Celengan Gerabah, “ATM” Warga Desa Panggung yang Beromzet Puluhan Juta Rupiah - Kanal Kalimantan
Connect with us

Kab. HST

Celengan Gerabah, “ATM” Warga Desa Panggung yang Beromzet Puluhan Juta Rupiah

Diterbitkan

pada

Berbagai jenis celengan gerabah yang banyak dijual pengerajin di Desa Panggung, Kecamatan Haruyan, Hulu Sungai Tengah (HST). Foto : rendy

BARABAI, Sudah lima tahun Ali (31), warga Desa Panggung, Kecamatan Haruyan, Hulu Sungai Tengah (HST) ini bergulat dengan tanah. Tangan-tangannya yang cekatan, lincah mencetak olahan tanah itu menjadi celengan berbagai bentuk menarik. Mulai dari wujud buah-buahan, hingga figur tokoh kartun lucu seperti Doraemon, Poo, Kungfu Panda, Pokemon, dan lainnya.

Di lapaknya yang digelar di pinggir jalan Ahmad Yani, Desa Panggung, Ali memajang berbagai karya celengan gerabah miliknya. Tak hanya itu, sejumlah kerajinan lain juga dia pajang seperti kuda kayu, mobil kayu, sapu ijuk, dan mainan alat masak anak. Dan, seolah tak mau kalah bersaing dengan toko-toko modern, lapak pinggir jalan miliknya ini juga buka selama 24 jam!

Kepada Kanalkalimantan.com, Ali mengisahkan dagangannya itu dirintis dengan modal awal sebesar Rp 800 ribu. Berkat ketekunan serta kreatifitasnya, kini omzet penjualnnya naik pesat sedari 3 tahun yang lalu.

“Normal hari-hari biasa bisa memperoleh Rp 500 ribu perhari. Namun jika menjelang dan hari raya idulfitri dapat mencapai Rp 20 juta rupiah omzet perharinya,” ujarnya.

Soal harga celengan gerabah yang ditawarkan, Ali mematok berdasarkan ukuran dan tingkat kesulitan pembuatannya. Untuk harga yang kecil dan sederhana, ia memasang harga antara Rp 10-50 ribu. Namun untuk ukuran paling besar serta tingkat kesulitan tinggi dalam pembuatan, dia membanderol dengan harga Rp 700 ribu.

“Dalam sehari saya dapat memproduksi  15 buah kerajinan tangan celengan gerabah dengan ukuran yang sedang. Gerabah ini tidak langsung selesai, butuh sekitar setengah bulan lagi untuk siap di pasarkan karena harus melalui proses pengeringan, pembakaran, serta pewarnaan. Apa lagi sekarang musim hujan, prosesnya sering terhambat agak lamban bisa sampai sebulan baru siap di jual,” jelasnya.

Di sisi lain, Mukhtar (28), seorang pembeli yang mampir di lapak milik Ali mengatakan tertarik dengan kerajinan yan dijual. “Barang kerajinan dari tanah menjadi unik, di tengah banyaknya barang plastik yang membanjir di pasar. Mungkin ini (celengan gerabah, red) akan saya pajang dan simpan,” katanya.(rendy)

Foto : rendy

 

Reporter : Rendy
Editor : Chella

Bagikan berita ini!
  • 1
    Share
Advertisement

Headline

Trending Selama Sepekan