang menggunakan hak pilihnya dengan jumlah laki-laki 940.402 pemilih dan perempuan dengan 981.554 pemilih,” terangnya.

Edi mengatakan, yang harus dipahami adalah memilih merupakan hak bagi masyarakat. Bukan kewajiban. Namun demikian, melihat waktu pemilu yang semakin dekat, pihaknya terus menggenjot sosialisasi kepada masyarakat. “Di antaranya melalui rumah pintar pemilu, dan juga kita membuat RELASI (Relawan Demokrai). Semua pemilih dan masyarakat kita himpun,” ungkap Edy.

Langkah tersebut diakukan tentunya untuk meningkatkan pemahaman tentang demokrasi dan pemilu. Termasuk meningkatkan partisipasi pemilih, membangun kepercayaan publik, dan sebagai bentuk kontrol agenda publik  terhadap penyelenggaraan pemilu. Sehingga rangkaian-rangkaian diselenggarakan, dibangun, dan dihidupkan bersama secara demokrasi dengan masyarakat.

“Jumlah persentase harapan ini merupakan yang paling tinggi dari sebelumnya. Oleh karena itu RELASI tadi sangat ia harapkan agar semakin tinggi  kesadaran politik masyarakat, sehingga semakin tinggi  pula partisipasi pemilihnya,” harapnya.

Sementara berdasarkan survei teranyar Indikator Politik Indonesia, jumlah pemilih yang memutuskan golput mencapai 1,1%. Meski belum signifikan, angka ini meningkat 0,2% dibandingkan hasil survei Oktober 2018 sebesar 0,9%.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan, potensi masyarakat yang golput ke depannya paling sedikit mencapai 20%. Angka ini didapatkan dari jumlah orang yang telah memutuskan golput ditambah mereka yang belum menentukan pilihan (undecided voters).

Survei Indikator mencatat jumlah undecided voters saat ini mencapai 9,2%. Angka ini juga diperkirakan bertambah dari kontribusi massa yang masih bisa berubah pilihan (swing voters) sekitar 14%. “Potensinya minimal ya 20-an persen pemilih golput, minimal kalau berkaca dari pengalaman sebelumnya,” kata Burhanuddin di kantornya, Jakarta, Selasa (8/1).

Angka golput berpotensi meningkat karena masih ada masyarakat yang menilai pemilu tidak terlalu punya dampak ke kehidupan mereka. Banyak dari mereka pun bersifat apatis sehingga lebih memilih memanfaatkan waktu pemungutan suara untuk berlibur ketimbang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Pemilih Tambahan

Sementara itu, komisioner KPU Kalsel H Nur Zazin menyampaikan dari hasil rapat pleno rekapitulasi DPTB pada 28 Desember 2018, total pemilih tambahan di Kalsel mencapai 1.283 orang. Dari jumlah tersebut, penambahan terbanyak ada di Kabupaten Tabalong mencapai 307 orang. Disusul Tanah Laut sebanyak 252 orang, Hulu Sungai Tengah (HST) sebanyak 227 orang, Hulu Sungai Selatan (HSS) 183 orang, dan Banjarbaru sebanyak 132 orang.

Sementara penambahan pemilih di Batola sebanyak 86 orang, Banjar 45 orang, Tapin 31 orang, Hulu Sungai Utara (HSU) 18 orang.  Sedangkan untuk Tanah Bumbu dan Balangan hanya ada satu tambahan jumlah pemilih. Untuk Banjarmasin dan Kotabaru tak ada pemilih tambahan.

Selain itu, KPU Kalsel juga mendata adanya pemilih khusus sebanyak 970 orang, terbanyak berada di Kabupaten Banjar 753 orang. Sisanya, jumlah pemilih khusus tersebar di beberapa kota dan kabupaten, minus Tanah Laut, Banjarmasin, dan Barito Kuala.

Dalam UU Pemilu menyebutkan berbagai macam pemilih DPTB, seperti pindah memilih karena menjalankan tugas pemerintahan di tempat lain, tengah menjalani rawat inap di rumah sakit atau keluarga yang mendampingi, penyandang disabilitas dip anti sosial, menjalani rehabilitasi narkoba, tahanan, pindah domisili, dan korban bencana.(mario)

Reporter: Mario
Editor: Chell

Bagikan berita ini!
  • 2
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    2
    Shares
-->