Connect with us

Budaya

Ekosistem Musik Tradisi Kalsel Memprihatinkan

Diterbitkan

pada

Direktur FMTI Kalsel, Novyandi Saputra saat menjadi pembicara dalam Dialog Etnomusikologi di Taman Budaya Kalsel. Foto: fahmi

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Direktur Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) Kalimantan Selatan (Kalsel), Novyandi Saputra mengatakan kondisi ekosistem musik tradisi di Kalsel masih memprhatinkan.

Hal itu disampaikan saat menjadi pembicara dalam dialog etnomusikologi yang digelar UPTD Taman Budaya Kalsel, Selasa (19/8/2025).

“Misalnya di FMTI itu hanya 10 yang mendaftar dari 18 yang kita data. Yang kita takutkan adalah apakah mereka akan jadi komponis atau kelompok musik yang bertahan atau musiman saja,” ucap Novy.

Baca juga: Tiga Tenant di MPP Banjarbaru Hanya Sampai Pukul 13.00, Ini Kendalanya

Tak hanya itu, jumlah kelompok musik etnik maupun para komposernya di Kalsel masih bisa dihitung jari saking sedikitnya.

“Bisa dicek berapa kelompok musik di Kalsel benar-benar sedikit, dan komponisnya pun cuma ada empat sekarang yang tercatat,” jelas Novy.

Menurut Novy, hal itu disebabkan para musisi tradisi di Kalsel lebih sering menjadi pengiring saja bukan menjadi penampil utama.

Baca juga: Truk Rebutan Antrean Solar di SPBU Cempaka, Polisi Ringkus Lelaki Bawa Sajam

“Tidak ada forumnya, kita lihat ada aruh teater, aruh sastra, aruh film, aruh seni rupa, festival karya tari daerah. Sedangkan musik gak ada perayaan besarnya,” ungkapnya.

Alhasil, musisi tradisi di Kalsel tidak mempunyai ruang untuk saling bertemu dan mengekspresikan karya mereka dalam bidang musik.

“Itu yang membentuk mereka terbiasa di balik layar, bukan sebagai front liner sehingga mempengaruhi cara mementaskan dan menggarap karyanya,” tambah Novy.

Baca juga: Danrem 101/Antasari Tutup TMMD Ke-125 di Kabupatem Banjar

Oleh sebab itu, FMTI Kalsel memberikan solusi dalam 3 programnya yang diberi nama hulu, hilir, dan muara. Hulu fokus dalam peningkatan kualitas SDM, hilir fokus dalam pementasan, sementara muara fokus dalam merealisasikan karya musik tradisi dalam bentuk platform digital seperti Spotify maupun Youtube.

“Karena sungai Banjar ini pasang surut kan maka dia akan kembali. Jadi apa yang ada di muara akan kembali ke hulu, itulah kenapa FMTI Kalsel menggunakan fase hulu, hilir, dan muara dalam programnya,” tutur Novy.

Pihaknya mendorong generasi muda yang berkutat di bidang musik tradisi untuk berani berkarya tanpa memikirkan pandangan negatif dari orang lain.

Baca juga: Doa Bersama RQ Miftahul Jannah di Hari Arba Mustamir

“Mulai saja jangan banyak ketakutan alasan ini itu. Bikin saja karyanya karena tidak ada karya yang jelek dan tidak ada karya yang benar-benar bagus, semuanya dibentuk persepsi maka yakini dan buat terus,” imbuh Novy.

Dengan demikian, FMTI Kalsel berkomitmen untuk terus menjaga dan melestarikan musik tradisi di Kalsel agar bisa bersaing baik di tingkat lokal, nasional, bahkan internasional. (Kanalkalimantan.com/fahmi)

Reporter: fahmi
Editor: bie


iklan

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca